Tampilkan postingan dengan label Tafsir Al Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir Al Qur'an. Tampilkan semua postingan

Aza Hafizh Indonesia (QS. 'Ali Imran: 190-194) plus TAFSIR







“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan Siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (QS. Ali ‘Imraan: 190). (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa Neraka. (QS. Ali ‘Imraan: 191). Ya Rabb kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam Neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolong pun. (QS. Ali ‘Imraan: 192). Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): ‘Berimanlah kamu kepada Rabb-mu.’; maka kamipun beriman. Ya Rabb kami, ampunilah bagi kami dosa-dosakami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. (QS. Ali ‘Imraan: 193). Ya Rabb kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan Rasul-Rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari Kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (QS. Ali ‘Imraan: 194)
Makna ayat ini, bahwa Allah berfirman, inna fii khalqis samaawaati wal ardli (“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi.”) Artinya, yaitu pada ketinggian dan keluasan langit dan juga pada kerendahan bumi serta kepadatannya. Dan juga tanda-tanda kekuasaan-Nya yang terdapat pada ciptaan-Nya yang dapat dijangkau oleh indera manusia pada keduanya (langit dan bumi), baik yang berupa bintang-bintang, komet, daratan dan lautan, pegunungan, dan pepohonan, tumbuh-tumbuhan, tanaman, buah-buahan, binatang, barang tambang, serta berbagai macam warna dan aneka ragam makanan dan bebauan,
Wakh-tilafil laili wan naHaari (“Dan silih bergantinya malam dan siang.”) Yakni, silih ber-gantinya, susul menyusulnya, panjang dan pendeknya. Terkadang ada malam yang lebih panjang dan siang yang pendek. Lalu masing-masing menjadi seimbang. Setelah itu, salah satunya mengambil masa dari yang lainnya sehingga yang terjadi pendek menjadi lebih panjang, dan yang diambil menjadi pendek yang sebelumnya panjang. Semuanya itu merupakan ketetapan Allah yang Mahaperkasa lagi Maha-mengetahui.
Oleh karena itu Allah berfirman: la aayaati li-ulil albaab (“Terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal [Uulul Albaab].”) Yaitu mereka yang mempunyai akal yang sempurna lagi bersih, yang mengetahui hakikat banyak hal secara jelas dan nyata. Mereka bukan orang-orang tuli dan bisu yang tidak berakal.
Allah berfirman tentang mereka yang artinya, “Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya. Dan sebahagian besar dan mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf: 105-106)
Kemudian Allah menyifatkan tentang Uulul Albaab, firman-Nya: alladziina yadzkuruunallaaHa qiyaamaw wa qu’uudaw wa ‘alaa junuubiHim (“[Yaitu] orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring.”)
Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari ‘Imran bin Hushain, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Shalatlah dengan berdiri, jika kamu tidak mampu, maka lakukanlah sambil duduk, jika kamu tidak mampu, maka lakukanlah sambil berbaring.”
Maksudnya, mereka tidak putus-putus berdzikir dalam semua keadaan, baik dengan hati maupun dengan lisan mereka. Wa yatafakkaruuna fii khalqis samaawaati wal ardli (“Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.”) Maksudnya, mereka memahami apa yang terdapat pada keduanya (langit dan bumi) dari kandungan hikmah yang menunjukkan keagungan “al-Khaliq” (Allah), ke-kuasaan-Nya, keluasan ilmu-Nya, hikmah-Nya, pilihan-Nya, juga rahmat-Nya.
Syaikh Abu Sulaiman ad-Darani berkata: “Sesungguhnya aku keluar dari rumahku, lalu setiap sesuatu yang aku lihat, merupakan nikmat Allah dan ada pelajaran bagi diriku.” Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dun-ya dalam “Kitab at-Tawakkul wal I’tibar.”
Al-Hasan al-Bashri berkata: “Berfikir sejenak lebih baik dari bangun shalat malam.”
Al-Fudhail mengatakan bahwa al-Hasan berkata, “Berfikir adalah cermin yang menunjukkan kebaikan dan kejelekan-kejelekanmu.”
Sufyan bin ‘Uyainah berkata: “Berfikir (tentang kekuasaan Allah,”) adalah cahaya yang masuk ke dalam hatimu.”
Nabi ‘Isa as. berkata: “Berbahagialah bagi orang yang lisannya selalu berdzikir, diamnya selalu berfikir (tentang kekuasaan Allah), dan pandangannya mempunyai ‘ibrah (pelajaran).”
Luqman al-Hakim berkata: “Sesungguhnya lama menyendiri akan mengilhamkan untuk berfikir dan lama berfikir (tentang kekuasaan Allah,) adalah jalan-jalan menuju pintu Surga.”
Sungguh Allah mencela orang yang tidak mengambil pelajaran tentang makhluk-makhluk-Nya yang menunjukkan kepada dzat-Nya, sifat-Nya, syari’at-Nya, kekuasaan-Nya dan tanda-tanda (kekuasan)-Nya, “Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya. Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf: 105-106)
Dan di sisi lain Allah memuji hamba-hamba-Nya yang beriman: alladziina yadzkuruunallaaHa qiyaamaw wa qu’uudaw wa ‘alaa junuubiHim Wa yatafakkaruuna fii khalqis samaawaati wal ardli (“[yaitu] orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.”) Yang mana mereka berkata, rabbanaa maa khalaqta Haadzaa baathilan (“Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.”) Artinya, Engkau tidak menciptakan semuanya ini dengan sia-sia, tetapi dengan penuh kebenaran, agar Engkau memberikan balasan kepada orang-orang yang beramal buruk terhadap apa-apa yang telah mereka kerjakan dan juga memberikan balasan orang-orang yang beramal baik dengan balasan yang lebih baik (Surga). Kemudian mereka menyucikan Allah dari perbuatan sia-sia dan penciptaan yang bathil seraya berkata, subhaanaka (“Mahasuci Engkau.”) Yakni dari menciptakan sesuatu yang sia-sia. Wa qinaa ‘adzaaban naar (“Maka peliharalah kami dari siksa Neraka.”) Maksudnya, wahai Rabb yang menciptakan makhluk ini dengan sungguh-sungguh dan adil. Wahai Dzat yang jauh dari kekurangan, aib dan kesia-siaan, peliharalah kami dari adzab Neraka dengan daya dan kekuatan-Mu. Dan berikanlah taufik kepada kami dalam menjalankan amal shalih yang dapat mengantarkan kami ke Surga serta menyelamatkan kami dari adzab-Mu yang sangat pedih.
Setelah itu mereka berkata, rabbanaa innaka man tud-khilin naara faqad akh-zaitaHu (“Ya Rabb kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam Neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia.”) Yaitu Engkau menghinakan dan memperlihatkan kerendahannya kepada seluruh makhluk. Wa maa lidh-dhaalimiina min anshaar (“Dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolong pun.”) Yaitu pada hari Kiamat kelak, mereka tidak akan mendapatkan perlindungan dari-Mu dan mereka tidak dapat menghindar dari apa yang Engkau kehendaki terhadap mereka.
Rabbanaa innanaa sami’naa munaadiyay yunaadii lil iimaani (“Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar [seruan] yang menyeru kepada iman.”) Yakni, penyeru yang menyeru kepada keimanan. Yaitu, Rasulullah saw: an aaminuu birabbikum fa aamannaa (“Berimanlah kamu kepada Rabb-mu, maka kami pun beriman.”) Penyeru itu berseru, “Berimanlah kepada Rabb kalian.” Maka kami pun beriman, lalu kami menyambut dan mengikutinya, yaitu dengan keimanan dan kepengikutan kita terhadap Nabi-Mu.
Rabbanaa faghfir lanaa dzunuubanaa (“Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami.”) Artinya, tutup dan hapuskanlah dosa-dosa kami itu. Wa kaffir ‘annaa sayyi-aatinaa (“Dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami,”) antara kami dengan Engkau. Wa tawaffanaa ma-‘al ab-raar (“Dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.”) Maksudnya, pertemukanlah kami dengan orang-orang yang shalih. Rabbanaa wa aatinaa maa wa ‘attanaa ‘alaa rusulika (“Ya Rabb kami, berikanlah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan Rasul-Rasul Engkau.”) Ada yang mengatakan, artinya, atas iman dengan Rasul-Rasul-Mu. Dan ada yang mengatakan maksudnya melalui lisan para Rasul-Mu. Dan inilah yang lebih mendekati kebenaran. Wallahu a’lam.
Dan firman-Nya, wa laa tukhzinaa yaumal qiyaamati (“Dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari Kiamat.”) Yaitu, di hadapan pemuka para makhluk. Innaka laa tukhliful mii-‘aad (“Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.”) Maksud-nya, keharusan akan janji yang telah disampaikan oleh Rasul-Rasul-Mu, yaitu bangkitnya umat manusia pada hari Kiamat kelak di hadapan-Mu. Dalam sebuah hadits telah ditegaskan bahwa Rasulullah membaca sepuluh ayat terakhir dari Surat Ali-`Imran ini jika beliau bangun malam untuk mengerjakan shalat tahajud.
Imam al-Bukhari pernah meriwayatkan dari Kuraib, bahwa Ibnu ‘Abbas memberitahukan kepadanya, ia pernah menginap di rumah Maimunah isteri Nabi, sekaligus bibinya (Ibnu ‘Abbas) sendiri, ia berkata, lalu aku membaringkan diri di bagian pinggir tempat tidur, sedangkan Rasulullah saw. dan keluarganya membaringkan diri di bagian tengahnya. Maka beliau pun tidur. Dan pada pertengahan malam, tak lama sebelum atau sesudah pertengahan malam, Rasulullah bangun dari tidurnya, lalu beliau mengusap wajahnya dengan tangan beliau. Kemudian beliau membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Ali-‘Imran. Selanjutnya beliau menuju ke tempat air yang tergantung didinding dan beliau berwudhu’ dan menyempurnakannya. Setelah itu beliau mengerjakan shalat.
Lebih lanjut Ibnu ‘Abbas berkata, kemudian aku bangun dan melakukan hal yang sama seperti yang dikerjakan beliau, lalu aku berjalan dan berdiri di sisi beliau. Kemudian beliau meletakkan tangan kanannya di atas kepalaku dan memegang telingaku. Seusai itu beliau mengerjakan shalat dua rakaat, dua rakaat, dua rakaat, dua rakaat, dua rakaat, dua rakaat, kemudian mengerjakan shalat witir. Lalu beliau berbaring hingga datang muadzin, maka beliau bangun dan mengerjakan shalat dua rakaat ringan (shalat sunnah Subuh), selanjutnya
beliau pergi ke masjid untuk mengerjakan shalat Subuh.
Hal senada juga diriwayatkan oleh perawi lain yang diriwayatkan oleh iman-iman ahli hadits lain melalui beberapa sumber dari Malik. Juga diriwayatkan Imam Muslim, Abu Dawud (melalui jalan yang lain). Serta diriwayatkan Ibnu Mardawaih dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah keluar rumah pada suatu malam, dan ketika malam berlalu, beliau menatap ke langit dan membaca ayat ini: inna fii khalqis samaawaati wal ardli wakh-tilaafil laili wan naHaari la aayaatil li ulil albaab (“Sungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.”) Sampai terakhir dari surah Ali ‘Imraan.
Setelah itu beliau berdo’a: “Ya Allah, jadikanlah cahaya dalam hatiku, cahaya dalam pendengaranku, cahaya dalam pandanganku, cahaya pada sebelah kananku, cahaya pada sebelah kiriku, cahaya pada bagian depanku, cahaya pada belakangku, cahaya pada bagian atasku, dan cahaya pada bagian bawahku, serta besarkanlah cahaya bagiku pada hari Kiamat.”
Do’a ini telah ditegaskan dalam beberapa jalan hadits shahih yang di-riwayatkan dari Kuraib dari Ibnu ‘Abbas ra.
Dalam tafsirnya, Abdu bin Humaid meriwayatkan dari Ja’far bin Aun al-Kalby, dari Abu Hubab ‘Atha’, ia berkata, bersama ‘Abdullah bin ‘Umar dan ‘Ubaid bin ‘Umair, aku masuk menemui Ummul Mukminin, ‘Aisyah dalam biliknya. Kemudian kami mengucapkan salam kepadanya. Maka ‘Aisyah bertanya: “Siapa mereka?” Kami pun menjawab: “Ini ‘Abdullah bin ‘Umar dan `Ubaid bin `Umair.” Lalu ‘Aisyah berkata: “Wahai ‘Ubaid bin ‘Umair, apa yang menghalangimu mengunjungi kami?” Ubaid menjawab: “Karena orang terdahulu pernah berkata: “Berkunjunglah jarang-jarang, niscaya engkau akan bertambah dekat.” Setelah itu ‘Aisyah berkata: “Sesungguhnya kami menyukai kunjungan dan kedatanganmu.” Lalu ‘Abdullah bin ‘Umar berkata: “Biarkanlah kita mengalihkan pembicaraan lain dan beritahukanlah kepada kami mengenai sesuatu yang mengagumkanmu dari apa yang pernah engkau saksikan dari Rasulullah.” Maka ia (‘Aisyah) pun menangis dan kemudian berkata: “Semua perkara yang dilakukannya sungguh mengagumkan. Pada malam giliranku, beliau pernah mendatangiku, lalu beliau masuk dan tidur bersamaku di tempat tidurku sehingga kulitnya menyentuh kulitku, kemudian beliau bersabda: “Ya Aisyah, izinkan aku beribadah kepada Rabb-ku,” Maka ‘Aisyah pun berkata: “Sesungguhnya aku senang sekali berada di sisimu, tetapi aku pun menyukai keinginanmu itu (beribadah kepada Allah).”
Lebih lanjut ‘Aisyah menceritakan, setelah itu Rasulullah berjalan menuju ke tempat air yang terdapat di dalam rumah dan berwudhu dengan tidak memboroskan air. Seusai berwudhu’ beliau membaca al-Qur’an dan kemudian menangis hingga aku melihat bahwa air matanya membasahi janggutnya. Selanjutnya beliau duduk, lalu memanjatkan pujian kepada Allah. Setelah itu beliau menangis hingga aku melihat air matanya jatuh sampai ditenggorokannya. Kemudian beliau membaringkan diri pada lambung sebelah kanan dan meletakkan tangannya di bawah pipinya, lalu beliau menangis hingga aku melihat air matanya jatuh ke lantai.
Setelah itu Bilal masuk menemuinya, lalu ia mengumandangkan adzan shalat Subuh, dan kemudian ia mengatakan: “Shalat, ya Rasulullah.” Ketika melihatnya sedang menangis, Bilal mengatakan: “Ya Rasulullah, mengapa engkau menangis sedang Allah telah memberikan ampunan kepadamu atas dosa yang telah engkau kerjakan maupun yang belum engkau kerjakan.” Maka beliau bersabda: “Wahai Bilal, tidakkah aku boleh menjadi hamba yang bersyukur?” Dan bagaimana aku tidak menangis sedang pada malam ini telah turun ayat, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bum, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa Neraka.” Selanjutnya beliau bersabda: “Celaka bagi orang yang membaca ayat-ayat ini lalu ia tidak memikirkan apa yang ada di dalamnya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya.
(alquranmulia)

Surah Al-Fajr سورة الفجر - Abu Usamah Syamsul Hadi



Tadabbur Surat Al-Fajr [89]

DEMI WAKTU FAJAR*

 

Mukaddimah: Waktu yang Penting

Menurut jumhur mufassirin Surat Al-Fajr diturunkan Allah di Makkah setelah Surat Al-Lail([1]). Dinamakan demikian karena dibuka dengan sumpah Allah yang menggunakan waktu fajar([2]). Surat ini memuat tiga pokok tema besar: pertama, setelah bersumpah Allah mengisahkan tentang umat terdahulu yang mendustakan para utusan-Nya serta menjelas-kan kondisi tragis yang menimpa mereka sebagai akibat dari sikap sombong dan pembangkangan mereka. Kedua, surat ini membicarakan sunnah (hukum) Allah yang ada di dunia ini. Yaitu cobaan yang akan dijalani setiap manusia, dari kesenangan atau kesulitan; kelapangan atau kesempitan hidup, kemiskinan dan tabiat manusia yang sangat mencintai harta dan dunia. Ketiga, surat ini ditutup dengan pembicaraan tentang hari akhir dengan berbagai macam perniknya([3]). Jika dalam surat al-Ghasyiah dibahas dan ditengarai penduduk neraka atau penghuni surga, maka dalam surat ini juga ada perbedaan antara an-nafs al-muthma`innah (jiwa yang tenang) dengan jiwa yang buruk yang selalu mengajak pada keburukan. Pada saat berpisah dengan jasad terjadi perbedaan yang mendasar.
SUMPAH-SUMPAH ALLAH
Dalam surat ini Allah membukanya dengan sumpah dengan menggunakan waktu fajar. “Demi fajar” (QS. 89: 1)
Yang dimaksud di dini adalah fajar yang sesungguhnya. Karena kita mengenal ada dua jenis fajar. Yaitu fajar kadzib dan fajar shadiq. Dan yang dimaksud dalam ayat ini adalah yang shadiq. Yaitu waktu shubuh. Dinamakan demikian karena ia membuyarkan waktu malam, dan dengan datangnya fajar maka malam segera berakhir. Allah juga menggunakan nama lainnya untuk bersumpah, yaitu seperti yang terdapat dalam surat at-Takwir ayat 18, “Dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing” (QS. : 18). Dan ini terjadi setiap hari, sebagaimana penafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Ikrimah, Mujahid, Abu Shalih dan as-Suddy([4]). Dengan sumpah ini tentu fajar merupakan suatu waktu yang diistimewakan Allah. Di dalamnya kita memulai kehidupan. Di dalamnya kita diwajibkan bersujud dan shalat pada-Nya. Di dalamnya rizki-rizki Allah dibagikan.
Kemudian Allah bersumpah  “Dan demi malam yang sepuluh” (QS. 89: 2).
Menurut sebagian para pakar tafsir yang dimaksud di sini adalah 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah([5]). Sebagian lagi ada yang menafsirkannya dengan 10 hari terakhir di bulan Ramadhan([6]) karena di dalamnya terdapat malam lailatul qadar. Menurut pendapat yang lain, yang dimaksud di sini adalah 10 hari pertama bulan Muharam karena di dalamnya terdapat hari Asyura([7]), hari ketika Musa as dan Bani Israel diselamatkan Allah dari kejaran Fir’aun. Allah menenggelamkan Fir’aun bersama bala tentaranya.
Kemudian Allah melanjutkan sumpah-Nya. “Dan yang genap dan yang ganjil” (QS. 89: 3)
Ada banyak pendapat yang menafsirkan sumpah ketiga ini. Sebagian ulama menafsirkannya dengan hari Arafah dan Hari Idul Adha. Sebagian lagi mengatakan bahwa genap menunjukkan makhluk Allah dan witir mengisyaratkan penciptanya (khâliq). “al-watru” dalam ayat ini dibaca fathah wawu-nya sebagaimana bacaan jumhur qurra`. Yaitu bacaan kabilah Quraisy. Sedang bacaan yang menggunakan kasrah pada huruf wawu adalah bacaan kabilah Tamim([8]).
Ala kulli hal, dua bilangan di atas digunakan manusia dalam kehidupannya. Dan Allah bersumpah dengan hal yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Karena manusia, demikian juga makhluk-Nya masuk dalam bilangan tersebut. Genap atau ganjil.
Keempat kalinya Allah bersumpah. Kali ini dengan mengulangi menyebut waktu malam. “Dan malam bila berlalu” (QS. 89: 4)
Malam yang dimaksud dalam ayat ini adalah sebagaimana waktu malam yang setiap hari kita lalui dan selalu diakhiri dengan terbitnya fajar. Meskipun ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud di sini adalah malam Idul Adha.
Keempat hal yang dipergunakan Allah dalam bersumpah sangat menarik untuk diperhatikan. Terlebih penegasan untuk memperhatikannya dalang setelah Allah bersumpah dengan keempat hal tersebut. “Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal” (QS. 89: 5)
1.    Waktu Fajar
2.    Sepuluh malam
3.    Bilangan ganjil dan genap
4.    Waktu malam bila berlalu.
Pertama Allah bersumpah dengan fajar, waktu yang dimuliakan Allah. Kemudian Sepuluh malam mengindikasikan jumlah dan waktu. Bahwa di antara malam-malam yang dilalui manusia setiap hari pasti ada sebagian waktu yang dimuliakan Allah. Yaitu sepuluh malam yang dipakai bersumpah dalam ayat ini terlepas dari perbedaan ulama mengenai maksud dari malam-malam tersebut. Inti dari pembatasan ini adalah bahwa ada waktu-waktu tertentu yang diistimewakan Allah. Manusia yang cerdas akan menggunakannya dengan baik. Menginvestasikan waktunya untuk bekal masa depannya. Kemudian bilangan genap dan ganjil mengindikasikan adanya pasangan dalam kehidupan manusia. Ini adalah sunnah Allah. Allah menciptakan sebagian besar ciptaan-Nya secara berpasangan. Selain itu dengan bilangan ini seolah Allah juga mengingatkan bahwa manusia berada dalam batasan dua jenis bilangan tersebut. Maka gunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya.
Bila malam telah sirna dan hari berganti terang. Ini akan bermakna jika kita mau memikirkannya secara mendalam. Bahwa kegelapan akan selalu berganti dengan cahaya yang terang. Menandakan bahwa tiada kekekalan dalam kehidupan dunia. Maka bersabarlah dan teruslah berusaha. Akan datang setelah malam cahaya yang dinanti-nantikan manusia, waktu ia akan menggunakannya bekerja. Sebaliknya, kelelahan bekerja akan sirna bila waktu malam datang. Saat sebagian besar manusia menggunakannya untuk beristirahat.
Demikianlah, Allah memberikan karunia kepada manusia berupa waktu. Tapi waktu tersebut selalu ada batasnya. Hanya orang cerdaslah yang bisa memanfaatkan waktu yang diberikan Allah dengan baik. Dan menjadi tabiat serta karakteristik waktu adalah selalu berputar dan tidak pernah berhenti sejenak pun.
Kisah-Kisah Kaum Terdahulu
            Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad? (yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi.  Yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain”. (QS. 89: 6-8)
Kaum Ad adalah kaum Nabi Hud as. Keturunan Ad bin Ash bin Iram bin Sam bin Nuh. Penamaan ini menggunakan penamaan kakek moyang mereka. Yaitu orang-orang yang terkenal kuat. Yang menjadikan kota Iram sebagai kota yang sangat me-nakjubkan. Mereka menjadikannya pusat peradaban. Maka mereka bangun gedung-gedung yang menjulang tinggi dan kokoh yang tidak dijumpai di manapun saat itu. Kota Iram([9]) mereka sulap dengan gemerlap dan kemegahan yang luar biasa. Orang-orang yang menyaksikannya akan langsung tahu ketinggian peradaban mereka. Namun, ketinggian peradaban dan kekuatan fisik mereka tidaklah berarti jika mereka mendus-takan ajaran Allah swt. Nabi Hud yang diutus untuk mengingatkan mereka dan menun-jukkan jalan hidayah, mereka dustakan. Padahal sebelumnya mereka mengenal Hud sebagai saudara yang baik serta terpercaya. Tetapi setelah Hud mendakwahi mereka dengan risalah yang dibawanya dari Allah, sikap mereka berbalik memusuhinya. Maka, Allah musnahkan mereka. “Adapun kaum ‘Ad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah lapuk” (QS. 69: 6-7)
            Kekuatan fisik dan ketinggian peradaban tak mampu menolong mereka untuk menghalangi dan menghindarkan dari murka Allah yang murka-Nya tiada terbendung oleh siapa dan apapun.
            “Dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah” (QS. 89: 9)
            Adapun kaum Tsamud yang datang setelah Kaum ‘Ad musnah, tidaklah pandai mengambil pelajaran dan ibrah dari peristiwa dan sejarah keangkuhan serta kesombongan. Mungkin karena mereka memiliki fisik yang kuat mereka bahkan mampu memahat gunung-gunung batu dan kemudian menjadikannya sebagai hunian yang asri dan nyaman([10]).
            Nikmat dan karunia yang sangat dahsyat ini tidaklah dibalas dengan kesyukuran dan perilaku yang baik. Hati mereka membatu. Jika mereka bisa memahat dan mengukir batu, tidaklah demikian hati mereka yang menjadi keras melebihi batu. Hal ini pun tercermin dari keangkuhan mereka ketika meminta Nabi Shalih untuk menunjukkan mukjizat Allah dan tanda kerasulannya. Mereka meminta batu-batu yang ada di hadapan mereka bisa mengeluarkan seekor unta. Dan setelah mukjizat ini benar-benar terjadi. Unta yang dipesankan oleh Nabi Shalih supaya tak disakiti, dengan sengaja mereka sembelih. Hanya sekedar untuk menyelisihi perintah dan petuah sang nabi. Maka, hati dan watak orang-orang yang membatu seperti ini memang sangat laik jika kemudian diadzab oleh Allah([11]).
Dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak. Yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri. Lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu”. (QS. 89: 10-12)
Demikian juga contoh ketiga yang Allah ceritakan dalam surat ini. Fir’aun, bukanlah orang pertama yang angkuh dan sombong yang kemudian mematut-matutkan diri sebagai Tuhan padahal ia sangat ringkih dan penakut. Betapa ia lebih laik untuk disebut sebagai penakut. Karena ia sangat menakuti dan mencemaskan seorang bayi laki-laki dari kalangan Bani Israel. Hanya karena satu bayi laki-laki itu saja, ia kemudian mengerahkan segala kekuatan dan pengaruhnya untuk membunuh ribuan manusia dan sebagian besar adalah anak-anak kecil yang tak berdaya. Melawan tentaranya dengan persenjataan lengkap. Dan ketika kekhawatirannya menjadi nyata ia kemudian gelap mata. Untuk menutupi ketakutannya ini kemudian ia kumpulkan semua rakyatnya dan dengan congkak ia kemudian “…. berkata: Akulah Tuhan kalian yang paling tinggi”. (QS. 79: 24)
Ia memang memiliki pasukan yang sangat banyak dan kuat. Ia juga bisa membangun peradaban yang terus diingat orang-orang yang hidup setelahnya. Karena ia memiliki para teknokrat yang brilian yang dikomandoi Haman. Juga para ekonom dan akademisi serta kalangan profesional yang lain serta futurolog-futurolog, peramal dan para tukang sihir yang semuanya menopangnya menjadikan Mesir menjadi salah satu negara yang disegani saat itu. Tapi mengapa ia kerahkan semua kelebihan-kelebihan itu untuk memerangi Musa, anak tirinya yang hidup dan tumbuh dewasa di istananya. Yang para pengikutnya adalah kumpulan orang-orang lemah. Hanya karena Musa membawa risalah pengesaan dan penghambaan kepada Allah swt. Ia kejar Musa dan kaumnya, Bani Israel hingga perbatasan darat dengan laut merah. Pertolongan Allah pun datang. Musa membelah laut dengan tongkatnya. Fir’aun pun segera menyusulnya. Namun, Allah lebih cepat mengembalikan Laut Merah menjadi seperti semula. Fir’aun dengan segala kekuatan pasukan dan semua keangkuhannya tenggelam. Tak mampu menghadapi tentara Allah yang kali ini bernama air.
Adapun pasak-pasak yang dimaksud di sini adalah yang disediakan untuk menyiksa orang-orang yang membangkang. Jumlahnya empat digunakan untuk mengikat kaki dan tangan dan terdapat diberbagai tempat dan dijaga oleh tentara-tentara Fir’aun yang kejam. Sebagaimana yang dituturkan Imam al-Alusy([12]).
Karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi ([13]). (QS. 89: 13-14)
Orang-orang yang diberi kenikmatan seperti di atas dan kemudian tidak mau bersyukur. Tidak juga bersedia mengindahkan peringatan Allah melalui utusan-utusan-Nya. Maka, adzab Allah lebih tepat untuk mereka. Dan Allah terus mengawasi mereka dari waktu ke waktu. Namun, mereka tidak juga melakukan perubahan.
Kemuliaan dan Kehinaan
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: Tuhanku telah memuliakanku. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya, maka dia berkata: Tuhanku meng-hinakanku”. (QS. 89: 15-16)
Inilah standar kebanyakan manusia dalam menilai Allah. Betapa pendeknya pandangan mereka. Kesalahan persepsi ini didasarkan pada beberapa penilaian:
1.    Membatasi rizki Allah hanya berbentuk materi yang bisa dilihat dengan kasat mata, padahal rizki Allah sangat luas. Selain berbentuk materi rizki Allah bisa berupa: kesehatan, ilmu, ketenangan jiwa dan sebagainya
2.    Standar kemuliaan tidaklah dilihat dari materi yang ada pada seseorang. Demikian juga bahwa kehinaan tidaklah selamanya melekat pada orang miskin yang tak berharta. Tak sedikit orang kaya yang hina di mata sesamanya juga dalam pandangan Allah swt karena perilakunya yang buruk. Juga tidak sedikit orang miskin yang mulia karena akhlak dan kualitasnya.
3.    Ujian Allah disikapi dengan prasangka buruk. Padahal seharusnya karunia Allah yang dianugerahkan mesti disyukuri dan dimanfaatkan dengan baik. Bila ada yang tidak sesuai dengan kehendak, maka sabar adalah sebaik-baik bekal dalam menghadapinya. Karena pada hakikatnya kekayaan dan kemiskinan adalah ujian Allah pada manusia dengan kondisi yang berbeda-beda.
Dengan persepsi yang salah tentang rizki ini akan berdampak pada sikap dan perilaku manusia. Mereka menjadi kikir dan sangat mencintai dunia. Secara lebih spesifik Allah menggambarkannya sebagai berikut:
Pertama, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim” (QS. 89: 17)
            Penyimpangan pertama yang terjadi akibat salah persepsi mengenai rizki dan harta adalah menyia-nyiakan anak yatim dan menerlantarkan mereka. Padahal anak yatim yang miskin secara fisik dan psikis itu perlu dilindungi dan disayangi.
Kedua, “Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin” (QS. 89: 18)
            Rasa kikir ini berlanjut dengan tidak mau memberi makan kepada fakir miskin. Bah-kan ia menganjurkan kepada orang lain untuk melakukan hal tersebut. Keburukan tabiat dan perilakunya membuatnya juga berusaha membentuk komunitas yang buruk. Yaitu komunitas yang menginginkan kekayaan hanya digenggam di tangan beberapa orang saja, supaya mereka bisa mengendalikan segalanya dengan harta. Apa yang mereka inginkan –dalam pandangan mereka- pasti selalu bisa didapatkan dengan harta dan uang.
Ketiga, “Dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil)” (QS. 89: 19)
            Yang lebih buruk dari dua hal tersebut adalah perbuatan memakan harta warisan. Ini adalah orang yang paling buruk. Ia memakan harta yang tidak menjadi haknya, kemudian harta yang dimakannya tersebut adalah hak saudaranya([14]). Ia melakukan dua penyim-pangan sekaligus. Penyimpangan harta dan penyimpangan ukhuwah. Terlebih penggunaan kata “ta’kuluna” yang berarti memakan mengindikasikan kerakusan untuk dinikmati sendiri dan memperturutkan syahwat perut tanpa peduli kondisi dan hak saudaranya.
            Ibnu Zaid mengatakan: tambahan kata “lamma” ini untuk menguatkan kerakusannya. Ia memakan tanpa memperdulikan apakah yang dia makan itu halal atau haram, sehingga ia kehilangan rasa malu([15]).
Keempat, “Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan” (QS. 89: 20)
Kesalahan dan penyimpangan-penyimpangan yang didasarkan atas sifat kikir di atas jika tidak dilawan maka akan mengkristal. Pada saat sudah menjadi watak maka seseorang akan benar-benar sulit melepaskan diri dari materi. Saat itu ia benar-benar sangat mencintai dunia dengan kecintaan yang berlebihan yang akan menghancurkan-nya. Tidakkah cukup kisah Qarun menjadi cermin atas petaka yang diakibatkan oleh kecintaan yang berlebihan terhadap dunia?
Imam al-Qurthuby menafsirkan  kecintaan ini maksudnya adalah kecintaan yang berlebihan dalam mengumpulkan harta serta tidak menunaikan haknya dengan sedekah dan zakat([16]).
Berhentinya Kecintaan Pada Dunia
            “Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut. Dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.” (QS. 89: 21-22)
            Keniscayaan yang tak bisa dihindari oleh manusia dan semua yang bernafas adalah menjumpai kematian. Bila ia mati, maka ia dipisah paksa dengan dunia yang sangat dicintainya. Sebelumnya ia tak sadar bahwa sikap salahnya tersebut kelak akan menghancurkannya. Karena kematian bukalah akhir dari segalanya. Nantinya, saat semua manusia dibangkitkan kembali dari matinya. Allah mendatangi mereka semua untuk meminta pertanggungjawaban. Para malaikat berbaris, ditugaskan Allah menjadi panitia pengurusan hari akhir.
            “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya” (QS. 89: 23)
            Saat semua tersingkap barulah orang-orang yang lalai tersadar. Panasnya neraka sudah terasakan, dan mereka segera mengingat kesalahan demi kesalahan yang dilakukan. Penyesalan dan mengingat hal yang demikian pada saat itu tidaklah berguna. “Dia mengatakan: Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini” (QS. 89: 24). Karena penyesalan di saat yang demikian menjadi sia-sia dan akan semakin membuat mereka menderita. Penderitaan di atas penderitaan. Fisik dan jiwa merana karena salah memilih sikap di dunia.
            “Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa seperti siksa-Nya. Dan tiada seorangpun yang mengikat seperti ikatan-Nya” (QS. 89: 25-26)
            Dzat yang serba maha hari itu terlihat dengan jelas kekuasaan-Nya. Orang yang tadinya beriman dan yakin akan kebesaran dan kekuasaan-Nya akan semakin puas. Dan orang yang mengingkari-Nya pada hari itu terpaksa mengakuinya dengan berjuta penyesalan. Karena murka dan azdab-Nya sangat pedih dan menyakitkan. Tiada yang sanggup menghindar dari siksaaan-Nya. Tidak pula ada yang sanggup menghalangi-Nya untuk berbuat apa saja. Semua hijab telah dibuka. Karena hari itu adalah hari pembalasan. Selesailah hari perjuangan dan amal. Hanya tinggal menunggu hasil dan ganjarannya saja.
Jiwa yang Tenang
            “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku”. (QS. 89: 27-30)
Adapun orang-orang beriman yang memiliki jiwa yang tenang, saat perpisahan dengan jasad pun malaikat-malaikat-Nya memperlakukan dan memanggilnya dengan lembut. Sang pencabut nyawa juga berusaha tidak menyakiti saat memisahkan ruh dari jasad orang baik tersebut. Meskipun tetap saja usaha tersebut tidak berhasil, karena perpisahan jiwa dan raga tetap menyisakan rasa sakit yang tak terperikan. Saat raga di pendam di dalam perut bumi, jiwa yang tenang tersebut mi’raj ke langit.
Jiwa yang tenang tinggalkanlah dunia dengan segala kepenatannya. Dengan tenang temui Tuhanmu” Demikian Abu Abdirrahman As-Sulamy mengomentari ayat di atas([17]).
Ia telah ditunggu penduduk langit yang menantikannya. Ia disambut dengan senyum. Ia segera bergabung dengan kafilah orang-orang salih dan bertaqwa. Kemudian ia nikmati fasilitas yang serba mewah yang telah Allah sediakan untuknya dan hamba-hamba-Nya yang baik. Semoga kita termasuk ke dalam golongan jiwa yang tenang. Amin.
Jakarta, Selasa, 26 Januari 2010

* Tadabbur surat Al-Fajr (Waktu Fajar): [89], Juz Amma (30)
** Mahasiswa Program S3 Jurusan Tafsir dan Ilmu al-Qur’an Universitas al-Azhar, Cairo
([1]) lihat: Jalaluddin as-Suyuthi, al-Itqân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H, hlm. 20-22; Badruddin az-Zarkasyi, al-Burhân fi ‘Ulûmi al-Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H, Vol.1, hlm. 249. Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suar al-Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet.I, 2004 M/1424 H, vol.2, hlm.797 
([2]) Prof. Dr. Jum’ah Ali Abd. Qadir, Op.Cit, hlm. 799.
([3]) Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ijazu al-Bayan fi Suar al-Qur’an, Cairo: Dar Ali Shabuni, 1986 M-1406 H, hlm. 296.
([4]) Ibnu Jarir ath-Thabary, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil Ay al-Qur’an, tahqiq: Mahmud Syakir, Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Araby, Cet.I, 2001 M-1421 H, Vol. 30, hlm. 204. Al-Baghawy, Ma’alim at-Tanzil, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M-1424 H, Vol.IV, hlm. 450.
([5]) Ini adalah pendapat Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Ikrimah, Masruq, Adh-Dhahak, Ibnu Zaid (Jami’ al-BayanOp.Cit, hlm. 205-206) Menurut Imam Qurthuby, juga merupakan pendapat As-Suddy, Mujahid dan al-Kalby (al-Qurthuby, al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an, Cairo: Darul Hadits, 2002 M-1423 H, Vol.X, hlm. 291)
([6]) Pendapat ini mengacu pada riwayat Aisyah ra yang menjelaskan tentang ibadah Nabi saw yang lebih giat di sepuluh terakhir bulan Ramadhan (Syihabuddin al-Alusy, Ruhul Maani, Beirut: Dar al-Fikr,  1997 M-1417 H, Vol. 30, hlm. 215-216)
([7]) Ini juga karena ada anjuran berpuasa sunnah pada hari Asyura’ dengan menambah satu atau dua hari sebelum atau sesudahnya (Ibid. hlm. 216)
([8]) Ibid. hlm. 217-218
([9]) Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud Iram adalah kota di Syam (Damaskus). Ada juga yang mengatakan: Alexandria (lihat tesis penulis: Kitab Lawami’ al Burhan wa Qawathi’ al-Bayan fi Ma’ani al-Qur’an Karya Imam al-Ma’iny, Cairo: Universitas al-Azhar Jurusan Tafsir, 2006, Vol.2, hlm. 842) Namun, dua pendapat ini dilemahkan oleh para ulama. Karena Ad merupakan kaum Arab al-Baidah yang telah punah. Mereka berada di semenanjung Arab di bagian selatan (Ruhul MaaniOp.Cit, Vol. 30, hlm. 221). Juga Syeikh Shafiurrahman al-Mubarakfury, Ar-Rahiq al-Makhtum, terjemah: Kathur Suhardi, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, Cet.II, Januari 2009, hlm. 2
([10]) Mereka diberi kelebihan kekuatan fisik dan mampu memahat gunung-gunung batu serta menjadikannya tempat tinggal (Az-Zajjaz, Ma’ami al-Qur’an wa I’rabuhu, Cairo: Darul Hadits, 2004 M/1424 H, Vol.V, hlm. 246, juga lihat: Abu Zakaria Al-Farrâ’, Ma’ani al-Qur’an, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.1, 2003 M/1423 H, Vol.III, hlm. 150)
([11]) Simaklah kisah mereka dalam surat al-A’raf “Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu”. Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. dan mereka berkata: “Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)”. Karena itu mereka ditimpa gempa, Maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka”. (QS. 7: 76-78).
([12]) lihat Ruh al- Ma’anyOp.Cit, Vol. 30, hlm 223-224.
([13]) Tak ada sesuatupun yang tidak diketahui oleh Allah. Dia takkan pernah melewatkan sedikitpun per-kataan dan perilaku manusia. Karena Dzat Yang Maha Hidup ini tidak pernah tertidur atau mengantuk barang sekejap. Demikian penjelasan Imam al-Kalby (Al-Baghawi, Ma’alim at-TanzilOp.CitVol.IV, hlm. 453) dan disitir al-Qurthuby dalam tafsirnya (al-Qurthuby, Op.Cit, Vol.X, hlm. 300)
([14]) Terutama ahli waris yang perempuan atau yang masih anak. Pada zaman Jahiliyah orang Arab tidak memberikan warisan kepada perempuan dan anak-anak (Al-Baghawi, Ma’alim at-TanzilOp.CitVol.IV, hlm. 454)
([15]) Ibid.
([16]) Kurang lebih seperti yang dituturkan al-Qurthuby dalam tafsirnya al-Jami’ li Ahkami al-Qur’anOp.Cit, Vol. X, hlm. 303.
([17]) Haqa’iq at-Tafsir, tahqiq: Sayyed Imran, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2001 M-1421 H, Vol.IIhlm. 394

(Dr. H. Saiful Bahri, M.A - https://saifulelsaba.wordpress.com)



Murottal Quran 30 Juz Sheikh Maahir Al Mu'ayqali

Shalat Tepat Waktu !

KOLEKSI CERAMAH MP 3

Popular Posts

Blog Archive

Diberdayakan oleh Blogger.

Al Qur'anku

Mushaf Al Qur'an

Jazakumullah Khayran

Daftar Isi

Al Qur'an dan Murotal

TvQuran

Kajian Ilmu Tajwid