Pada hari-hari pertama Rasulullah jatuh sakit, demamnya makin parah. Sungguh pun begitu, ketika demamnya menurun, beliau tetap pergi ke masjid untuk memimpin  shalat.  

Hal ini beliu lakukan selama berhari-hari. Tapi tidak lebih dari shalat, Rasulullah sudah tidak kuat duduk bercakap-cakap dengan para sahabat. Walau demikian, beliau juga mendengar bisikan orang tentang penunjukan Usamah bin Zaid sebagai komandan perang untuk menyerang Romawi.

Rasulullah merasa perlu berbicara kepada kaum Muslimin perihal penunjukan Usamah. Suatu ketika, beliau pergi ke masjid. Setelah duduk di atas mimbar, Rasulullah mengucapkan puji dan syukur kepada Allah, kemudian mendoakan dan memintakan ampunan para sahabat yang telah gugur di Uhud.  

"Saudara-saudara, laksanakanlah keberangkatan Usamah itu," kata Rasulullah. 
"Demi hidupku. Kalau kalian telah banyak bicara tentang kepemimpinannya, tentang kepemimpinan ayahnya dulu pun juga kalian banyak bicara. Dia sudah pantas memegang pimpinan, seperti ayahnya dulu juga pantas memegang pimpinan."

Beliau diam sebentar. Sementara itu orang-orang juga diam, tiada yang bicara. Kemudian beliau meneruskan, "Seorang hamba Allah oleh Tuhan telah disuruh memilih antara dunia dan akhirat dengan apa yang ada pada-Nya, maka ia memilih yang ada pada Tuhan."
 
Rasulullah diam lagi, dan orang-orang juga diam tidak bergerak. Tetapi Abu Bakar segera mengerti, bahwa  yang dimaksud oleh Nabi dengan kata-kata terakhir itu adalah dirinya. Dengan perasaannya yang sangat lembut dan besarnya persahabatannya dengan Nabi, Abu Bakar tak dapat menahan air mata dan menangis sambil berkata, "Tidak. Bahkan engkau akan kami tebus dengan jiwa kami dan anak-anak kami."

Khawatir keterharuan Abu Bakar ini akan menular kepada yang lain, Rasulullah memberi isyarat kepadanya, "Sabarlah, Abu Bakar!"

Kemudian beliau meminta agar semua pintu yang menuju ke masjid ditutup, kecuali pintu yang ke tempat Abu Bakar. Setelah semua pintu ditutup, Rasulullah berkata lagi, "Aku belum tahu ada orang yang lebih bermurah hati dalam bersahabat dengan aku seperti dia. Kalau ada dari hamba Allah yang akan kuambil sebagai khalil (teman kesayangan) maka Abu Bakarlah khalilku. Tetapi persahabatan dan persaudaraan ialah dalam iman, sampai tiba saatnya Allah mempertemukan kita."

Ketika Rasulullah turun dari mimbar, sedianya beliau akan kembali pulang ke rumah Aisyah, tapi beliau menoleh lagi kepada orang banyak dan berpesan,"Saudara-saudara Muhajirin, jagalah kaum Anshar itu baik-baik! Sebab, selama orang bertambah banyak, orang-orang Anshar akan seperti itu juga  keadaannya, tidak  bertambah. Mereka itu orang-orang tempat aku menyimpan rahasiaku dan yang telah memberi perlindungan kepadaku. Hendaklah kamu berbuat baik atas kebaikan mereka itu dan maafkanlah kesalahan mereka."
Rasulullah kembali ke rumah Aisyah. Dan kondisi beliau semakin bertambah parah. Keesokan harinya, beliau berusaha hendak bangun untuk memimpin shalat seperti biasanya, namun sudah tidak kuat lagi. Saat itulah Rasulullah berkata, "Suruh Abu Bakar memimpin orang-orang shalat!"

Aisyah ingin sekali Nabi sendiri yang memimpin shalat karena merasa beliau tampak berangsur sembuh. "Tapi Abu Bakar orang yang lembut hati, suaranya lemah dan suka menangis kalau sedang membaca Alquran," kata Aisyah.

Aisyah pun mengulangi kata-katanya itu. Namun, Rasulullah tetap meminta Abu Bakar menjadi imam shalat. Abu Bakar pun datang dan memimpin shalat seperti diperintahkan oleh Nabi.

Pada suatu hari, karena Abu Bakar tidak ada di tempat ketika dipanggil oleh Bilal untuk jadi imam, maka Umarlah yang dipanggil untuk memimpin orang-orang shalat sebagai pengganti Abu Bakar. Suara Umar yang lantang ketika mengucapkan takbir di masjid, terdengar oleh Rasulullah dari rumah Aisyah.

"Mana Abu Bakar?" tanya beliau. "Allah dan kaum Muslimin tidak menghendaki yang demikian."

Dengan demikian orang dapat menduga, bahwa Nabi menghendaki Abu Bakar sebagai penggantinya kemudian, karena memimpin orang-orang shalat sudah merupakan tanda pertama untuk menggantikan kedudukan beliau.

Tatkala sakitnya sudah makin keras, panas demamnya makin memuncak. Para istri beliau dan tamu-tamu yang datang menjenguk seolah merasakan sakit yang diderita Rasulullah. Dan Fatimah, putrinya, setiap hari datang menengok. Rasulullah sangat mencintai putrinya itu, cinta seorang ayah kepada anak yang hanya tinggal satu-satunya sebagai keturunan.

Ketika Fatimah datang menemui Nabi, beliau menyambut dan menciumnya, lalu mendudukkannya di tempat beliau duduk. "Selamat datang, putriku," kata Rasulullah lalu mendudukkan Fatimah di sampingnya. 

Nabi  kemudian berbisik kepada sang putri tercinta. Fatimah menangis. Kemudian beliau membisikkan lagi kata-kata lain, dan Fatimah pun tertawa. Ketika hal itu ditanyakan oleh Aisyah, Fatimah menjawab, "Sebenarnya, aku tidak akan membuka rahasia Rasulullah."

0 komentar:

Poskan Komentar

top