Al ‘Allamah Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rohimahulloh berkata dalam Asy Syarh Al Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni’ (II/13) cet. Jannatul Afkar (edisi lima jilid) Mesir,
“Adapun kesehatan badan, maka obatnya ada dua macam, yaitu:
Macam pertama, obat (pengobatan) yang bersumber dari syariat. Ini adalah obat yang paling sempurna & kuat karena ia datang dari Allah yang
telah menciptakan badan-badan, tentu Dia mengetahui penyakit-penyakit dan penawar-penawarnya.
Pengobatan yang bersumber dari syariat ada dua macam, yaitu:
1. Penawar yang berwujud materi. Seperti firman Allah, ‘Dari perut-perutnya (lebah) keluar minuman yang bermacam-macam warnanya; di dalamnya terkandung penawar (obat) bagi manusia.’ [An Nahl: 69] Juga sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam berkenaan dengan jinten hitam (habbah sauda’), ‘Sesungguhnya ia merupakan (jinten hitam) penawar untuk segala penyakit kecuali saam.’ yaitu maut. [Riwayat Al Bukhari; Kitab Ath ThibbBab Al Habbah As Sauda' (5687) & Muslim; BabAt Tadawi bil Habbah As Sauda' (2215) (88)]. Begitu pula sabda beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam tentang cendawan, ‘Cendawan itu termasuk dari karunia. Airnya adalah obat untuk sakit ‘ain.’ Dan semacamnya. Ini semua adalah pengobatan yang berbentuk materi dari Al Quran & Hadits Nabawi.
2. Pengobatan secara maknawi yang bersifat kerohanian. Yang demikian itu dengan membacakan (doa atau Quran) kapada orang yang sakit. Dan boleh jadi yang seperti ini pengaruhnya lebih kuat dan cepat.
Lihatlah ruqiah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam terhadap orang-orang yang sakit. Kamu akan menjumpai orang yang sakit itu sembuh saat itu juga.
Tetkala hari-hari perang Khaibar beliau bersabda, ‘Sungguh esok aku akan memberikan sebuah panji kepada seseorang yang dengannya Allah membuka (kemenangan). Dia mencintai Allah & Rasul-Nya, dan Allah & Rasul-Nya pun juga mencintainya.’ Di malam itu pun orang-orang membicarakan tentang siapa gerangan seseorang ini? Ketika hari sudah pagi, mereka mendatngi Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Setiap orang menampakkan diri kepadanya, karena akan mendapatkan sifat ini, yaitu bahwa ia mencintai Allah & Rasul-Nya, dan dicintai Allah & Rasul-Nya. Beliau bersabda, ‘Lha Mana ‘Ali bin Abu Thalib?’ Mereka pun menjawab, ‘Kedua matanya sedang sakit.’ Lalu beliau meminta agar ia didatangkan, dan dibawalah ‘Ali ke hadapan baginda. Kemudian beliau meludahi kedua matanya (‘Ali) dan mendoakannya, sembuhlah seketika seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Selanjutnya Rosululloh memberikan panji itu kepadanya (‘Ali). [Riwayat Al Bukhari; Kitab Fadhail Ash Shahabat, Bab Manaqib 'Ali bin Abi Thalib (3009) & Muslim; KitabFadhail Ash Shahabah, Bab Fadhail 'Ali bin Abi Thalib (2406) (34)]
Demikian juga dengan kisah sariyyah (pasukan perang yang tidak diikuti Nabi) yang menawarkan diri kepada sebuah kaum agar diperkenankan bertamu, namun kaum itu enggan menerima mereka sebagai tetamu. Mereka pun menuju ke suatu arah. Maka Allah menghendaki kala jengking menggigit kepala kampung kaum yang tadi enggan menjadikan para shahabat sebagai tamu itu.
Setelah pak kepala kampung tadi tersengat (kala jengkin), kaumnya bertanya-tanya, ‘Siapa yang bisa meruqiyah?’ Sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, ‘Lihatlah kepada sekelompok itu yang singgah menemui kalian agar diperkenankan bertamu, tapi tidak kalian terima. Bisa jadi di tengah mereka (sariyyah) ada yang bisa membacakannya (ruqiyah).’
Mereka pun mendatangi sariyyah tersebut dan bertanya. Para shahabat menjawab, ‘Ya. Di antara kami ada yang bisa membacanya. Tapi tadi pas kami memohon untuk dijadikan tamu, malah kalian enggan menjadikan kami tamu. Karena itu, kami tidak akan meruqiyah kecuali dengan imbalan. Kaum itu pun menjanjikan beberapa ekor kambing. Salah seorang dari sariyyah itu pun pergi untuk meludah dan membacakan Surah Al Fatihah kepada orang yang tersengat tadi. Dia hanya mengulang-ngulang Al Fatihah sadja. Lalu bangkitlah orang tersengat kala jengking itu seakan-akan terlepas dari tali kekang.
Setelah mereka bertemu Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian itu, beliau pun bertanya, ‘Dari mana kau tahu bahwa Al Fatihah itu adalah ruqiyah.?’ [Riwayat Al Bukhari; Kitab Al IjarahBab Ma Yu'tho fi Ar Ruqiyyah 'ala Ahyail 'Arob bi Fatihatil Kitab (2276), dan Muslim; Kitab As Salam, Bab Jawaz Akhdzil Ujroh 'ala Ar Ruqiyyah (2201) (65)]
Ini merupakan pengobatan cara Nabi, akan tetapi maknawi karena dengan bacaan. Dan sudah berapa banyak kita menyaksikan & mendengarkan dari mereka yang berpengaruh kuat terhadap orang-orang yang sakit, lebih berpengaruh daripada pengobatan materi yang diperoleh dari percobaan.
Macam kedua, pengobatan berbentuk materi yang diketahui dari percobaan. Itulah yang ditangani para dokter yang belajar di perguruan tinggi lalu mengetahui (ilmu)nya, atau mengadakan percobaan. Karena memang bisa didapati di antara manusia dari kalangan umum yang melakukan uji coba pada rerumputan dan darinya diperoleh faidah. Maka yang semacam ini jadilah mereka itu dokter-dokter tanpa pernah ada study (kuliah?) karena ini sudah bisa diperoleh melalui uji coba.” Allahua’lam.[]-http://almarwadi.wordpress.com

0 komentar:

Poskan Komentar

top