Friday, 28 September 2012
Obsesi mendapatkan pengalaman spiritual selalu menjadi munajat setiap umat muslim ketika menunaikan ibadah haji yang momentumnya hanya setahun sekali dan menjadi satu rukun Islam yang wajib ditunaikan bagi yang mampu.

Begitu pun Sekretaris Fraksi Partai Hanura Saleh Husin,saat menunaikan ibadah haji pada 2001 lalu.Dia mengaku banyak mendapatkan pengalaman spiritual yang hanya sulit didapatkan dalam ibadahibadah keseharian.Salah satu ibadah di Mekkah saat berhaji yang hingga saat ini masih tertanam dalam hati karena begitu terkesan dan seperti mendapatkan getaran di hati, adalah ketika menjalankan salat magrib tepat di depan Hajar Aswad.

Momentum itu sangat membekas di hati Saleh, karena untuk bisa di posisi strategis itu dia dan istrinya harus melalui proses ibadah yang tidak ringan. Sejak salat asar,dia dan istri sengaja langsung melakukan tawaf dan terus dilakukan hampir tiga jam sampai waktu magrib tiba. Sambil terus tawaf,Saleh dan istrinya pun merangsek dengan berdesak-desakan di antara jutaan jamaah lain, hingga akhirnya saat waktu magrib tiba,tepat dirinya ada di depan Hajar Aswad.

“Itu sudah saya niatkan sejak awal,makanya begitu salat asar,saya langsung tawaf dan terus mendekati Hajar Aswad.Jadi begitu selesai salat magrib,saya dan istri juga ikut mendapatkan kurma yang dibagikan langsung oleh imam dan takmir di situ.Saya merasakan mendapatkan berkah yang begitu hebat rasanya karena tidak semuanya bisa menjalankan ibadah salat magrib tepat di depan Hajar Aswad,”ungkap Saleh.

Hal lain yang dia kenang saat itu adalah diberikan kemudahan dari segi fasilitas dan tempat yang strategis, sehingga lebih memberikan rasa nyaman saat beribadah. Berangkat haji melalui jalur umum dari kloter DKI Jakarta, Saleh yang saat itu satu kloter dengan Lukman Hakim Saifuddin (sekarang wakil ketua MPR) mendapatkan pemondokan yang cukup dekat dengan Masjidilharam, karena hanya berjarak sekitar 100 meter.

Namun,hal itu tetap tidak mudah bagi Saleh untuk menjalankan syarat wajib ibadah haji,karena saat itu selain dengan istrinya dia juga bersama dengan bapak dan ibu mertuanya.Mereka yang sudah berusia tua tetap perlu mendapatkan pendampingan karena fisik sudah cukup lemah.Tugas mendampingi itu pun dia rasakan betul saat melaksanakan lempar jumrah di Mina. Namun,dengan semangat dan rasa penuh keikhlasan,Saleh bisa selesai mengerjakan syarat-syarat wajib haji dengan lancar.●
http://www.seputar-indonesia.com

0 komentar:

Poskan Komentar

top