Oleh : Abu Hamzah ibn Qomari & Abu Rofi’ ibn Awi
Muqaddimah
Sebagaimana pada pembahasan haji pada edisi yang lalu, kita mengetahui bahwa haji adalah ibadah yang sangat agung, simbol kesatuan umat dalam bertauhid dan dalam ketaatannya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Juga ibadah haji adalah ibadah yang sangat berat, memerlukan kekuatan iman, kesabaran, kedalaman ilmu tentang haji, persiapan fisik, mental, dan finansial. Oleh karena itu, janji Allah kepada para jama’ah haji yang lulus dalam menunaikannya secara benar dan sempurna adalah sorga.
Ibadah haji adalah ibadah yang sangat indah mempesona, dapat mengukuhkan iman, menumbuhkan semangat jihad, dan mengukuhkan rasa izzah dalam diri setiap muslim, serta menggetarkan dada orang-orang kafir. Akan tetapi dalam kenyataannya, banyak makna kebaikan yang terkandung dalam haji hilang dari pandangan. Justru dengan melihat fakta para haji di lapangan, kita semakin yakin bahwa semua kerendahan dan kehinaan umatIslam ini adalah dikarenakan dosa-dosa umat Islam dan kebodohan serta jauhnya dari ajaran Islam yang hanif.
Alhamdulillah, pada musim haji tahun 1426 ini Allah memberi kesempatan kepada kru majalah Qiblati untuk bergabung dengan Hai’ah Amar Ma’ruf Nahi Munkar Kerajaan Saudi Arabia dalam memberikan penyuluhan, bimbingan, dan arahan kepada para jama’ah haji yang datang berziarah ke situs-situs bersejarah tertentu agar mereka selamat dari melakukan kesalahan di tempat-tempat tersebut.
Kami Agus Hasan Bashori bertugas di kuburan Ma’la, sedangkan Moch Syahri bertugas di Maktabah Makkah Mukarramah, sementara saudara kami Ust Jamil Santosa bertugas di Jabal Rahmah Arafah.

Mengenal 3 Tempat Bersejarah
a. Kuburan al-Ma’la
Kuburan ini terletak di bagian timur laut dari Kota Makkah. Orang menyebutnya dengan al-Mu’allah atau al-Ma’la, tetapi yang benar adalah yang kedua. Kuburan ini merupakan tanah lapang yang diapit oleh pegunungan dari arah utara dan dari arah barat. Sejarah kuburan ini kembali kepada masa jahiliyah. Di dalamnya ada kuburan Sayyidah Khadijah, istri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ummul mukminin Radhiallahu ‘Anha, juga ada kuburan Abdullah Ibn Zubair beserta ibunya, Asma binti Abi Bakar Radhiallahu ‘Anha.
Di dalamnya juga terdapat kuburan Bani Hasyim dari kakek-kakek Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, juga banyak dari para sahabat dan para tabi’in. Kuburan ini tepatnya terletak di daerah al-Hajun yang berdekatan dengan Masjid Jin, 600 m dari Majidil Haram.
Tentang kuruban ini, Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhu menceritakan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:
نِعْمَ الْمَقْبَرَةُ هَذِهِ
“Sebaik-baik kuburan adalah kuburan ini.”[1]
b. Maktabah Makkah al-Mukarramah
Maktabah (perpustakaan) ini terletak di Syi’ib Bani Hasyim, di daerah Suuq al-Lail (pasar malam) di jalan al-Malik. Konon di situlah tempat lahirnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rumah dan gedung lama yang ada disitu telah dihancurkan dan sebagai gantinya As-Syaikh ‘Abbas Qaththan (salah seorang terkemuka dari Makkah) membangun gedung baru dan menjadikannya sebagai perpustakaan umum dan diwaqafkan untuk umat Islam di bawah pengawasan Departemen Haji dan Waqaf.
c. Jabal Rahmah di ‘Arafah
Arafah adalah lembah yang sangat luas, berjarak 25 km dari kota Makkah dengan ketinggian 750 kaki dari permukaan laut. Di sebelah utara lembah ini terdapat Jabal Rahmah yang di puncaknya terdapat sebuah tugu. Ada yang mengatakan bahwasannya Adam dan Hawa bertemu di sana, maka hari pertemuan itu disebut dengan Arafah. Sedangkan tempatnya disebut ‘Arafaat. Dan ada pula yang mengatakan bahwa sebab penamaannya adalah bukan itu.

Potret haji yang memilukan
Umat Islam yang menunaikan ibadah haji pada setiap tahunnya selalu meningkat. Jika pada tahun 1415 H / 1994 M jumlah jamaah haji mencapai 2.501.000 jiwa tentu kini lebih besar dari itu. Sebuah angka yang sangat membanggakan. Akan tetapi jika kita menoleh kepada kesalahan-kesalahan fatal yang terjadi di lapangan kita akan merasa pilu, gundah dan sekaligus prihatin terhadap umat Islam yang tidak mendapatkan bimbingan yang cukup dan benar.
Berikut ini adalah fenomena memilukan yang kami potret dari tanggal 20 Dzulqa’dah hingga tanggal 2 Dzulhijjah 1426 H.
Kuburan Ma’lah
Kesalahan pertama yang dilakukan oleh jama’ah haji adalah menyebut kuburan Ma’la dengan istilah Jannatul Ma’lah (Sorga Ma’lah) atau Firdaus al-Ma’lah. Orang-orang yang mempercayai penamaan ini sikapnya berbeda dengan jamaah yang lain. Mereka lebih cenderung melakukan pengkultusan terhadap kuburan atau orang yang di kubur daripada orang lain. Selain ini, ada beberapa kesalahan yang dapat kita sampaikan disini.
1. Banyak orang yang mengambil tanah kuburan atau menulis-nulis diatas tanah kuburan.
2. Banyak orang yang mengusap-usap bagian tembok yang terbuat dari anyaman besi yang mengitari sejumlah makam yang di dalamnya terdapat makam Sayyidah Khadijah Radhiallahu ‘Anha.
3. Ada beberapa orang yang shalat di kuburan atau bahkan shalat di balai-balai tempat duduk, itupun dilakukan dengan tidak menghadap qiblat.
4. Banyak orang yang mengangkat tangan dalam berdo’a menghadap ke makam Sayyidah Khadijah, dan membelakngi Ka’bah. Ketika diingatkan agar menghadap qiblat, banyak diantara mereka mengingkari dan mendebat. Diantara mereka ada yang mengatakan, “Allah itu dimana-mana, jadi berdo’a bisa menghadap mana saja.” Ada juga yang mengatakan, “Ka’bah adalah qiblat shalat, sedangkan qiblat do’a adalah kedua tangan. Kemana saja saya menghadap dalam berdo’a tidak masalah.” Ada pula yang dengan keras mengatakan, “Kamu jangan memaksakan madzhabmu, aku ini adalah seorang ulama, yang tidak perlu kamu ajari.” Dan lain sebagainya.
5. Banyak yang membaca Al-Qur’an di Kuburan. Ketika diberitahu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan tiga hal kepada umatnya ketika berziarah kubur, yaitu mengingat mati dan akhirat, mengucapkan salam kepada ahli kubur dan mendo’akan mereka, mereka menerimanya kecuali orang-orang yang fanatik terhadap satu pemahaman tanpa mempertimbangkan dalil-dalilnya.
Seorang berkewarganegaraan Australia yang hanya bisa berbahasa Inggris mengatakan, “Saya membaca Al-Qur’an untuk diri saya karena Allah bukan untuk orang yang di kuburan. Kita ini manusia bebas seperti manusia yang di Eropa dan Amerika. Tidak boleh melarang-larang orang.” Bahkan yang lebih parah dari itu, seorang India yang terlihat sering berziarah kubur ketika diingatkan dia membantah dengan mengatakan, “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Terangilah kuburan itu dengan membaca Al-Qur’an”.” Karena kami tahu hadits itu palsu, maka kami katakan, “Siapa Pak yang meriwayatkan hadits tersebut?” Dia dengan berani dan spontan menjawab, “Imam Bukhari di jilid kedua?!!.” Kontan saja para jamaahnya manggut-manggut sambil cengengesan merasa bangga, karena gurunya memiliki dasar hadits!!. Kasihan, mereka tidak tahu kalau hadits itu palsu. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, sudah bodoh mendapatkan guru yang tambah membodohkan.
6. Banyak peziarah (terutama dari Iran, dan sedikit dari yang lain) menanyakan di mana kuburan Abu Thalib, Abdul Muthallib, Bani Hasyim, dan Abdi Munaf. Dan banyak dari mereka yang membawa buku do’a dari yang kecil sampai yang setebal al-Quran. Yang isinya adalah do’a ziarah kubur untuk Sayyidah Khadijah, Abu Thalib, dan kakek-kakek Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ketika diingatkan bahwa ziarah kubur yang sunnah cukup dalam waktu singkat tidak perlu membaca do’a setebal al-Qur`an, ada yang menjawab, “Ini penting, karena ada tiga ratus hadits yang memerintahkan kita untuk berziarah kubur.” Kami tahu bahwa yang dimaksud adalah 300 hadits palsu milik syi’ah yang menceritakan tentang keutamaan ziarah kubur para Imam.
Seorang imam Syi’ah dari Iraq ketika kami tanya, “Memangnya Abu Thalib itu siapa?” Dia mengatakan, “Dia seorang muslim dan mukmin, pelindung Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” Ketika kami jelaskan bahwa betul dia membela Rasulullah selama 40 tahun tetapi dia meninggal dengan tidak mau membaca syahadat, sehingga sayyidina Ali Radhiallahu ‘Anhu mengatakan, “Ya Rasulullah, telah meninggal orang tua renta yang sesat di atas kesyirikan.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bersabda, “Pergilah dan kuburkan dia. Jangan melakukan apa-apa sampai kamu menemuiku”. Kami katakan kalau ini adalah riwayat Imam Muslim. Maka Imam Syiah itu mengatakan, “Kalau kamu punya Muslim maka kamipun punya Kulaini. Dia meriwayatkan bahwa Imam Ali itu “Pembagi sorga dan neraka”. Nah, bagaimana mungkin Abu Thalib di neraka, sedang anaknya adalah Qasiimul Jannah (pembagi sorga).”?!! Coba perhatikan ucapan kufur ini. Maka kami katakan, “Aku berlindung kepada Allah dari kesesatan ini. Dan aku berlepas diri kepada Allah darimu. Pergilah”. Maka merekapun pergi.
7. Setiap hari di jalan raya yang melintas di tengah-tengah kuburan al-Ma’lah dapat kita saksikan kelompok-kelompok jamaah haji (didominasi oleh Iran) yang dengan sabar di bawah sengatan terik matahari mengikuti bid’ah-bid’ah menangis dan meratap yang dipimpin oleh seseorang dengan mikrofon.
8. Dan jumlah terbanyak dari peziarah adalah orang-orang yang menonton kuburan, mereka tidak mengetahui sama sekali ajaran Islam tentang ziarah kubur dan ucapan salam kepada ahli kubur. Mereka bertanya mana kuburan sayyidah Khadijah? Kemudian setelah itu cuma melongok-longok sambil menunjuk-nunjuk dan ngobrol ngalor ngidul. Dan alhamdulillah yang meringankan hal ini adalah dilarangnya wanita masuk kedalam kuburan.
Demikianlah gambaran singkat tentang kesalahan dan kebodohan para jamaah haji yang ada di kuburan Ma’lah.
Maktabah Makkah al-Mukarramah
Pada dasarnya perpustakaan Makkah al-Mukarramah adalah tempat untuk membaca, sehingga seharusnya pengunjungnya adalah para penuntut ilmu disaat perpustakaan dibuka. Dan kalaupun benar di situ adalah tempat kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka tidak ada ajaran sedikitpun dalam syariat ini yang menganjurkan untuk menziarahinya dan tidak ada satupun dari para sahabat dan ulama yang melakukannya.
Akan tetapi kenyataannya, banyak di antara para jama’ah haji yang berziarah ke tempat ini dengan berbagai keyakinan, maksud dan tujuan yang berbeda-beda. Tak ayal lagi terjadilah berbagai kesalahan-kesalahan dan bid’ah-bid’ah hingga yang berbau kesyirikan..
Sebagian mereka berusaha untuk melakukan shalat dua rakaat di tempat ini dengan alasan ingin shalat di tempat di mana Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dilahirkan, padahal itu tidaklah disyariatkan. Bahkan di antara mereka ada yang hendak shalat dengan membelakangi Qiblat dan menghadap ke perpustakaan ini. Ini jelas sebuah kebodohan. Karena Masjidil Haram sudah ada di depan mata mereka, dan satu rakaat di dalamnya setara dengan 100.000 rakaat di masjid-masjid yang lainnya akan tetapi mereka malah memilih shalat di tempat yang tidak ada petunjuknya sama sekali.
Sebagiannya lagi datang beramai-ramai atau sendirian lalu bershalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berdoa secara khusus di tempat ini. Ini juga sebuah kesalahan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah memerintahkan umatnya untuk mengkhususkan bershalawat kepada beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berdo’a di tempat ini  (meskipun seandainya benar kalau perpustakaan tersebut dulunya adalah rumah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam).
Ada lagi yang datang kemudian berebut mengusap serta menciumi tembok dan pintu maktabah untuk mendapatkan berkah dan pahala. Lagi-lagi ini adalah sebuah kejahiliyahan. Kalau memang mereka menginginkan berkah dan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mengusap dinding, seharusnya mereka berebut mengusap rukun Yamani atau Multazam. Jika menginginkan pahala dengan mencium batu, seharusnya mereka berebut untuk mencium hajar aswad. Bukan datang ke maktabah ini lalu melakukan apa-apa yang Rasul dan para sahabatnya tidak pernah memerintahkan dan mencontohkannya.
Kebodohan yang lainnya, banyak di antara jama’ah yang berusaha membubuhkan namanya, nama anaknya, nama temannya atau nama orang yang minta dituliskan namanya di dinding maktabah. Ini mereka lakukan dengan berbagai keyakinan yang tidak masuk akal dan cukup menggelikan. Yang lama tidak punya anak, biar punya anak. Yang belum haji biar cepat haji dan lain sebagainya.
Dan yang lebih mengherankan lagi, adanya sebagian orang yang menaburkan biji gandum di atas tembok bagian bawah dinding maktabah dengan tujuan memberi makan burung merpati sekaligus mencari berkah. Maka tidak mengherankan jika ada burung-burung merpati yang hinggap di sana lalu memakannya dan membuang kotoran disana. Anehnya, kemudian datang orang-orang yang berusaha mengumpulkan biji-biji gandum yang telah bercampur dengan kotoran burung dan kotoran yang lainnya tersebut kemudian menyimpannya (mungkin sebagai jimat). Dan yang lebih aneh ada diantara mereka yang langsung memakannya mentah-mentah?!!
Pernah para petugas dari Haiah Amar Makruf sengaja meninggalkan sebentar perpustakaan itu dari penjagaan. Hasilnya seperti apa? Manusia laki dan perempuan berhamburan berebut mengusap-usap pintu dan tembok. Astaghfirullah!
Jabal Rahmah
Jabal Rahmah adalah bagian dari Arafat tempat wuquf para jamah haji pada tanggal 9 Dzulhijjah. Pada saat itulah disunnahkan bagi jamaah haji untuk memperbanyak doa di sana atau di bagian arafah yang lain. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah”
Namun kenyataannya jabal rahmah kini menjadi saksi atas kebodohan umat ini. Di bulan Dzulqa’dah dan awal Dzulhijjah para jamaah haji sudah banyak yang berkunjung ke sana bukan sekedar ingin tahu, tetapi melakukan hal-hal yang memalukan. Hal yang bertentangan dengan akal sehat dan syariat yang suci. Mereka melakukan hal-hal berikut:
  • Berdoa dengan menghadap ke tugu
  • Berdoa sambil bergandengan atau berangkulan antar pasangan, apakah antara pasangan muda atau pasangan tua. Mereka memohon cinta dan rumah tangga yang abadi. Entah apa yang ada di benak mereka. Mungkin mereka menganggap Jabal Rahmah adalah gunung cinta atau kasih sayang atau asmara! Memang kelihatan dan kedengaran asyik dan mesra, tetapi tidak begitu Islam mengajarkan. Intinya hanya orang yang tidak memiliki ilmu yang melakukan itu.
  • Shalat dua rakaat menghadap tugu
  • Membuang uang
  • Membuang foto, jika foto anak maka itu artinya agar anak itu menjadi shaleh. Jika foto remaja itu artinya supaya cepat punya pasangan, supaya segera punya anak, supaya pernikahannya langgeng. Jika foto orang tua maka motivasinya adalah supaya bisa berangkat haji pada waktu yang akan datang. Bahkan ada yang membuang foto muda-mudi yang dilipat satu sama lain, seolah-olah maksudnya supaya mereka dijodohkan. Dan yang memprihatinkan ini fotonya bangsa kita Indonesia.
  • Membuang amplop titipan tetangga jamaah haji agar bisa haji
  • Mencoret-coret nama di tugu atau di sekitar Jabal Rahmah dengan harapan hampir sama dengan saat membuang foto tersebut. Banyak yang sudah menyiapkan spidol dari rumah, tidak ketinggalan jamaah Indonesia.
  • Berebut mengusap tugu, terutama di akhir Dzulqa’dah dan awal Dzulhijjah. Entah apa motivasinya, yang jelas di hari-hari ini jumlah mereka melonjak tinggi.
  • Membuang KTP, baik yang sudah habis masanya atau yang masih aktif, lagi-lagi KTP Indonesia.
  • Ada juga sekelompok jamaah haji Nigeria yang melakukan tarian ritulal sebagai tanda syukur atas sampinya mereka di tempat tersebut. Mereka menari-nari, bertepuk, bersiul, mengeluarkan suara-suara aneh, “Hu hu hu hu” sambil memeragakan gerakan-gerakan mematuk-matuk dengan tangannya. Dan lain sebagainya. Pokoknya lucu, geli sekaligus memalukan orang muslim.
Demikianlah pembaca yang mulia sebagian potret haji kita. Hal serupa atau yang lebih parah dapat ditemui di tempat-tempat lain yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji seperti Jabal Nur, Gua Hira’ dan Gua Tsur. Sedangkan di Madinah seperti kuburan Baqi’, kuburan Uhud dan masjid-masjid di al-Khandak.
Bahkan dalam Masjidil Haram sendiri tidak luput dari kebodohan-kebodohan jamaah haji. Ambil contoh misalnya mafia “mencium hajar aswad”. Untuk dapat mencium hajar aswad banyak jamaah haji wanita indonesia yang terjebak bujuk rayu mafia. Ada satu orang atau lebih yang keliling untuk mencari mangsa -biasanya wanita, atau orang yang tidak berpengalaman-, sedang temannya siap berjaga di dekat hajar aswad. Jika sudah dapat mangsa maka ia bergerak mengawalnya. Supaya tidak lepas dari kawalannya maka si wanita yang malang itu disuruh merangkulnya dari belakang hingga sampai hajar aswad. Atau mungkin pula si wanita di depan. Pokoknya mirip seperti dengan mahram atau suaminya. Setelah berhasil mencium hajar aswad wanita itu harus membayar jasa sesuai dengan kesepakatan. Ada yang membayar antara 30 Riyal hingga 50-an.
Coba bayangkan, banyak jamaah haji kita yang tidak mampu melakukan perhitungan untung rugi dalam perdagangan akhirat. Kalau mereka belajar tentu akan tahu bahwa mencium hajar aswad adalah sunnah, berebut karenanya adalah makruh, bergandeng dengan laki-laki yang bukan mahram adalah haram, mengeluarkan 30-50 Riyal untuk meraih pahala sunnah yang belum pasti, dengan mendapatkan dosa haram yang pasti, adalah kerugian besar.
Salah satu hikmah dari semua cerita tadi adalah haji itu tidak cukup hanya bermodalkan semangat dan niat yang baik, tetapi wajib berbekal ilmu dan ketakwaan. Kesalahan-kesalahan yang fatal dan menumpuk tadi juga menjadi indikator bahwa umat ini sangat membutuhkan hadirnya dakwah salafiyah di tengah-tengah mereka.

Makkah, 3  Dzulhijjah 1425 H
3   Januari   2006  M
(Majalah Qiblati Tahun I Ed. 6)

[1] HR. Ahmad (1/367), al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Bazzar di dalamnya terdapat Ibrahim bin Abi Khaddasy, Ibnu Juraij dan Ibnu ‘Uyainah meriwayatkan hadits daripadanya sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Hatim. Ia tidak di dha’ifkan oleh siapapun dan seluruh perawinya adalah perawi shahih.” Lihat Majma’ Zawaid (3/298).

0 komentar:

Poskan Komentar

top