Beliau adalah Abul A’war Said bin Zaid bin Amru bin Nufail al-Quraisyi Al-Adawi. Ayah beliau Zaid bin Amru bin Nufail adalah salah satu diantara manusia yang hanif (lurus) yang selalu mencari agama yang hanif yaitu agama Nabiyullah Ibrahim alaihisalam.
Dari tulang sulbi beliau (Zaid bin Amru bin Nufail) tumbuhlah seorang pemuda gagah pemberani sebagai penerus keutamaan keluarga terpandang dalam salah satu suku Quraisy, dialah bernama Said yang berarti “bahagia”. Maka sesuai dengan namanya ia adalah orang yang mendapatkan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia ia bahagia Karena telah diberi hidayah Islam di saat manusia tenggelam dalam kekufuran, di akhirat ia bahagia karena tempat beliau adalah surganya Allah Ta’ala.
zaid bin tsabit
Keutamaan Beliau
Pertama: Beliau termasuk salah satu sahabat as-Sabiqunal Awwalun (pertama yang memeluk Islam), Said bin Zaid pernah mengatakan :”Demi Allah sungguh aku melihat keadaanku tatkala itu bahwa Umar adalah harapanku untuk meninggikan Islam sebelum ia masuk Islam”. Dari keterangan beliau diatas dapat disimpulkan bahwa ke-Islaman beliau lebih dahulu ketimbang ke-Islaman Umar. Beliau termasuk sahabat yang turut serta merasakan penderitaan dan siksaan di awal-awal masa Islam.
Al Imam Abu Abdillah Al-Hakim meriwayatkan, “KeIslaman Said bin Zaid bin Amru adalah sebelum Rasulullahshalallahu `alaihi wassalam masuk ke Darul Arqom dan sebelum Rasulullah menampakan seruan kepada manusia untuk masuk Islam.
Kedua: Beliau adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Saib bin Zaid berkata Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam menyebutkan bahwa dirinya adalah orang kesepuluh dari sepuluh calon penduduk surga. Beliau menyebutkan,”Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Zubair di surga, Saad di surga, Abduraahman di surga, “kemudian dikatakan” lalu siapakah yang kesembilan ? “Beliau menjawab, “Dia adalah saya”.
Ketiga: Beliau adalah di antara para sahabat Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam  yang diberi kabar gembira berupa syahid di jalan-Nya. Said bin Zaid berkata, “Aku bersaksi atas Rasulullah shalallahu `alaihi wassalam  bahwa suatu hari beliau pernah berkata, “Tenanglah wahai (bukit) Hira’ karena di atasmu adalah seorang Nabi shiddiq dan syahid sedangkan yang bersama Nabi tatkala itu adalah sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, dan Saad bin Abi Waqqosh, Abdurrahman bin Auf dan Said bin Zaid”.
Keempat: Apabila beliau disakiti maka beliau segera kembali kepada Allah dan berhujjah dengan apa yang beliau dengar dari Rasulullah.
Suatu hari Arwa binti Uwais mengklaim bahwa Said bin Zaid telah mengambil sebagian dari tanah miliknya sehingga  wanita tersebut  mengadukan Said kepada Marwan bin Hakam lalu Said menjawab (membela diri), “Apakah aku mengambil sebagian tanah miliknya setelah aku mendengar hadits dari Rasulullah shalallahu `alaihi wassalam bahwa beliau bersabda, “Barangsiapa yang mengambil sejengkal tanah secara dzalim maka kelak akan dipikulkan kepada dirinya hingga bumi yang ketujuh”.
Lalu Marwan mengatakan kepada beliau, “Sungguh aku tidak akan meminta bukti darimu setelah ini.”
Lalu Said mengatakan, “Ya, Allah apabila wanita tersebut berdusta  maka butakan kedua matanya dan binasakanlah ia di tanah miliknya tersebut.”
Maka tidaklah Arwa meninggal kecuali ia buta kedua matanya, suatu ketika ia berjalan di tanah miliknya, tiba-tiba ia terperosok ke sebuah lubang dan meninggal di tempat tersebut. (HR Muslim, no. : 1231)
Kejadian tersebut tidaklah mengherankan karena Rasulullah shalallahualaihiwasal pernah bersabda :وَاتَّقُدَعْوَةَالْمَظْلُوْمِفَإِنَّهُلَيْسَبَيْنَهَاوَبَيْنَاللهَحِجَابٌ
“Berhati-hatilah dari do’a orang yang terzalimi karena tidak ada penghalang antaranya dan Allah” (HR. Bukhari, no. 1425 dan muslim, no. 19)
Dalam hadits yang lain Nabi bersabda :

ثَلَاثٌتُسْتَجَابُدَعْوَتُهُمْ : الوَالِدُوَالْمُسَافِرُوَالْمَظْلُوْمُ“

“Ada tiga do’a yang selalu terkabulkan : do’a orang tua, orang yang bepergian, dan do’a orang yang terzalimi.”
Beberapa ibrah dan pelajaran yang dapat dipetik adalah :
1.    Kezaliman adalah perbuatan jelek yang telah Allah haramkan untuk dirinya  dan Allah haramkan untuk seluruh manusia. Diantara bentuk Kezaliman yang sering terjadi adalah menuduh orang lain tanpa ada hak dan bukti karena berarti menyakiti hati sesama muslim. Menuduh dalam Islam akan dibenarkan apabila ia dapat mendatangkan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun, dimasa kita sekarang ini, sejalan dengan kemajuan alat-alat telekomunikasi dan perkembangan teknologi semua hal dapat disamarkan, hingga bukti kecurangan dapat dibungkus dengan rapii sesuai pesanan sehingga kecurangan disangka kebenaraan dan sebaliknya kebenaran dianggap kesalahan. Namun dalam peradilan Allah, kelak di akhirat tidak ada yang dapat dikamuflasekan, sekalipun dalam peradilan dunia mungkin mereka bisa tertawa puas dengan keputusan hakim yang memenangkan mereka, namun Allah tidaklah tidur sehingga bisa jadi Allah menyegerakan  adzab dan siksa kepada mereka di dunia sebelum mereka merasakan siksa di akhirat. Naudzubillahi min dzalik.
2. Mencela dan mencaci sesama muslim juga adalah sifat jelek yang jauh-jauh hari Nabi memperingatkan umatnya darinya.
Mencela seorang muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran” (HR Bukhari, no. 48 dan Muslim, no. 64)
Dan sebesar – besar celaan kepada sesama muslim adalah celaan kepada para sahabat Rasulullahshalallahu `alaihi wassalam karena mereka adalah para pembawa agama ini, dan celaan kepada sipembawa berita  berarti  juga celaan terhadap berita yang dibawa. Maka bila mereka mencela para sahabat itu hakikatnya mereka mencela agama Islam karena Islam tidaklah sampai kepada kita melainkan melalui perantara mereka. Semoga Allah menjaga lisan-lisan kita dari perkataan keji dan kotor dan menyelamatkan kita dari musuh- musuh Allah. Aamiin. 
Maraji: Shuar min Hayati Shahabah Rijalun Haula Ar-Rasul
Disusun oleh: Ustadz Abu Mubarok Hamzah Ta’adi dari Majalah Al Bayan Edisi 9 

0 komentar:

Poskan Komentar

top