Sudahkah anda tilawah da tadabbur Al Qur'an hari ini ?

Tafsir Surat An Nuur Ayat Ayat 39-40

Surat An Nuur terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surat-surat Madaniyah. Dinamai An Nuur yang berarti Cahaya, diambil dari kata An Nuur yang terdapat pada ayat ke 35. Dalam ayat ini, Allah menjelaskan tentang Nuur Ilahi, yakni Al Quran yang mengandung petunjuk-petunjuk bagi dan rahmat seluruh alam.  Arti dari Surat An-Nuur ayat 39 sebagai berikut “Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya”. Dalam ayat ini Allah mengisahkan kisah orang-orang kafir terkait dengan amal perbuat yang mereka kerjakan selama di dunia. Allah menggunakan metode amtsal yang berarti permisalan dalam menyampaikan ayat ini. Syekh Natsar Asy-Sa'di menuliskan “Hadzani matsalani”, yang artinya yaitu “ini adalah 2 permisalan (tentang orang-orang kafir)”.
Al-amtsal adalah salah satu metode Allah dalam menjelaskan beberapa ayat-ayat di dalam Al-Quran. Metode Al-Amtsal ini menjadi metode yang sangat penting bagi para ulama dalam membahas tafsir dan memberikan perhatian yang besar terhadap metode ini. Hal ini dikarenakan Allah menjelaskan perkara-perkara yang besar seperti hal-hal yang berkaitan dengan keimanan, keislaman, orang-orang munafik menggunakan metode ini dengan membuat sebuah perumpamaan-perumpamaan. Contohnya firman Allah, pada Surat ke Al-Hasyr ayat 21, ”Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir”.
Dalam ayat diatas, Allah memberikan gambaran tentang kedahsyatan Al-Quran, sampai-sampai sendainya  Al-Qur'an itu diturunkan ke gunung yang besar, maka gunung itu akan hancur. Di lain sisi, ketika Al-Qur'an ini diturunkan kepada manusia, ada beberapa dari mereka yang justru berpaling dari Al-Quran sehingga manusia yang secara fisik adalah tersusun dari daging dan tulang, hati-hati mereka menjadi justru semakin keras melebihi kerasnya batu. Padahal, gunung yang tersusun atas batuan-batuan keras saja Allah gambarkan akan hancur seandainya Allah menurunkan Al-Quran kepadanya.  
Al-Imam Ibnu Qoyyim membuat buku khusus yang membahas mengenai permisalan-permisalan yang ada dalam Al-Quran dengan judul bukunya “Al-Amtsal fil Qur'an”, sehingga dengan permisalan-permisalan itu, harapannya seseorang akan dapat mengambil pelajaran-pelajaran, kaidah-kaidah yang sangat banyak yang terkandung pada suatu ayat. Yang tentunya ini akan didapatkan bagi orang-orang yang berakal yang menggunakan akalnya dengan cara yang baik. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-'Ankabuut ayat 43 “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu”. Salah seorang sahabat yang bernama Amr-Ibnul Ash sampai berkata demikian, “Saya menghafal dan memahami dari Rasulullah sallallahu’alaihi wassalam lebih dari 1000 permisalan”.
Untuk mengetahui apakah dalam sebuah ayat terdapat suatu amtsal atau tidak dapat ditandai dengan adanya huruf “Kaf” yang berarti seperti, atau “Al-Mitsl”, yang menunjukkan suatu permisalan. Tetapi juga ada beberapa yang tidak menggunakan kata “Kaf” maupun“Al-Mitsl”. Hal ini bisa diketahui dengan penelaahan yang lebih mendalam terhadap ayat-ayat yang terkait.
Orang-orang kafir yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah orang-orang yang menisbahkan dirinya kepada agama samawi. Arti dari agama samawi itu sendiri adalah agama yang berasal dari wahyu. Sedangkan ada juga di dunia ini yang merupakan agama budaya, yakni agama ciptaan manusia itu sendiri. Dan mereka orang-orang kafir meyakini bahwa mereka mengikuti ajaran para Nabi. Akan tetapi ketika mereka dituntut untuk beriman dan mengilmuinya, mereka malah justru berpaling.  Sehingga di sini orang kafir adalah orang-orang yang menisbahkan kepada agama samawi akan tetapi mereka berpaling untuk mengimani dan mengilmui Al-Quran dan As-Sunnah.
Allah membuat permisalan terhadap amalan mereka, amal-amal yang mereka sangka adalah amalan yang dirasa bisa mendekatkan diri meraka kepada Allah. Allah mengatakan bahwa perbuatan mereka yang dilakukan meski dengan niat yang baik dan tulus, amalan tersebut seperti layaknya fatamorgana yang ada ditanah yang datar. Dimana orang-orang haus itu menyangka bahwa di sana ada air dan berangan-angan ingin mengambil air tersebut. Sama halnya ketika manusia nanti berada di padang mahsyar mereka, tidak beralas kaki, tidak berkhitan, dan  tidak memakai pakainan, sehingga Aisyah pun sempat bertanya kepada Rasulullah “Apakah nanti mereka tidak saling melihat satu sama lain ?”. Dan Rasul pun menjawab “Tidak mungkin, karena pada saat itu ada permasalahn yang sangat besar yang sedang melanda diri mereka, yang mereka inginkan saat itu hanyalah agar mereka selamat dari permasalahan yang besar tersebut”.
Sama seperti ketika orang-orang haus terdorong untuk mendatangi tempat berair, dan ketika dia mendatangi fatamorgama tersebut, orang haus itu tidak ia dapati apapun. Hal ini menggambarkan bahwa apa-apa yang mereka (orang-orang kafir) kerjakan selama didunia itu seakan-akan terlihat baik dan itu tidak akan mendapatkan balasan apapun dari Allah. Seandainya mereka melakukan kebaikan dengan tulus ikhlas, maka kebaikan itu akan dicatat akan sebagai kebaikan pula. Seperti dalam masalah muammalah, ada orang-orang kafir yang amalnya justru lebih baik dari pada orang-orang muslim itu sendiri. Akan tetapi ketika mereka di hari kiamat nanti, mereka mengangka itu suatu kebaikan bagi mereka, tetapi sekali lagi Allah menggambarkan itu sebagai suatu fatamorgama belaka. Maka ketika mereka mendatanginya, mereka tidak mendapatkan suatu apa-apa. Amalan mereka akan Allah datangkan dijadikannya debu-debu yang bertaburan.
Uraian di atas juga bisa ditarik kesimpulan bahwa kebaikan-kebaikan mereka (orang-orang kafir) juga akan dicatat. Kebaikan mereka akan dicatat selama mereka melakukan dengan niat yang tulus ikhlas. Apakah nanti itu dibalas dengan pahala atau tidak, ini tergantung dari akhir kehidupan orang tersebut. Rasulullah sallallahu’alaihi wassalam bersabda bahwa “ Amal tergantung dari akhirnya”. Artinya apabila seseorang melakukan suatu tindak kebaikan, belum tentu akan dibalas oleh Allah, tetapi akan dicatat. Ketika orang kafir itu akhirnya masuk islam, maka islam itu akan menghapus kejelekan-kejelekan mereka. Hal yang sama juga berlaku pada orang beriman, amalan mereka juga akan dicatat. Tergantung bagaimanakah hidup di akhirnya. Ketika mereka mati dalam kondisi keimanan, maka kebaikan itu akan mendapatkan balasan yang baik pula, akan tetapi ketika mereka mati dalam keadaan murtad, maka mereka tidak akan pernah mendapatkan balasan kebaikan atas amalannya selama didunia. Mereka orang-orang kafir mendapatkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah. Amal-amal mereka menjadi amalan yang sia-sia. Allah Maha cepat perhitungannya. Inilah salah satu bentuk keadilan Allah. Imam Syafii dalam bukunya “Ar-Risalah”, menjelaskan bagaimana ketika orang islam menunaikan ibadah haji kemudian ia murtad, akan tetapi kemudian ia masuk islam lagi. Di buku tersebut akan dijawab apakah mereka harus haji lagi atau tidak setelah kemurtadannya. 
Surat An-Nuur ayat 40, “Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun”. Ini adalah dua permisalan yang disebutkan oleh Allah. Yang pertama adalah seperti amalan orang-orang kafir itu fatamorgama. Di ayat selanjutnya digambarkan seperti kegelapan yang berlapis-lapis. Kegelapan yang dikarenakan karena kekufurannya, yang dikarenakan oleh kejahilannya dan kegelapan oleh subhat-subhat yang ada pada mereka. Mereka menyangka itu adalah kebaikan padahal itu adalah suatu tindak kebatilan. Firman Allah dalam surat Al-Kahfi ayat 103-105. “Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?". Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat”.
Pelajaran yang bisa kita ambil dari dua perumpamaan pada kedua ayat ini adalah kekufuran itu salah satunya disebabkan karena Al-I'rab, berpaling dari Al-Quran dan Hadits Rasulullah sallallahu’alaihi wassalam. Maka ketika ada satu perintah dari Al-Quran atau Hadits. Janganlah terburu-buru untuk menafikkan, seandainya belum mampu untuk melaksanakannya. Artinya kita akui saja itu sebagai suatu kelalaian karena kita belum melakukan perintah tersebut. Ketika kita sudah sampai menolaknya, maka kita akan mencari pembenarannya, dan tidak tanggung-tanggung pembenaran itu mencari alasan dari Al-Quran dan Hadits dengan cara disangkut-sangkutlan seadanya.
Al-Quran dan Hadits adalah sumber sebagai dasar hukum dalam islam dan kedudukan diantara keduanya adalah sejeajar, tidak bisa dipisahkan. Tidak bisa dikatakan hadits itu adalah sumber kedua dari hukum islam. Sumber hukum islam itu adalah Al-Quran dan Hadits yang merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Karena Al-Quran dan Al-Hadits mempunyai suatu fungsi. Hadits sebagai penjelas hal-hal yang bersifat umum di dalam Al-Quran atau sebagai penguat hukum yang telah ditetapkan dalam Al-Qur'an. Dan Hadits itu adalah berdiri sendiri di dalam menetapkan hukum. Maksudnya adalah ketika  ada hukum-hukum yang belum tercantumkan dalam Al-Qur'an tertapi Hadits Nabi sallallahu’alaihi wassalam telah menetapkannya. Ada kisah seorang wanita yang sedang berdialog dengan Abdullah Ibnu Mas'ud. Beliau berkata bahwa Rasulullah sallallahu’alaihi wassalam  melaknat orang yang ditatto dan yang menatto. Kemudian wanita itu menolak bahwa itu tidak ada dalam Al-Quran. Lalu berkatalah Ibnu Mas'ud “Apakah Anda pernah mendengan firman Allah yang artinya Ikuti apa yang datang dari Rasul dan apa yang Rasul larang maka tinggalkanlah”. Itu yang ada dalam Al-Quran meskipun tidak merinci secara detail. Akan tetapi ada kaidah dasar disana. Ketika seseorang belum bisa menjalankan apa yang Allah perintahkan dan belum bisa menghindari apa yang Allah larang, aggap saja itu sebagai suatu kelalaian. Khalid bin Walid berkata bawasannya, tidak ada yang lebih menyibukkan diriku dari membaca Al-Quran, kecuali untuk berjihad. Alasan yang seperti ini diterima karena beliau tidak sempat membaca Al-Quran dikarenakan sedang berjihad.
Ada orang yang beranggapan bahwa semua agama itu memiliki kesempatan yang sama untuk masuk syurga. Menggambarkan seperti jeruji-jeruji roda yang mengarah pada satu poros. Mengarah pada satu tujuan yang sama. Selanjutnya penyebab kekufuran tu dikarenakan seseorang mengikuti subhat. Subhat adalah kebatilan yang disamarkan yang akhirnya hampir nampak seperti kebaikan. Hikmah lain yang bisa diambil dari kedua ayat ini, bawasannya baiknya niat tidak menunjukkan benarnya amal, jika amal tersebut tidak mengikuti tuntutan rasul. 
Wallahu a'lamu bishowab. 
(Sumber: Buletin Annaba)

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More