Sudahkah anda tilawah da tadabbur Al Qur'an hari ini ?

TAFSIR SURAT AL-BAYYINAH oleh Imam Ibnu Katsir


TAFSIR SURAT AL-BAYYINAH (Bukti) [1]
Surat Madaniyyah, Surat ke-98: 8 ayat

Powered by mp3skull.com

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik  dia berkata:  Rasulullah bersabda kepada Ubay bin Ka'ab: “Sesungguhnya Allah menyuruhku untuk membacakan kepadamu, Lam Yakuniladzi..... Ubay bertanya, Dia menyebut namaku kepadamu?' Beliau menjawab", 'Ya,’ maka Ubay pun menangis.[2] Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i.
1.Orang-orang kafir, yakni Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata,
2.(yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran yang disucikan (al-Qur’an),
3.di dalamnya terdapat (isi) Kitab-Kitab yang lurus,
4.Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan al-Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata.
5.Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah [98]: 1-5)

Adapun Ahlul Kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dan yang dimaksud dengan orang-orang musyrik adalah para penyembah berhala dan api, baik dari masyarakat Arab maupun non Arab. Mujahid mengatakan bahwa mereka  "Tidak akan meninggalkan." Artinya, mereka tidak akan berhenti sehingga kebenaran tampak jelas di hadapan mereka. Demikian itu pula yang dikemukakan oleh Qatadah.
"Sehingga datang kepada mereka bukti yang nyata." Yaitu, al-Qur’an ini. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman:  "Orang-orang kafir, yakni Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata."
Kemudian Allah Ta'ala menafsirkan bukti  tersebut  melalui  firman-Nya:  "Yaitu seorang Rasid dari Allah yang membacakan lembaran yang disucikan (al-Qur’an)." Yakni, Muhammad  dan al-Qur’an al-'Azhim yang beliau bacakan, yang sudah tertulis di Mala-ul Ala di dalam lembaran-lembaran yang dicucikan.
Dan firman Allah Ta'ala:  "Di dalamnya terdapat (isi) Kitab-Kitab yang lurus." Ibnu Jarir mengatkan: "Yakni di dalam lembaran-lembaran yang disucikan itu terdapat kandungan Kitab-Kitab dari Allah yang sangat tegak, adil, dan lurus, tanpa adanya kesalahan sedikit pun, karena ia berasal dari Allah
Firman Allah Ta'ala: “Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan al-Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata." Yang demikian itu seperti firman Allah lainnya:
"Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat," (QS. Ali 'Imran: 105). Yang dimaksudkan dengan hal tersebut adalah orang-orang yang menerima Kitab-Kitab yang diturunkan kepada ummat-ummat sebelum kita, di mana setelah Allah memberikan hujjah dan bukti kepada mereka, mereka malah berpecah belah dan berselisih mengenai apa yang dikehendaki Allah dari Kitab-Kitab mereka. Mereka mengalami banyak perselisihan.
Dan firman Allah Ta'ala:  ''Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya beribadah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama .
"Yang lurus," Yakni yang melepaskan kemusyrikan menuju kepada tauhid. Dan pembahasan tentang kata hanif ini telah diberikan sebelumnya dalam surat al-An'aam, sehingga tidak perlu diulang kembali di sini. "Dan supaya mereka mendirikan shalat," yang merupakan ibadah jasmani yang paling mulia. "Dan menunaikan zakat," yaitu berbuat baik kegada kaum fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. "Dan yang demikian itulah agama yang lurus." Yakni agama yang berdiri tegak lagi adil, atau ummat yang lurus dan tidak menyimpang. Dan banyak imam, seperti az-Zuhri dan asy-Syafi'i yang menggunakan ayat mulia ini sebagai dalil bahwa amal perbuatan itu masuk dalam keimanan.
6.Sesungguhnya orang-orang kafir, yakni Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke Neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makbluk.
7.Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.
8.Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah Surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabb-nya. (QS. Al-Bayyinah [98]: 6-8)
Allah Ta'ala mengabarkan tentang tempat kembali orang-orang jahat dari orang-orang kafir Ahlul Kitab dan juga orang-orang musyrik yang menolak Kitab-Kitab Allah yang diturunkan serta menentang Nabi-Nabi Allah yang diutus, bahwa pada hari Kiamat kelak tempat mereka adalah Neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya, yakni tidak akan pindah dari Neraka itu untuk selamanya.
"Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk." Yakni seburuk-buruk makhluk yang diciptakan dan diadakan oleh Allah. Kemudian Allah Ta'ala menceritakan tentang keadaan orang-orang yang berbuat baik, yaitu yang beriman dengan sepenuh hati dan mengerjakan amal shalih dengan badan  mereka bahwa mereka adalah sebaik-baik makhluk.
Abu Hurairah dan sejumlah ulama telah menjadikan ayat ini sebagai dalil pengutamaan orang-orang mukmin atas para Malaikat. Hal Itu didasarkan pada firman-Nya. " Mereka itu adalah sebaik-baik makhluk."
Kemudian Allah Ta'ala berfirman, "Balasan mereka di sisi Rabb mereka," yakni pada hari Kiamat kelak: "Adalah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya." Yakni tidak akan pernah terputus dan tidak juga berakhir.
"Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya." Dan posisi keridhaan-Nya atas mereka lebih tinggi daripada berbagai kenikmatan yang diberikan kepada mereka. "dan mereka pun ridha kepada-Nya,” dari apa yang telah Dia berikan kepada mereka berupa anugerah yang sangat luas.
Dan firman Allah Ta'ala, "Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabb- nya." Yakni balasan ini akan diberikan kepada orang-orang yang takut dan bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa serta beribadah kepada-Nya seakan-akan dia melihat-Nya, dan dia juga mengetahui kalau memang dia tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatnya.


1.Disalin dari kitab Tafsir Ibnu Katsir jilid 8 terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi’i
2.Di antara maksud dari hal itu bahwa yang Sunnah untuk diikuti sampai sekarang ini adalah pendengaran seorang penuntut ilmu kepada syaikhnva, tara cara pelaksanaannya sehingga terlontar dari mulur syaikhnya panjang dan pendek waktu serta yang lainnya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More