Oleh: Ustadz Fariq Gasim Anuz

Musim Haji segera tiba, beberapa teman Imam Abdullah bin Mubarak (118-181 H) dari penduduk Maru (dekat Khurasan) datang kepadanya, mereka berkata, “Kami ingin menemanimu menunaikan ibadah Haji". Beliau menjawab; “Kalau begitu, kumpulkanlah biaya haji kalian kepadaku”. Beliau menerima uang dari masing-masing jamaah dan meletakkan di dalam sebuah peti dan menguncinya.

Beliau menyewa kendaraan dan memulai perjalanan dari Maru menuju Baghdad. Ia melayani dan menjamu mereka dengan aneka makanan yang lezat. Ia juga memberikan mereka pakaian yang baik dan pantas. Sesampainya di Madinah ia berkata kepada mereka semua, "Keluarga kalian meminta oleh-oleh apa dari Madinah?" Beliau lalu berbelanja pesanan keluarga mereka. Setelah sampai di Makkah dan setelah selesai menunaikan ibadah Haji, beliau bertanya kepada mereka semua tentang oleh-oleh dari Makkah yang diminta keluargarnya, lalu beliau berbelanja lagi untuk mereka. Beliau terus membiayai kebutuhan mereka sampai pulang ke kampung halaman di Maru.

Abdullah bin Mubarak lalu memperindah rumah-rumah mereka. Tiga hari kemudian, Beliau memberikan pakaian dan mengundang mereka makan. Setelah selesai makan Beliau mengambil peti tempat menyimpan bekal haji mereka dan membukanya kemudian mengembalikan uang mereka sesuai nama pemiliknya yang tertulis di setiap kantong”.

Diantara hikmah yang bisa kita petik dari kisah diatas:

Pertama: Pentingnya bepergian ditemani orang shalih apalagi ulama. Kita akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat, berkesan dengan akhlak mereka yang baik, terhindar dari dosa seperti menceritakan aib orang lain atau dosa lainnya, menambah iman dan cinta kepada Allah.

Kedua: Bepergian bersama merupakan madrasah untuk menyempurnakan kwalitas akhlak dan kepribadian kita. Kita dilatih untuk sabar, setia kawan, tidak egois, mengasah empati kita, bekerja sama dan lainnya.

Ketiga: Menjaga perasaan dan kehormatan kaum muslimin. Imam Abdullah bin Mubarak mengumpulkan bekal dan biaya perjalanan dari teman-temannya agar mereka menganggap bahwa perjalanan haji mereka atas biaya mereka sendiri dan tidak merasa terhina selama perjalanan. Ada Seorang jamaah haji mengumpulkan biaya patungan untuk makan dan transport dari teman-temannya yang satu kelompok. Ia ikut menombok kekurangannya dan ingin bersedekah tanpa diketahui teman-temannya.

Keempat: Jadilah pelayan masyarakat. Abdullah bin Mubarak tidak suka diistimewakan orang lain. Beliau sebagai Ulama besar malah senang melayani orang lain dan banyak menolong para Ulama, murid-murid, teman-teman, mujahid dan lainnya dengan ikhlas. Beliau memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya dengan berdagang bukan dari dakwah.
Kelima: Melayani jamaah haji merupakan kehormatan dan ladang amal shalih bagi setiap muslim. Ada seorang ibu ingin menunaikan ibadah haji, suami dan mahramnya tidak ada yang bisa menemaninya, akhirnya ia bersedekah dengan gelang-gelang emasnya (300 gram) dan meminta keponakannya untuk menjual emas dan hasilnya agar disedekahkan kepada jamaah haji di Tanah Suci untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Musim Haji segera tiba, bagi para muthawwif dan petugas yang melayani jamaah haji janganlah kita mempersulit dan mendzalimi jamaah Haji, mereka adalah tamu-tamu Allah. Petugas dan setiap muslim hendaknya memuliakan tamu Allah. Hendaknya kita memberikan pelayanan yang terbaik kepada jamaah Haji semaksimal yang kita mampu guna menggapai ridha Allah.

Barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan selalu memenuhi kebutuhannya. Barangsiapa memudahkan urusan saudaranya maka Allah akan memudahkan urusannya. - 
https://www.facebook.com/moslem.channel

0 komentar:

Poskan Komentar

top