Sudahkah anda tilawah da tadabbur Al Qur'an hari ini ?

Humor Haji (2)


Lauk Pilihan
Wasmo, lelaki lanjut yang baru pertama kali naik pesawat.Kepergiannya naik haji ini adalah kesempatan perdananya mengenal enaknya naik pesawat.
Dengan sedikit mengantuk, ia didatangi pramugari. Oleh pramugari ia ditawari makanan. “ Mau lauk daging sapi apa ayam, Pak?”
“Nggak, nggak, saya nggak pesen. Saya masih kenyang,” tolak Wasmo. “Ah, saya kan harus ngirit, jangan sampai duit habis sebelum sampai di tujuan,” gumamnya.
“Bapak, ini jatah Bapak. Gratis. Bapak tidak perlu membayar,” bujuk pramugari sembari tersenyum.
“Apa? Tidak perlu membayar?” setengah tak percaya Wasmo bertanya.
Pramugari mengangguk. Masih tersenyum. Wasmo tersenyum malu. “ Daging ayam sajalah kalau begitu, Jeng.”

Waktu Haji
Menurut Surat Al- Baqarah ayat 197, waktu haji adalah beberapa ( 3 ) bulan yang sudah maklum. Para mufasir dan para ulama mengatakan yang dimaksud adalah Syawal, Zulqaidah dan Zulhijah. Menurut ulama Hanbaliyah, waktu haji yang dimaksud adalah keseluruhan hari selama tiga bulan tersebut. Menurut ulama Hanafiyah, Malikiyah dan Syafi’iyah, yang dimaksud adalah seluruh hari di bulan Syawal dan Zulqaidah ditambah 10 hari pertama bulan Zulhijah.
“Dengan argumen seperti itu, waktu pelaksanaan ibadah haji tak hanya sekitar 6 hari, yakni hari – hari ke – 8,9, 10, 11, 12, 13 pada bulan Zulhijah,” Masdar F. Mas’udi, pemikir Islam melontarkan pemikirannya.
“Bukankah ada hadis khudzuu ‘anny manasikakum. Ambillah dariku manasik kalian,” ulama lain berargumen.
“Hadis ini harus kita ikuti sebatas menyangkut prosesi ( manasik ) ibadah haji, bukan menyangkut waktu, dalam arti tanggal atau hari – harinya,” Masdar kembali berargumen.
“Lalu, bagaimana dengan hadis yang berbunyi Al – hajju ‘arafah. Haji adalah Arafah?” balik ulama teman diskusinya.
“Tapi puncak di Arafah itu bukan tanggal 9 Zulhijah saja. Tetap dalam rentang 3 bulan itu,” Masdar masih berargumen.
Ulama tadi setengah kelabakan. Akhirnya ketemu ide nyeleneh juga. “Oke deh Pak Masdar. Gimana seandainya Anda sendiri wukuf pada bulan Syawal?”
“Wah, ya kurang seru. Masak wukuf sendirian,” jawab Masdar asal ngomong.

Jangan Dicopot
Setelah mendarat dengan selamat, pramugari mengumumkan bahwa sabuk pengaman boleh dilepas. Rupanya jamaah haji yang baru pertama kali naik pesawat melepas kedua sabuk yang dipakainya: sabuk pengaman dan sabuk celana.
“Aduh, Bapak, nanti ...... kelihatan. Sabuk yang ini jangan ikut dicopot ya,” bujuk pramugari Sita sambil menunjuk celana panjang Pak Tanthowi.

  Makam Nabi Ibrahim
Selesai melakukan thawaf qudum, Haji Sulana melakukan shalat sunah 2 raka’at di belakang makam Ibrahim. Selesai shalat sunah, ia mengamati isi makam Ibrahim. Tak bisa menyembunyikan keheranannya, ia bertanya kepada pembimbingnya.
”Ustaz Zamroni, saya heran mengapa makam Nabi Ibrahim begitu pendek? Bukankah orang – orang jaman dulu tinggi – tinggi dan besar- besar?” tanya Haji Sulana.
“Ini bukan kuburan Nabi Ibrahim, Pak Sulana. Tapi bekas pijakan beliau saat mendirikan ka’bah,” jawab Ustaz Zamroni sembari tersenyum.
“Oooh…”

 Joki Hajar Aswad
Di masjidil Haram ternyata banyak joki. Bukan joki UMPTN, tapi mencium Hajar Aswad. Mereka kebanyakan mahasiswa di Saudi Arabia dan sekitarnya. Mereka membisiki jamaah yang tampaknya menginginkan mencium Hajar Aswad tapi takut atau kesulitan. Suatu saat mahasiswa ini menghampiri Sutarno menawarkan jasa joki.
“Mau saya bantu, Pak?”
“Mau, mau, Dik.”
“Cuma 10 riyal, Pak.”
“Mahal banget. 5 riyal ya.”
“Umumnya memang segitu, Pak.Ini sudah murah.”
“Murah apanya. Pantesan Rasulullah tidak menggunakan joki karena mahal begitu,” gerutu Sutarno.

 Daftar Doa
Sudah menjadi tradisi bahwa setiap ada orang naik haji,  para tetangganya selalu menitipkan doa. Begitu juga ketika Pak Baron naik haji. Pak RT menitip doa agar usahanya lancar. Bu Djoko menitipkan doa agar anaknya diterima di Perguruan Tinggi ternama. Bang Kodir menitip agar memperoleh jodoh yang salehah.Dan masih banyak lagi.
Begitulah, seusai melakukan thawaf qudum, Pak Baron membaca daftar penitip doa satu per satu berikut doa yang harus dipanjatkan di depan multazam. Nahas baginya, ketika baru ada lima doa yang dibacakan, ia tersenggol orang Nigeria yang tinggi dan besar. Terbanglah kertas berisi daftar tersebut.
Dengan lemas, Pak Baron berharap, “ Ya, Allah, Engkau Maha Tahu. Amin.”





(Sumber: images.hasanbisribfc.multiply.multiplycontent.com)







0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More