Mukaddimah

Banyak manusia yang mengklaim dirinya telah beriman tetapi pada kenyataannya ia jauh dari disebut sebagai orang beriman. Apakah klaim seperti itu sudah cukup? Apa rahasia di balik adanya ujian bagi umat manusia? Silahkan ikuti selanjutnya!
---------------------------- Huruf Arab ----------------------------
Alif laaf miim,[1]. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?[2]. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta,[3]. Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (azab) Kami ? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu,[4]. Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang.Dan Dia-lah yang Maha Mendegar lagi Maha Mengetahui,[5]. Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri.Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari alam semesta,[6]. Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan,[7]

MAKNA GLOBAL AYAT

Alif Laam Miim, hanya Allah yang Maha mengetahui maksudnya. Demikianlah pendapat Salaf mengenai huruf-huruf seperti ini, yaitu menyerahkan ilmunya hanya kepada Dzat Yang menurunkannya (Allah SWT).

Firman-Nya, (Apakah manusia itu mengira* bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’), yakni mereka hanya cukup mengatakan seperti itu. (sedang mereka tidak diuji lagi? ) ; bahkan seharusnya diuji dengan beban-beban syari’at yang berat seperti hijrah, jihad, shalat, puasa, zakat, meninggalkan syahwat dan sabar terhadap derita. Sekali pun ayat ini diturunkan secara khusus kepada orang seperti ‘Ammar bin Yasir, Bilal dan ‘Iyasy, namun ia bersifat umum sebab yang menjadi tolok ukurnya adalah makna umum lafazhnya bukan kekhususan pada sebab terjadinya. Dalam ayat ini, lafazhnya bersifat umum, sebab bila huruf “al” dirangkai dengan (ditambahkan pada) ism al-Jins (kata benda yang menunjukkan jenis sesuatu, yakni: kata Naas) maka maknanya mencakup semua elemen-elemennya alias siapa saja jenis/golongan manusianya.

Firman-Nya, (Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang** sebelum mereka); yakni dari umat-umat terdahulu. Dengan begitu, maka ini merupakan sunnah yang akan terus terjadi pada umat manusia, dan tidak seorang pun yang terhindar darinya.

Firman-Nya, (Maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar): dalam keimanan mereka. Yakni, Allah menampakkan hal itu*** dan memberitahukan perihalnya secara terbuka (dipersaksikan) setelah Dia mengetahuinya sebelum membuatnya ada (menciptakannya ke alam nyata) di mana Dia menakdirkan hal itu dan mencatat kadar segala sesuatu, yaitu dengan cara mengembankan beban syari’at kepada mereka, untuk selanjutnya mereka jalankan apa yang diembankan kepada mereka tersebut, baik berupa Af’aal (perbuatan-perbuatan) atau Turuuk (larangan-larangan, pantangan) yang sulit-sulit. Sebab, hijrah, jihad dan zakat adalah Af’aal sementara meninggalkan riba, zina dan khamar adalah Turuuk.

Firman-Nya, (Dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta) ; di mana mereka mengaku beriman namun ketika diuji dengan beban-beban syari’at tersebut, nyatanya mereka tidak melakukannya sehingga tampaklah ketikdaktulusan mereka. Sungguh klaim bahwa mereka itu beriman adalah dusta belaka.

Firman-Nya, (Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (azab) Kami? )****; kata Hasiba maknanya Zhanna (kedua-duanya bermakna: mengira, menyangka).

Firman-Nya, (Orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu); yaitu berupa kesyirikan dan perbuatan-perbuatan maksiat.

Firman-Nya, (Bahwa mereka akan luput dari (azab) Kami? ); yakni luput dari Kami lalu Kami tidak menimpakan azab terhadap mereka.?

Firman-Nya, (Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu); yakni terhadap diri mereka sendiri. Buruknya ketetapan mereka itu karena ia mengandung kerusakan sebab mereka melakukan itu berdasarkan perkiraan/persangkaan mereka bahwa Allah Ta’ala tidak mampu memberikan sanksi hukum apa-apa terhadap mereka padaha Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Mereka juga mengira bahwa Dia tidak mengetahui perbuatan mereka padahal Dia atas segala sesuatu Maha Mengetahui.

Firman-Nya, (Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang); yakni yang mengharap pertemuan dengan Allah. Artinya, beriman dan menjadi cita-citanya pertemuan dengan Allah. Hal ini terjadi pada hari Kiamat kelak, karena itu hendaklah ia mengetahui bahwa waktu yang dijanjikan Allah itu pasti akan datang. Dan untuk itu pula, hendaklah ia bersiap-siap menyongsong pertemuan dengan-Nya dengan melakukan hal yang selaras dengan itu, yaitu beriman dan beramal shalih setelah menghindarkan diri dari syirik dan amalan yang rusak. Dari sini, klaim seseorang bahwa ia berharap pertemuan dengan Rabbnya sekali pun belum beramal shalih, ia akan tetap diberi pahala adalah klaim yang tidak benar. Allah Ta’ala berfirman mengenai hal ini di dalam surat al-Kahf, “Barangsiapa mengharap pertemuan***** dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.”

Firman-Nya, (Dan Dia-lah yang Maha Mendegar lagi Maha Mengetahui); yakni Dia Ta’ala Maha Mendengar semua ucapan para Hamba-Nya, Maha Mengetahui niat-niat dan perbuatan-perbuatan mereka. Klaim iman dari seorang hamba baik secara zhahir maupun bathin, tidak ada artinya selama ia tidak membuktikannya, yaitu dengan iman dan jihad terhadap musuh****** secara zhahir dan bathin.

Firman-Nya, (Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri); yakni manfa’at ibadah ini akan kembali kepada si hamba itu sendiri sedangkan Allah tidak membutuhkan secara mutlak akan perbuatan hamba-Nya. Inilah yang ditunjukkan ayat, (Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari alam semesta); yakni para malaikat, manusia, jin dan seluruh makhluk sebab semua yang selain Allah adalah alam semesta.

Firman-Nya, (Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka); ini merupakan janji dari Allah Ta’ala kepada siapa saja hamba-Nya yang beriman. Hal ini karena keimanan dan amal shalihnya baik berupa perbuatan atau pun larangan/pantangan di mana Dia Ta’ala menghapuskan dosa-dosanya yang dulu diamalkannya sebelum Islam dan sesudahnya. Pengertian “Dia menghapuskan dari mereka dosa-dosa mereka” adalah Dia menutupinya dan tidak menuntut mereka dengan hal itu (dosa-dosa itu) seakan mereka tidak pernah melakukannya.

Firman-Nya, (Dan benar-benar akan Kami beri mereka); yakni atas amal-amal shalih mereka.

Firman-Nya, (Balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan); yakni dengan sebaik-baik amalan yang pernah mereka lakukan sehingga menjadi berlipat-lipat ganda besarnya. Ini semua itu berkat kemuliaan-Nya atas para hamba-Nya yang shalih agar Dia membalas kebaikan itu dengan beratus-ratus lipat ganda.

PETUNJUK AYAT

Di antara petunjuk ayat-ayat di atas adalah:
· Penjelasan sunnah bahwa iman dapat dibenarkan atau didustakan melalui amal
· Penjelasan dimungkinkannya pembebanan sesuatu yang oleh jiwa berat untuk dilakukan atau ditinggalkan
· Peringatan kepada orang-orang yang terbuai bahwa sekali pun suatu siksaan datangnya terlambat, tapi ia pasti terjadi
· Buah jihad akan kembali kepada Mujahid itu sendiri, karena itu tidak pantas ia menghitung-hitungnya di hadapan Allah dengan mengatakan, aku sudah melakukan ini dan itu
· Penetapan akan keyakinan mengenai kebangkitan dan hari pembalasan dengan menyebutkan janji yang akan diberikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih


* Mujahid dan ulama lainnya mengatakan, “Ayat ini turun untuk menghibur beberapa shahabat yang disiksa di kota Mekkah, yang tidak dapat ikut berhijrah. Mereka adalah Salamah bin Hisyam, ‘Iyasy bin Rabi’ah, al-Walid bin al-Walid, ‘Ammar bin Yasir beserta ayahnya Yasir dan ibunya, Sumayyah. Sebab hati masing-masing mereka ini merasa sesak dengan siksaan yang dialami bahkan barangkali timbul semacam pengingkaran kenapa Allah memberikan kesempatan kepada orang-orang Kafir untuk menyiksa orang-orang beriman

** Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Khabbab bin al-Aratt, dia berkata, “Kami mengadu kepada Rasulullah SAW ketika beliau berbantal dengan burdah (kain bergaris untuk diperselimutkan) miliknya d bawah naungan Ka’bah seraya bertutur kepadanya, ‘Tidakkah engkau meminta pertolongan untuk kami? Tidakkah engkau berdoa untuk kami?’ Lalu beliau menjawab, ‘Dulu ada orang sebelum kalian yang pernah digalikan lobang untuknya di tanah, lalu ia dibenamkan di situ, lalu dihadirkan gergaji yang membelah kepalanya hingga terpotong menjadi dua, kemudian daging dan tulangnya disisir dengan sisir yang terbuat dari besi namun hal itu semua tidak sedikit pun membuatnya berpaling dari agamanya. Demi Allah, sungguh Dia akan menyempurnakan urusan ini (Islam) hingga kelak ada orang yang melakukan perjalanan dari Shan’a (ibukota Yaman sekarang,-red.,) menuju Hadlramaut dalam kondisi tidak takut kecuali kepada Allah dan seperti takutnya terhadap srigala yang ingin memangsa ternak kambingnya, namun kalian ini terlalu terburu-buru.’” Ibn Majah juga meriwayatkan dari Sa’d bin Abi Waqqash seraya berkata, ‘Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah SAW, ‘Siapakah manusia yang paling berat cobaan atasnya.?’ Beliau bersabda, ‘Mereka adalah para Nabi kemudian orang yang seperti mereka dan seterusnya. Seseorang diberi ujian seukuran pengetahuan agamanya; jika ia orang yang tegar dalam agamanya, maka akan sangat beratlah cobaan untuknya dan jika ia orang yang lemah agamanya, maka ia diuji seukuran pengetahuan agamanya. Dan senatiasalah ujian/bencana itu bersama seorang hamba hingga Dia membiarkannya berjalan di muka bumi dengan tanpa mendapatkan satu dosa pun.’”

*** Di dalam sebuah hadits, “Barangsiapa yang merahasiakan suatu rahasia, maka Allah akan menampakkannmya kepadanya.”

**** Ibn ‘Abbas berkata, “Yang dimaksud dengan mereka adalah al-Walid bin al-Mughirah, Abu Jahal. Al-Aswad bin al-‘Ash bin Hisyam dan Syaibah, ‘Utbah dan al-Walid; semuanya anak ‘Utbah, ‘Uqbah bin Abi Mu’ith, Hanzhalah bin Abu Sufyan dan al-‘Ash bin Wa`il

***** al-Qurthubi berkata, “Para Ahli Tafsir bersepakat bahwa maknanya adalah barangsiapa yang takut mati, maka hendaklah ia beramal dengan amalan shalih sebab ia (kematian) pasti akan menjelangnya

****** Yang dimaksud adalah berjihad melawan musuh yang secara zhahir, yaitu kaum kafir dan secara bathin yaitu diri sendiiri

(SUMBER: Aysar at-Tafaasiir karya Syaikh Abu Bakar al-Jazairy)  - alsofwah.or.id

0 komentar:

Poskan Komentar

top