Al-aza’ artinya ‘sabar‘. Sedangkan ta’ziah adalah menyabarkan orang dan membawanya kepada sifat sabar dengan menyebutkan apa-apa yang menghibur orang yang tertimpa musibah dan membuat keringanan serta kemudahan baginya.
إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ، وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى فَمُرْهَا فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ
“Sesungguhnya bagi Allah apa yang Dia ambil dan baginya pula apa yang Dia berikan. Segala sesuatu baginya ada memiliki masa-masa yang telah ditetapkan, maka perintahkan kepada dia untuk bersabar dan mohon pahala (dari Allah).”[1]
Perawi hadits ini adalah Shahabat Usamah bin Zaid Radhiyallahu Anhu.
Haditsnya adalah ucapannya Radhiyallahu Anhu,
كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ إِحْدَى بَنَاتِهِ تَدْعُوهُ، وَتُخْبِرُهُ أَنَّ صَبِيًّالَهَا –أَو اِبْنًا لَهَا- فِي الْمَوْتِ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ارْجِعْ إِلَيْهَا فَأَخْبِرْهَا… فَعَادَ الرَّسُولُ فَقَالَ: إِنَّهَا قَدْ أَقْسَمَتْ لِتَأْتِيَنَّهَا، قَالَ: فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَامَ مَعَهُ سَعْدُ بْنُ عُبَادَةٍ وَمُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ، وَانْطَلَقْتُ مَعَهُمْ، فَرُفِعَ إِلَيْهِ الصَّبِيُّ، وَنَفْسُهُ تَقَعْقَعَ كَأَنَّهَا فِي شَنَّةٍ، فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ، فَقَالَ لَهُ سَعْدٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: هَذِهِ رَحْمَةٌ جَعَلَهَا اللَّهُ فِي قُلْبِ عِبَادِهِ، وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ
“Kami sedang berada bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kemudian salah seorang putri beliau mengirim utusan kepada beliau guna memanggil beliau sekaligus menyampaikan kepada beliau bahwa bayinya -atau anaknya- sedang sakaratul maut. Beliau bersabda kepada utusan itu, ‘Pulanglah kepadanya, lalu sampai-kan kepadanya ….’ Utusan itu datang lagi, lalu berkata sesungguhnya  putrinya  telah bersumpah bahwa  beliau harus datang. Perawi berkata, ‘Maka Nabi Shallallahu Alaihi tua Sallam bangkit dan turut bangkit pula bersama beliau Sa’ad bin Ubadah dan Mu’adz bin Jabal.’ Aku berangkat  bersama  mereka.   Disodorkan  kepada  beliau anak itu yang nafasnya telah tersengal-sengal dan bersuara seakan-akan berada dalam kantong air dari kulit yang kerang. Berlinanglah air mata kedua mata beliau. Maka,  Sa’ad  berkata  kepada  beliau,  ‘Apa   ini  wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Ini adalah  rasa kasih sayang dalam hati para hamba-Nya. Sesungguhnya Allah mengasihi di antara para hamba-Nya yang Pengasih.”
Ungkapan فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ إِحْدَى بَنَاتِهِ ‘salah seorang putri beliau mengirim utusan kepada beliau‘, dia adalah Zainab Radhiyallahu Anha sebagaimana disebutkan dalam sebagian riwayat-riwayat.
Ungkapan إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ، وَلَهُ مَا أَعْطَى  ’sesungguhnya bagi Allah apa yang Dia ambil, dan bagi-Nya pula apa yang Dia berikan‘. Didahulukan penyebutan ‘pengambilan’ sebelum ‘memberi’, sekalipun dalam kenyataan sebaliknya karena konsekuensi maqam. Artinya, apa-apa yang hendak Allah Ta’ala mengambilnya adalah bahwa sesuatu itu justru yang Dia berikan. Jika Dia mengambilnya, maka sesungguhnya Dia mengambil milik-Nya.
Ungkapan وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى ‘segala sesuatu bagi-Nya ada memiliki masa-masa yang telah ditetapkan’, dengan kata lain, dari pengambilan dan pemberian, atau apa yang lebih luas dan umum daripada itu.
Ungkapan وَلْتَحْتَسِبْ ‘dan mohon pahala (dari Allah)‘, dengan kata lain, berniat ketika tetap bersabar menghadapinya adalah dalam rangka mencari pahala dari Rabbnya. Agar diperhitungkan bahwa baginya semua itu; dan semua itu adalah bagian dari amal shalihnya.
Ungkapan إِنَّهَا قَدْ أَقْسَمَتْ لِتَأْتِيَنَّهَا ‘sesungguhnya putrinya telah bersumpah bahwa beliau harus datang‘. Yang jelas, pada mulanya beliau enggan untuk menegaskan ketika beliau menunjukkan sikap menyerahnya. Akan tetapi, putrinya menuntut dan bersumpah bahwa beliau harus datang untuk mencegah apa yang menimpa putrinya berupa sesuatu yang menyakitkan.
Ungkapan وَنَفْسُهُ تَقَعْقَعَ ‘nafasnya telah tersengal-sengal dan bersuara’Al-qa’qa’ah adalah suara sesuatu yang kering jika digerakkan.
Ungkapan كَأَنَّهَا فِي شَنَّةٍ ‘seakan-akan berada dalam kantong air dari kulit yang kering‘. Asy-syannu adalah kantong tempat air minum dari kulit yang kering. Maka, badan dimiripkan dengan kulit kering, dan gerakan ruh di dalam-nya dengan apa-apa yang dilemparkan pada kulit berupa kerikil atau semacamnya.
وَإِنْ قَالَ: أَعْظَمَ اللهُ أَجْرَكَ، وَأَحْسَنَ عَزَاكَ، وَغَفَرَ لِمَيِّتِكَ، فَحَسَنٌ
“Jika seseorang mengatakan, ‘Semoga Allah membesarkan pahalamu, membaguskan kesabaranmu, dan mengampuni mayitmu’, maka itu bagus.”[2]
An-Nawawi Rahimahullah dalam kitabnya, Al-Adzkar, sebelum menyebutkan dzikir ini berkata, “Adapun lafazh ta’ziah tiada batasan padanya. Dengan lafazh seperti apa pun, maka cukuplah. Sedangkan para sahabat kami -yakni para pengikut madzhab Asy-Syafi’i- dalam ta’ziah seorang Muslim kepada seorang Muslim lainnya mengucapkan … (do’a ta’ziah di atas -red.).”[]
Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 407-410.  Terbitan Darul Falah, Jakarta.

[1] Al-Bukhari, (2/80), no. 1284; dan Muslim, (2/636), no. 923.
[2]
 ‘Al-Adzkar, karya An-Nawawi. hlm. 126.
http://doandzikir.wordpress.com

0 komentar:

Poskan Komentar

top