MUKADIMAH

Blog yang sangat sederhana ini berusaha mengingatkan kita semua untuk mencintai Al Qur’an dengan sebenar-benarnya (membaca, mempelajari dan mengamalkan secara sungguh-sungguh).
Banyak ayat-ayat Al Qur’an dan Hadits Nabi yang menekankan kewajiban kita semua muslim untuk “mencintai Al Qur’an” :

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang ada tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri atau duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka'' (Ali 'Imran: 190-191).




Bukhari meriwayatkan dalam kitab sahihnya dari Utsman r.a. bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda:
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya".
Rasulullah SAW bersabda: "Siapa yang membaca Al Quran, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari Kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini: dijawab: "karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Quran".
Hadits diriwayatkan oleh Al Hakim dan ia menilanya sahih berdasarkan syarat Muslim (1/568), dan disetujui oleh Adz Dzahabi. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnadnya (21872) dan Ad Darimi dalam Sunannya (3257).

Mudah-mudahan memberikan manfaat bagi anda, terutama bagi saya sendiri, insya Allah. Amin.


UMROH: Defenisi, Hukum dan Tatacaranya



Nama Ebook: UMROH: Defenisi, Hukum dan Tatacaranya
Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwayjiry
الحمد لله رب العالمين. وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله :وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أَمَّا بَعْدُ:
Umrah adalah beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan thawaf di Baitullah dan sa’i antara bukit Shafa dan Marwah, menggundul atau bercukur.
Hukum umrah: Umrah diwajibkan sekali dalam seumur hidup, dan disunnahkan setiap waktu sepanjang tahun. Pada bulan-bulan haji lebih utama dalam sepanjang tahun. Dan umrah di bulan Ramadhan sama (pahalanya) dengan haji.
Rukun-rukun umrah: Ihram, thawaf, dan sa’i.
Wajib-wajib umrah: Ihram dari miqat, bergundul atau bercukur
Syarat-syarat sahnya thawaf: niat, suci dari hadats besar, menutup aurat, sebanyak tujuh putaran, dimulai dari hajar aswad dan mengakhiri (thawaf) padanya, mengelilingi seluruh bangunan Ka’bah, menjadikan Ka’bah di sebelah kiri, berkelanjutan kecuali bila ada uzur.
Silahkan simak eBook ini lebih lanjut dengan mendownloadnya pada link dibawah ini…
Download:
Download CHM atau Download ZIPatau Download PDF atau Download Word
Sumber: ibnumajjah.com


Jenis-Jenis Ibadah Haji



Nama Ebook: Jenis-Jenis Ibadah Haji
Penulis : Syaikh Muhammad bin Ibrahim at-Tuwayjiry
اَلْـحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَلَـمــــــيْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رُسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْـمَـــعـــــيْـــنْ، أَمَّ بَعْدُ:
Ibadah haji ada tiga macam: tamattu’qiran, dan ifrad.
1.    Tata cara haji tamattu’: yaitu berihram dengan umrah di bulan-bulan haji dan selesai darinya, kemudian berihram dengan haji dari Makkah atau di dekatnya dalam tahun yang sama. Diwajibkan baginya menyembelih hadyu. Bacaannya adalah: ‘labbaika ‘umrah’
2.    Tata cara haji qiran: yaitu berihram dengan haji dan umrah secara bersamaan, atau berihram dengan haji lebih dahulu kemudian memasukkan umrah atasnya. Bacaannya adalah: ‘labbaika ‘umratan wa hajjan’. Boleh bagi orang yang mendapat uzur (halangan) memasukkan haji atas umrah sebelum memulai thawafnya, seperti orang yang mendapat haid umpamanya.
3.    Tata cara haji ifrad: yaitu berihram dengan haji secara tersendiri. Dan ucapannya adalah: ‘labbaika hajja’. Yang melaksanakan haji qiran adalah seperti haji ifrad, kecuali yang melaksanakan haji qiran wajib membayar hadyu dan yang melaksanakan haji ifrad tidak ada kewajiban hadyu atasnya. Haji qiran lebih utama dari pada haji ifrad, dan haji tamattu’ lebih utama dari pada keduanya
Sebaiknya setiap orang yang berhaji agar melaksanakan haji tamattu’. Tamattu’ adalah yang paling utama, karena ia adalah yang diperintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabatnya dan menyarankan agar mereka bertahallul pada haji wada’ kecuali orang yang membawa hadyu. Tamattu’ adalah ibadah haji yang paling mudah dan paling gampang, serta paling banyak pekerjaannya.
Download:
 Download PDF atau Download Word
(http://ibnumajjah.com)

AMALAN DI AWAL DZULHIJAH



Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Dzulhijah
Keutamaan beramal di sepuluh hari pertama Dzulhijah diterangkan dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berikut, “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.“[1]
6 Amalan di Awal Dzulhijah
Pertama: Puasa
Disunnahkan untuk memperbanyak puasa dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong kita untuk beramal sholeh ketika itu dan puasa adalah sebaik-baiknya amalan sholeh. Juga ada terdapat hadits dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya[2], …”[3]
Lebih khusus lagi adalah puasa di Hari Arofah (9 Dzulhijah). Dalam hadits disebutkan, “Puasa Arofah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang.”[4] [5]
Catatan: Adapun hadits yang membicarakan puasa Hari Tarwiyah (puasa khusus tanggal 8 Dzulhijah), “Puasa pada hari tarwiyah (8 Dzulhijah) akan mengampuni dosa setahun yang lalu”, hadits tersebut adalah dhoif (lemah). Ibnul Jauzi mengatakan bahwa hadits ini tidak shahih.[6] Asy Syaukani mengatakan bahwa hadits ini tidak shahih dan dalam riwayatnya ada perowi yang pendusta.[7] Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini dho’if (lemah).[8] Oleh karena itu, tidak perlu berniat khusus untuk berpuasa pada tanggal 8 Dzulhijah karena hadisnya dho’if. Namun jika berpuasa pada hari itu karena mengamalkan keumuman hadits shahih yang menjelaskan keutamaan berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, maka itu diperbolehkan. Wallahu a’lam.
Kedua: Takbir dan Dzikir
Yang termasuk amalan sholeh juga adalah bertakbir, bertahlil, bertasbih, bertahmid, beristighfar, dan memperbanyak do’a. Disunnahkan untuk mengangkat (mengeraskan) suara ketika bertakbir di pasar, jalan-jalan, masjid dan tempat-tempat lainnya. Ibnu ‘Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10  hari pertama Dzulhijah dan juga pada hari-hari tasyriq.” Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir. Muhammad bin ‘Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah.[9]
Catatan: Perlu diketahui bahwa takbir itu ada dua macam, yaitu takbir muthlaq (tanpa dikaitkan dengan waktu tertentu) dan takbir muqoyyad(dikaitkan dengan waktu tertentu). Takbir yang dimaksudkan dalam penjelasan di atas adalah sifatnya muthlaq, artinya tidak dikaitkan pada waktu dan tempat tertentu. Jadi boleh dilakukan di pasar, masjid, dan saat berjalan. Takbir tersebut dilakukan dengan mengeraskan suara khusus bagi laki-laki. Sedangkan ada juga takbir yang sifatnya muqoyyad, artinya dikaitkan dengan waktu tertentu yaitu dilakukan setelah shalat wajib berjama’ah[10]. Takbir muqoyyad bagi orang yang tidak berhaji dilakukan mulai dari shalat Shubuh pada hari ‘Arofah (9 Dzulhijah) hingga waktu ‘Ashar pada hari tasyriq yang terakhir. Cara bertakbir adalah dengan ucapan: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha illallah, Wallahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.
Ketiga: Berqurban
Di hari Nahr (10 Dzulhijah) dan hari tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijah) disunnahkan bagi yang mampu sebagaimana amalan ini telah menjadi warisan dari ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.
Keempat: Bertaubat
Termasuk yang ditekankan pula di awal Dzulhijah adalah bertaubat dari berbagai dosa dan maksiat serta meninggalkan tindak zholim terhadap sesama.
Kelima: Memperbanyak Amalan Sholeh
Sebagaimana keutamaan hadits Ibnu ‘Abbas yang kami sebutkan di awal tulisan, dari situ menunjukkan dianjurkannya memperbanyak amalan sunnah seperti shalat, sedekah, membaca Al Qur’an, dan beramar ma’ruf nahi mungkar. Intinya, keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu. [11] [12]
Meraih Ampunan di Hari Arofah
Hari Arofah adalah hari di mana Allah menyempurnakan Islam dan menyempurnakan nikmat-Nya ketika itu. Hari Arofah adalah hari haji Akbar menurut  mayoritas salaf. Hari Arofah juga adalah hari istimewa bagi umat ini. Anas bin Malik pernah mengatakan, “Hari Arofah lebih utama dari 10.000 hari-hari lainnya.”[13]
Mengenai hari Arofah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arofah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?”[14]
Ibnu Rajab menjelaskan bahwa siapa yang ingin mendapatkan pembebasan dari api neraka dan pengampunan dosa pada hari Arofah, maka lakukanlah hal-hal berikut: (1) Melaksanakan puasa Arofah. (2) Menjaga anggota badan dari hal-hal yang diharamkan pada hari tersebut. (3) Memperbanyak syahadat tauhid, keikhlasan dan kejujuran pada hari tersebut karena semuanya tadi adalah asas agama ini yang Allah sempurnakan pada hari Arofah. (4) Memerdekakan seorang budak jika mampu. (5) Memperbanyak do’a ampunan dan pembebasan dari api neraka ketika itu karena hari Arofah adalah hari terkabulnya do’a. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arofah.”[15]
Dan untuk mendapatkan pembebasan dari api neraka dan pengampunan dosa, hendaklah pula dijauhi segala dosa yang dapat menghalangi dari mendapatkan ampunan, di antaranya: (1) Sifat sombong dan takabbur. (2) Terus menerus dalam melakukan dosa-dosa besar (al kaba-ir).[16]
Amalan di Hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijah)
Hari Arofah, hari Idul Adha dan hari Tasyriq termasuk hari ‘ied kaum muslimin. Disebutkan dalam hadits,  “Hari Arofah, hari Idul Adha dan hari-hari Tasyriq adalah ‘ied kami -kaum muslimin-. Hari tersebut (Idul Adha dan hari Tasyriq) adalah hari menyantap makan dan minum.”[17]
Dalam surat Al Baqarah ayat 203, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang.” Yang dimaksud hari yang terbilang adalah hari-hari setelah hari Idul Adha yaitu hari-hari tasyriq. Ini menunjukkan adanya perintah berdzikir di hari-hari tasyriq.[18]
Lalu apa saja dzikir yang dimaksudkan ketika itu? Beberapa dzikir yang diperintahkan oleh Allah di hari-hari tasyriq ada beberapa macam: (1) Berdzikir kepada Allah dengan bertakbir setelah selesai menunaikan shalat wajib. (2) Membaca tasmiyah (bismillah) dan takbir ketika menyembelih qurban. (3) Berdzikir memuji Allah Ta’ala ketika makan dan minum. (4) Berdzikir dengan takbir ketika melempar jumroh di hari tasyriq. (5) Berdzikir pada Allah secara mutlak karena kita dianjurkan memperbanyak dzikir di hari-hari tasyriq. (6) Dianjurkan memperbanyak do’a sapu jagadAllah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” [Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka].” (QS. Al Baqarah: 200-201). Dari ayat ini kebanyakan ulama salaf menganjurkan membaca do’a “Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil aakhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” di hari-hari tasyriq. Sebagaimana hal ini dikatakan oleh ‘Ikrimah dan ‘Atho’.[19]
Semoga sajian singkat ini bermanfaat dan moga Allah memberkahi kita dalam kebaikan di awal Dzulhijah dan hari-hari tasyriq. [M. Abduh Tuasikal, ST]
_____________
[1] HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim.
[2] Yang jadi patokan di sini adalah bulan Hijriyah, bukan bulan Masehi.
[3] HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[4] HR. Muslim no. 1162, dari Abu Qotadah
[5] Seperti saat ini terjadi perbedaan awal Dzulhijah antara Saudi Arabia dan Indonesia. Ketika melaksanakan puasa Arofah, manakah yang harus diikuti, ikut wukuf Arofah ataukah ikut penetapan Dzulhijah di Indonesia? Hal ini ada silang pendapat di antara para ulama. Pendapat yang penulis cenderungi adalah pendapat Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin di mana beliau rahimahullah berkata, “Hendaklah kalian berpuasa dan berhari raya sebagaimana puasa dan hari raya yang dilakukan di negeri kalian (yaitu mengikuti keputusan penguasa). Meskipun memulai puasa atau berpuasa berbeda dengan negeri lainnya. Begitu pula dalam masalah puasa Arofah, hendaklah kalian mengikuti penentuan hilal di negeri kalian.” (Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, Darul Wathon – Darul Tsaroya, cetakan terakhir, tahun 1413 H, 19/24-25). Artinya berpuasa Arofah dengan mengikuti penetapan 9 Dzulhijah di Indonesia, itu yang lebih utama. Wallahu a’lam.
[6] Lihat Al Mawdhu’at, 2/565
[7] Lihat Al Fawa-id Al Majmu’ah, hal. 96
[8] Lihat Irwa’ul Gholil no. 956.
[9] Dikeluarkan oleh Bukhari tanpa sanad (mu’allaq), pada Bab “Keutamaan beramal di hari tasyriq”.
[10] Syaikh Hammad bin ‘Abdillah bin Muhammad Al Hammad, guru kami dalam Majelis di Masjid Kabir KSU Riyadh, dalam Khutbah Jum’at (28/11/1431 H) mengatakan bahwa takbir tersebut bukan dilakukan secara jama’i (berjama’ah) sebagaimana kelakukan sebagian orang.
[11] Lihat Tajridul Ittiba’, Syaikh Ibrahim bin ‘Amir Ar Ruhailiy, Dar Al Imam Ahmad, hal. 116, 119-121.
[12] Point-point yang ada kami sarikan dari risalah mungil “’Ashru Dzilhijjah” yang dikumpulkan oleh Abu ‘Abdil ‘Aziz Muhammad bin ‘Ibrahim Al Muqoyyad.
[13] Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, Al Maktab Al Islami, hal. 489.
[14] HR. Muslim no. 1348, dari ‘Aisyah
[15] HR. Tirmidzi no. 3585, dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.
[16] Lihat Lathoif Al Ma’arif, 493-496.
[17] HR. Abu Daud no. 2419, Tirmidzi no. 773, An Nasa-i no. 3004, dari ‘Uqbah bin ‘Amir. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.
[18] Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 502-503
[19] Lihat Latho-if Al Ma’arif, 504-505.
(Sumber: http://buletin.muslim.or.id)


Diantara Sifat-Sifat Al-Qur’an





Saudariku sekalian yang semoga senantiasa dirahmati Allah Ta’ala,
Al-Qur’an, Kalamullah, memiliki beberapa sifat yang teramat agung. Adanya banyak sifat dan nama bagi Al-Quran, menunjukkan betapa mulianya kitab Allah ini. Dan kita bisa semakin mencintai sesuatu, ketika kita mengenal sifat-sifatnya. Karena itu, untuk menanamkan rasa cinta kita kepada Al-Quran, selayaknya kita mengenal beberapa sifatnya.
Berikut diantara sifat-sifat itu,

Al-Quran adalah Ash-Shirath Al-Mustaqim (jalan lurus)

Yakni, Al-Qur’an adalah jalan lurus yang mengantarkan orang yang senantiasa membaca dan mengamalkannya kepada surga yang penuh kenikmatan. Allah Ta’ala berfirman,
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ
“Dan sungguh, inilah jalan–Ku yang lurus, maka ikutilah!.” (QS. Al-An’am: 153).

Al-Quran adalah Al–Hablul Matin

Yakni, Al-Qur’an adalah tali yang sangat kokoh, barang siapa yang berpegang teguh dengannya dan melaziminya, maka ia akan berhasil dan ditunjukkan kepada jalan yang lurus. Allah Ta’ala berfirman,
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا
“Maka berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 103).

Al-Quran adalah Al-Mizan

Yakni, Al-Qur’an merupakan timbangan, yang merupakan pemutus dan sebagai tempat mengajukan hukum. Allah Ta’ala berfirman,
فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ
“Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.”(QS. An Nisa’: 59).
“Kembali kepada Allah” maknanya adalah kembali kepada Al-Qur’an, sedangkan “kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” adalah kembali kepada As-Sunnah.

Al-Quran adalah Al–‘Urwatul Wutsqa

Yakni, Al-Qur’an adalah tali yang sangat kuat. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antarajalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat, yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 256).

Al-Quran adalah An-Nural Mubin

Yakni, Al-Qur’an merupakan kitab yang diturunkan sebagai cahaya yang terang benderang. Al-Qur’an disifati sebagai cahaya, yakni cahaya yang terang dan sangat jelas. Sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُم بُرْهَانٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَأَنزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُّبِينً
“Wahai manusia! Sesungguhnya telah sampai kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu (Muhammad dengan mukjizatnya), dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang.” (QS. An-Nisa’: 174).
Dan sebagaimana pula dalam firman Allah Jalla wa ‘Ala,
وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) ruh (Al–Qur’an) dengan perintah Kami.Sebelumnya engkau tidak mengetahui apakah kitab (Al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan Al-Qur’an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki diantara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura: 52).

Al-Quran adalah Al–Huda

Yakni, Al-Qur’an merupakan petunjuk. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
“Sungguh, Al–Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembirakepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar.”(QS. Al-Isra’: 9).
Dan Allah Jalla wa ‘Ala juga berfirman,
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ
“Dan Kami turunkan Al–Kitab (Al–Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagaipetunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim).” (QS. An-Nahl: 89).

Al-Quran adalah Asy–Syifa’

Yakni, Al-Qur’an adalah penyembuh, dimana Al-Qur’an merupakan obat bagi berbagai penyakit hati. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
“Wahai manusia! Sungguh telah dating kepadamu pelajaran (Al–Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagipenyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus: 57).
Demikian pula, Allah Jalla wa ‘Ala berfirman di ayat lainnya,
وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَّقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ
“Dan sekiranya Al–Qur’an Kami jadikan sebagai bacaan dalam bahasa selain bahasa Arab niscayamereka mengatakan, ‘Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?’ Apakah patut (Al–Qur’an) dalam bahasaselain bahasa Arab sedang (Rasul) orang Arab? Katakanlah, “Al–Qur’an adalah petunjuk dan penyembuhbagi orang-orang yang beriman.” (QS. Fussilat: 44).
Namun berkah Al-Qur’an sebagai obat dan penyembuh berbagai macam penyakit hati hanya bisa diperoleh oleh mereka yang mengimani serta mengamalkan hukum-hukum Al-Qur’an, bukan mereka yang membacanya namun lalai darinya.
Disamping itu, Al-Qur’an juga merupakan obat bagi penyakit-penyakit fisik maupun penyakit akibat gangguan jin, sebagaimana yang telah kita ketahui melalui hadits-hadits tentang ruqyah.
Tentunya sifat-sifat ini tidaklah kita ketahui sebagai nama belaka. Namun di dalamnya terkandung pelajaran dan motivasi bagi kita untuk terus membaca, mempelajari, mengimani, dan mengamalkan isi Al-Qur’an sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, agar kita dapat memperoleh buah dari sifat-sifat Al-Qur’an tersebut.
Maka, maukah kita mengambil pelajaran?
—–
Artikel muslimah.or.id
Maraji’:
  • Al Qur’an dan Terjemahnya. Departemen Agama RI.
  • Al–Washiyyah bi Kitaabillaahi ‘Azza wa Jalla. SyaikhAbdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr. Cet. I. 1433 H.


Surah Al Mulk Menyejukkan - Salah Mussaly ᴴᴰ



Keutamaan Surat Al Mulk

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum
Benarkah surat Al-Mulk bisa memberi syafaat?
Matur nuwun
Dari: Arriqa

Jawaban:
Wa’alaikumussalam

Keutamaan Surat Al-Mulk

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « سُورَةٌ مِنَ الْقُرْآنِ ثَلاَثُونَ آيَةً تَشْفَعُ لِصَاحِبِهَا حَتَّى يُغْفَرَ لَهُ {تَبَارَكَ الَّذِى بِيَدِهِ الْمُلْكُ}. وفي رواية: فأخرجته من النار و أدخلته الجنة » حسن رواه أحمد وأصحاب السنن.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Satu surat dalam Alquran (yang terdiri dari) tiga puluh ayat (pada hari kiamat) akan memberi syafaat (dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala) bagi orang yang selalu membacanya (dengan merenungkan artinya) sehingga Allah mengampuni (dosa-dosa)nya, (yaitu surat Al-Mulk): “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Dalam riwayat lain: “…sehingga dia dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.”  (HR. Abu Dawud no. 1400, At-Tirmidzi no. 2891, Ibnu Majah no. 3786, Ahmad 2:299, dan Al-Hakim no. 2075 dan 3838, dinyatakan shahih oleh Imam Al-Hakim dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi, serta dinyatakan hasan oleh imam At-Tirmidzi dan syaikh Al-Albani).
Hadis yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan membaca surat ini secara kontinyu, karena ini merupakan sebab untuk mendapatkan syafaat dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla. (Faidhul Qadir, 2:453)
Hadis ini semakna dengan hadis lain dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Satu surat dalam Alquran yang hanya (terdiri dari) tiga puluh ayat akan membela orang yang selalu membacanya (di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala) sehingga dia dimasukkan ke dalam surga, yaitu surat: “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan.”
(HR. Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jamul Ausath no. 3654 dan Al-Mu’jamush Shagir no. 490, dinyatakan shahih oleh Al-Haitsami dan Ibnu Hajar dinukil dalam kitab Faidhul Qadir 4:115 dan dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jaami’ish Shagir no. 3644).

Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadis ini:

– Keutamaan dalam hadis ini diperuntukkan bagi orang yang selalu membaca surat Al-Mulk dengan secara kontinyu disertai dengan merenungkan kandungannya dan menghayati artinya. (Faidhul Qadir, 4:115).
– Surat ini termasuk surat-surat Alquran yang biasa dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum tidur di malam hari, karena agungnya kandungan maknanya. (HR At-Tirmidzi no. 2892 dan Ahmad 3:340, dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihahno. 585).
– Sebagian dari ulama ahli tafsir menamakan surat ini dengan penjaga/pelindung dan penyelamat (dari azab kubur). (Tafsir al-Qurthubi, 18:205). Akan tetapi penamaan ini disebutkan dalam hadis yang lemah. (Dha’ifut Targibi wat Tarhib, no. 887).
– Alquran akan memberikan syafaat (dengan izin Allah) bagi orang yang membacanya (dengan menghayati artinya) dan mengamalkan isinya (Bahjatun naazhirin, 2:240), sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Bacalah Alquran, karena sesungguhnya bacaan Alquran itu akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafaat bagi orang-orang yang membacanya (sewaktu di dunia).” (HR. Muslim no. 804).

Shalat Tepat Waktu !

Popular Posts

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.

Google+ Followers

Road to Jannah

Road to Jannah
menampilkan artikel2 menarik

Al Qur'anku

Mushaf Al Qur'an

Jazakumullah Khayran

Daftar Isi

Al Qur'an dan Murotal

TvQuran

Kajian Ilmu Tajwid