MUKADIMAH

Blog yang sangat sederhana ini berusaha mengingatkan kita semua untuk mencintai Al Qur’an dengan sebenar-benarnya (membaca, mempelajari dan mengamalkan secara sungguh-sungguh).
Banyak ayat-ayat Al Qur’an dan Hadits Nabi yang menekankan kewajiban kita semua muslim untuk “mencintai Al Qur’an” :

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang ada tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri atau duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka'' (Ali 'Imran: 190-191).




Bukhari meriwayatkan dalam kitab sahihnya dari Utsman r.a. bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda:
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya".
Rasulullah SAW bersabda: "Siapa yang membaca Al Quran, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari Kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini: dijawab: "karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Quran".
Hadits diriwayatkan oleh Al Hakim dan ia menilanya sahih berdasarkan syarat Muslim (1/568), dan disetujui oleh Adz Dzahabi. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (21872) dan Ad Darimi dalam Sunannya (3257).

Mudah-mudahan memberikan manfaat bagi anda, terutama bagi saya sendiri, insya Allah. Amin.


#MAKKAH - Salat Alfajr - Imam Abdullah Aljuhani




Syaikh ‘Abdullah bin ‘Awad al-Juhani

Beliau lahir pada 1396 H di Madinah. Beliau belajar di Fakultas al-Qur’anul Karim di Jami’ah Islamiyah.
Beliau termasuk yang dimuliakan oleh Allah ta’ala sebagai imam dari keempat masjid yang memiliki kedudukan terbesar di hati kaum Muslimin, yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjid Quba’ dan Masjid Qiblatain. Pada usia 16 tahun beliau telah mengikuti lomba hafal Qur’an di Makkah dan memperoleh peringkat pertama.
Dalam hal membaca al-Qur’an beliau telah diijazahi oleh para ulama Qiraah yang bertaraf Internasional yang terkenal di antaranya adalah: Syaikh az-Ziyat j , Syaikh Ibrahim al-Akhdhor Ulama ahli Qur’an di Masjidil Haram, dan DR. ‘Ali al-Khudzaifi, Imam Masjid Nabawi di Madinah.

20th April 2018 Makkah Maghrib Sheikh Ghamdi & Tafsir Surat Ath Thariq




Tafsir Surat Ath-thariq (yang Datang Di Malam Hari)

Allah SWT berfirman,

TAFSIR
1. Allah SWT bersumpah demi langit dan demi sesuatu yang datang mengetuk langit di malam hari.
2. Kemudian Allah bertanya untuk menggugah rasa ingin tahu, ‘Tahukah engkau apa yang datang mengetuk langit di malam hari itu.?’
3. Dijawab-Nya, bahwa dialah bintang terang yang cahayanya menembus cakrawala langit sehingga terlihat dari bumi.
4. Yang menjadi objek sumpah Allah di atas, bahwa setiap orang pasti ada malaikat yang diserahi untuk menjaganya, dan mencatat amal perbuatannya, yang baik maupun yang buruk. Untuk kelak dibalas atas perbuatannya itu.
5. Kemudian Allah mengingatkan, hendaknya manusia mencermati awal kejadian dirinya.
6. Sebenarnya ia diciptakan dari air yang terpancar. Yang dimaksud di sini adalah air sperma laki-laki yang tertuang dengan begitu cepatnya ke dalam rahim.
7/ Adapun tempat keluarnya adalah bagian tubuh antara Sulbi dan Tara`ih laki-laki. Sulbi ini berada di tulang punggung, sedangkan Tara`ihberada di dada bagian atas laki-laki, tepatnya pada tempat kalung bagi perempuan.
8. Rabb yang menjadikan manusia dari air yang terpancar dari sebuah tempat yang amat sulit ini. Dia Maha Kuasa untuk mengembalikan manusia dengan dibangkitkan lagi dan dikumpulkan untuk dibalas atas amal perbuatannya di hari Kiamat.
9. Oleh karenanya, Allah SWT berfirman setelahnya, yaitu suatu hari akan diuji rahasia-rahasia yang tersembunyi dalam dada manusia, dan akan nampaklah senjata isi hati, yang baik maupun yang buruk, pada wajah-wajah mereka.
10. Pada saat itu manusia tidak memiliki kekuatan untuk membela diri dan tak seorang pun yang akan membela dia.
11. Untuk kedua kalinya, Allah SWT bersumpah untuk menunjukkan kebenaran al-Qur`an. Allah berfirman, Aku b ersumpah demi langit, tempat asal turunnya air hujan, dan hal itu terjadi berulang-ulang secara terus-menerus.
12. Aku pun bersumpah demi bumi yang darinya muncul tumbuh-tumbuhan, lalu dari tumbuh-tumbuhan itulah manusia dan binatang dapat hidup.
13. Sesungguhnya al-Qur`an ini membedakan antara yang hak dan yang batil, antara orang yang bertakwa dan orang yang zalim, dan dengan al-Qur`an ini akan terselesaikan semua pertikaian.
14. al-Qur`an bersikap tegas, tidak main-main atau omong kosong.
15. Sesungguhnya orang yang mendustakan Rasulullah SAW dan al-Qur`an, mereka akan berusaha membuat rekayasa dan tipu daya dengan tujuan agar mereka dapat mengalahkan kebenaran dan mendukung kebatilan.
16. Sedangkan Allah yang akan merekayasa untuk meninggikan kebenaran dan mencegah kebatilan yang mereka usahakan itu. Setiap orang akan tahu, dalam hal ini, siapa yang akan menang, sebab kemampuan manusia sangatlah lemah dan hina di hadapan Yang Maha Kuat dan Maha Tahu akan rekayasa.
17. Lalu Allah berfirman, biarkan saja mereka itu, hai Muhammad, tunggulah beberapa waktu dan bersabarlah, kelak mereka akan tahu akibat perbuatan mereka itu, yaitu tatkala turun siksa kepada mereka.
(SUMBER: at-Tafsir al-Yasir karya Yusuf bin Muhammad al-Owaid)

KAIDAH MEMAHAMI AL QUR’AN KE 2 : KEUMUMAN LAFADZ BUKAN KEKHUSUSAN SEBAB…




Kaidah-kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.

Kaidah ke 2 :

Yang dilihat adalah keumuman lafadz bukan kekhususan sebab.

Syaikh Abdurrahman As Sa’diy berkata:
“Ini adalah kaidah yang amat bermanfaat. Dengan memperhatikan kaidah ini, seorang hamba akan meraih baik ilmu dan kebaikan. Dan melalaikannya menyebabkan terluput darimilmu yang banyak bahkan akan jatuh kepada kesalahan dan kerancuan.
Kaidah ini termasuk kaidah yang disepakati oleh para ahli ushul fiqih dan lainnya.
Maka perkataan para ahli tafsir tentang sebab turunnya ayat hanya sebuah permisalan yang menjelaskan lafadz ayat dan bukan membatasinya pada sebab turunnya saja.
Maka perkataan para ahli tafsir: “Ayat ini turun mengenai ini dan itu.” Artinya bahwa hal itu masuk dalam keumumannya yang diinginkan.
Karena Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk memikirkan dan mentadabburi al quran. Dan bila kita tadabburi lafadz lafadznya yang bersifat umum, kita dapat memahami bahwa maknanya mencakup banyak perkara.”
(Al Qowa’idul Hisan hal 11)
Bisa kita berikan contoh dari kaidah ini misalnya firman Allah:
وعسى أن تكرهوا شيئا وهو خير لكم وعسى أن تحبوا شيئا وهو شر لكم والله يعلم وأنتم لا تعلمون
“Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal ia baik untukmu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia tidak baik untukmu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al Baqarah: 216)
Ayat ini walaupun tentang disyariatkannya jihad dengan pedang, namun maknanya umum mencakup banyak perkara.
Dalam masalah ibadah, terkadang kita menganggap baik suatu ibadah. Padahal yang menurut kita baik belum tentu baik di sisi Allah. Kewajiban kita adalah menunggu dalil dari Allah dan RasulNya.
Dan sebagainya.
Contoh lain adalah sabda Nabi:
إن أحق ما أخذتم عليه أجرا كتاب الله
“Sesungguhnya yang paling berhak kamu ambil upahnya adalah dari kitabullah.”
(HR Bukhari dan Muslim)
Hadits ini walaupun sebabnya khusus tentang ruqyah. Namun lafadznya umum. Masuk padanya mengambil upah dari hasil mengajarkan al qur’an. Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama. (Sumber: http://bbg-alilmu.com)

KAIDAH MEMAHAMI AL QUR’AN KE 1 : TATA CARA TALAQQI AL QUR’AN…



Kita insya Allah akan memulai kaidah kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.

Kaidah ke 1 :
Tata cara talaqqi al Qur’an.

Syaikh Abdurrohman As Sa’diy berkata:
“Hendaknya manusia mempelajari ayat ayat al quran sebagaimana para shahabat mempelajarinya. Mereka mengambil sepuluh ayat atau kurang atau lebih. Mereka tidak menambahnya sampai mengetahui makna makna yang ditunjukkan oleh ayat ayat tersebut berupa iman, ilmu dan amal. Kemudian mereka menempatkannya pada kenyataan yang ada.
Mereka meyakini seluruh kabar yang ada padanya. Tunduk dan patuh kepada perintah dan larangan yang ada padanya.
Mereka melihat kejadian kejadian dan kenyataan kenyataan yang ada pada mereka. Lalu muhasabah diri, apakah mereka telah melaksanakan ayat ayat tersebut padanya atau mereka kurang dalam melaksanakannya.
Mereka berusaha untuk selalu kuat dalam melakukan perkara perkara yang bermanfaat dan menyempurnakan kekurangan yang ada pada mereka.
Bagaimana menyelamatkan diri mereka dari perkara yang membahayakan.
Lalu mereka berusaha mengambil petunjuk dari ilmu yang terkandung dalam ayat itu dan mempraktekannya dalam adab dan akhlak.
Mereka yakin bahwa ayat ayat itu adalah ucapan Allah yang harus dipelajari dan difahami maknanya serta diamalkan.
Barang siapa yang meniti jalan para shahabat tersebut, ia bersungguh sungguh untuk memahami firman Allah, akan terbuka untuknya pintu yang agung dalam memahami tafsir.
Terlebih bila ia menguasai bahasa arab dan memiliki pengetahuan yang luas tentang sunnah Nabi dan keadaan beliau. Maka itu adalah alat yang paling kuat untuk semakin memahami ayat ayatAllah.”
(Al qowa’idul hisaan hal. 9-10)
Maksud beliau adalah bahwa bila kita ingin berhasil dalam mempelajari alquran hendaknya kita
1. Mengikuti metode para shahabat dalam mempelajari Al Qur’an.
2. Bertujuan untuk mendapatkan hidayah dan menjalankannya.
3. Bersungguh sungguh mentadabburinya.
4. Dan dibantu oleh ilmu alat berupa bahasa arab dan pengetahuan yang luas tentang sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Siapa yang terpenuhi syarat ini, ia akan mendapatkan kebaikan yang banyak dan terbuka untuknya ilmu ilmu yang terkandung dalam al Qur’an.
Sumber: Ustadz Badrusalam-http://bbg-alilmu.com

KEUTAMAAN MEMBACA DAN MERENUNGKAN SURAT AL-BAQARAH






عَنْ أَبِيْ أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: اقْرَؤُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلا يَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ   رواه مسلم
Dari Abu Umâmah al-Bâhili Radhiyallahu anhu dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Bacalah surah al-Baqarah, karena sesungguhnya selalu menetapinya mendatangkan keberkahan, sedangkan meninggalkannya akan mengakibatkan penyesalan, dan para tukang sihir tidak akan mampu melakukannya. [HR. Muslim][1]
Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan membaca dan merenungkan surah al-Baqarah, sehingga Imam an-Nawawi rahimahullah mencantumkan hadits ini dalam bab: Keutamaan Membaca al-Qur’an Dan Membaca Surah al-Baqarah.[2]
Faidah Hadits
Beberapa mutiara faidah yang dapat kita ambil dari hadits ini:
  • Yang dimaksud dengan selalu menetapi surah ini adalah merutinkan membacanya, memahami kandungan dan mengamalkannya [3].
  • Arti ‘meninggalkannya akan mengakibatkan penyesalan’ adalah penyesalan dan kerugian karena luputnya pahala dan keutamaan yang agung dengan selalu menetapinya.[4]
  • Adapun makna ‘para tukang sihir tidak akan mampu melakukannya’ yaitu mereka tidak akan mampu menghafal surah ini, atau mereka tidak akan mampu mengganggu orang yang selalu membacanya.[5]
  • Kata al-bathalah (para pelaku kebatilan atau kerusakan) dalam hadits ini artinya adalah para pelaku sihir, sebagaimana yang ditafsirkan oleh salah seorang rawi hadits ini,[6] dan penafsiran ini benar, karena mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat syirik dan kerusakan di muka bumi.
Diantara Keutamaan Surah al-Baqarah
Dalam hadits-hadits shahih yang lain banyak dijelaskan keutamaan surah al-Baqarah atau keutamaan ayat-ayat tertentu di dalam surah ini, diantaranya:
1. Menjauhkan rumah dan anggota keluarga dari keburukan dan tipu daya setan.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ
Janganlah kamu menjadikan rumahmu (seperti) kuburan (dengan tidak pernah mengerjakan shalat dan membaca al-Qur’an di dalamnya), sesungguhnya syaitan akan lari dari rumah yang dibaca di dalamnya surat al-Baqarah[7]
Dalam lafazh riwayat at-Tirmidzi: “…Sesungguhnya syaitan tidak akan masuk ke rumah yang dibaca di dalamnya surat al-Baqarah” [8]
2Di dalam surah ini terdapat ayat al-Kursi yang merupakan ayat paling agung dalam al-Qur’an.
Dari Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu anhu beliau berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (kepadaku):
يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيَّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللهِ مَعَكَ أَعْظَمُ قَالَ قُلْتُ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ قَالَ فَضَرَبَ فِي صَدْرِي وَقَالَ وَاللهِ لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِرِ
Wahai Abul Mundzir, apakah kamu mengetahui ayat apakah yang paling agung dalam a-Qur’an yang ada padamu (yang kamu hafal)?”. Maka aku berkata: “(Ayat al-KursiAllah tidak ada sembahan yang benar kecuali Dia Yang Maha Hidup lagi Berdiri sendiri dan menegakkan makhluk-Nya…” (al-Baqarah: 255). Maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menepuk dadaku dan bersabda: “Demi Allah, ilmu akan menjadi kesenangan bagimu, wahai Abul Mundzir!” [9].
3. Dua ayat terakhir dari surah ini merupakan sebab dicukupkannya seorang hamba dari segala keburukan dan dimudahkan baginya banyak kebaikan [10].
Dari Abu Mas’ud al-Badri Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْآيَتَانِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ مَنْ قَرَأَهُمَا فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ
Dua ayat terakhir dari surah al-Baqarah, barangsiapa yang membacanya di malam hari maka dua ayat tersebut akan mencukupi baginya” [11].
 Footnote
[1] HSR Muslim (no. 804).
[2] Kitab “Syarhu shahiih muslim” (6/89).
[3] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (2/63).
[4] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (2/63).
[5] Lihat kitab “Tafsir Ibni Katsir” (1/57).
[6] Lihat kitab “Shahih Muslim” (1/553).
[7] HSR Muslim (no. 780).
[8] HR at-Tirmidzi (5/157), dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani.
[9] HSR Muslim (no. 810).
[10] Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (6/197).
[11] HSR al-Bukhari (no. 3786) dan Muslim (no. 807 dan 808).
Sumber: almanhaj.or.id

Shalat Tepat Waktu !

Popular Posts

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.

Google+ Followers

Road to Jannah

Road to Jannah
menampilkan artikel2 menarik

Al Qur'anku

Kitab Hadits 9 Imam

Mushaf Al Qur'an

Jazakumullah Khayran

Daftar Isi

Al Qur'an dan Murotal

TvQuran

Kajian Ilmu Tajwid