Menjaga Kesehatan dalam Ibadah Haji
Jamaah Haji sedang menuju Tempat Lempar Jumrah, salah satu aktifitas haji yang membutuhkan kesiapan fisik yang baik.


Ibadah haji membutuhkan aktifitas fisik lebih banyak dibandingkan dengan ibadah lainnya. Calon jamaah haji hendaknya sudah melakukan latihan seperti dengan berjalan kaki.
Pemerintah terus memperketat pemantauan kesehatan calon jamaah yang akan menunaikan ibadah haji. Hal ini dilakukan untuk menekan risiko gangguan kesehatan pada jamaah selama berada di tanah suci. Sejalan dengan itu, Sekjen Kementerian Agama, Dr.H. Bahrul Hayat menganjurkan agar calon jamaah haji mulai sekarang melakukan persiapan fisik.
“Saya menganjurkan kepada para calon jamaah haji – mumpung masih ada waktu – melakukan latihan fisik. Karena ibadah haji ini memerlukan gerak fisik oleh karena itu persiapan fisik sangat diperlukan,” kata Baharul Hayat di kantor Kemenag Jl. Thamrin Jakarta Pusat.
Anjuran tersebut disampaikan mengingat ibadah haji membutuhkan aktifitas fisik yang lebih banyak dibandingkan dengan ibadah lainnya. Rangkaian ibadah haji banyak dilakukan dengan berjalan kaki. Ke masjid, tawaf, sa’i, ke tempat-tempat ziarah, melempar jumrah, dan kegiatan lainnya memerlukan kesiapan fisik yang prima.
Untuk mempersiapkan aktifitas fisik selama berhaji, jauh hari menjelang pemberangkatan calon jamaah haji hendaknya sudah memulai latihan fisik. Latihan fisik bisa dilakukan dengan berjalan kaki atau lari-lari kecil sehabis

Cukup 2-3 kilometer saja. Latihan jalan kaki ini nantinya akan sangat membantu jamaah menjalankan ibadah di Tanah Suci. Dengan rajin latihan fisik, tubuh tidak kaget ketika nanti harus banyak berjalan kaki.
Hari-hari di Madinah dan Makkah penuh dengan kegiatan fisik. Untuk ke Masjid Nabawi di Madinah jarak yang harus ditempuh dari penginapan bervariasi antara 100 meter hingga 2 kilometer. Hotel-hotel jamaah ONH plus hanya sekitar 100 meter dari masjid. Sedangkan untuk jamaah biasa lebih dari satu kilometer. Anggaplah jarak dari penginapan ke masjid 1.000 meter. Jadi untuk ke masjid pulang pergi 2.000 meter. Sehari berapa kali ke masjid? Anggaplah dua kali (Subuh dan Zuhur sampai Isya). Jadi paling tidak jamaah harus berjalan 4.000 meter atau 4 km. Ini belum termasuk aktifitas jalan-jalan, belanja, dan berjalan dari pelataran masjid sampai ke dalam.
Aktivitas belanja atau jalan-jalan sering tak terhitung berapa kali sehari. Sekeliling Masjid Nabawi dipenuhi dengan pertokoan yang menjual aneka macam barang. Biasanya sebelum berangkat atau pulang dari masjid jamaah memanfaatkan waktu untuk ‘tawaf’ di pertokoan itu. Berangkat ke masjid di waktu subuh juga membutuhkan fisik prima. Biasanya jamaah sudah mulai berangkat ke masjid pukul 04.30. Saat itu udara Madinah berada di titik paling rendah. Selain dingin angin juga bertiup kencang.
Selain itu, jamaah juga perlu fisik kuat untuk wisata ziarah. Banyak tempat menarik di Madinah dan Makkah yang hanya bisa dicapai dengan fisik yang sehat. Misalnya ke Bukit Uhud, keliling kebun kurma, Guwa Hira, dan sebagainya. Disarankan agar jamaah selalu beristirahat dan tidur cukup selama di Tanah Suci. Kurangi aktifitas tak perlu seperti ‘tawaf’ di pertokoan.
Di Makkah kesiapan fisik jamaah lebih dituntut lagi. Jarak penginapan ke masjid rata-rata lebih jauh. Suasana Makkah yang lebih padat juga menguras tenaga jamaah. Untuk bisa mendapat tempat dekat Ka’bah jamaah membutuhkan perjuangan yang cukup besar. Ratusan ribu orang berdesak-desakan. Untuk keluar masjid pun bukan perkara yang gampang.
Antre di pintu keluar bisa sampai satu jam. Untuk jamaah yang tinggal di Aziziyah Makkah, mereka mendapat fasilitas gratis bus menuju Masjidil Haram. Tapi jangan bayangkan bus itu seperti di Jakarta. Dibutuhkan tenaga sangat ekstra untuk naik, karena jamaah Indonesia harus rebutan dengan jamaah dari negara lain. Bayangkan saja, satu bus diperebutkan ratusan orang. Postur tubuh jamaah Indonesia yang mungil selalu kalah berebut dengan jamaah asal Mesir, Afrika, Iran dan lainnya yang bertubuh tinggi besar.
Ada jamaah yang memilih jalan kaki, tapi jaraknya sangat jauh, lebih dari lima kilometer. Jalan yang dilalui terdiri dari terowongan dan taman-taman, tapi tetap saja sangat melelahkan. Tawaf dan sa’i jika dalam kondisi cukup lengang, bisa selesai 15 menit saja. Tapi jika padat, dua jam belum tentu selesai. Masalahnya pelataran Ka’bah hampir mustahil lengang pada musim haji. Pagi, sore, siang, malam jamaah berjubel untuk tawaf.
Aktifitas fisik bertambah di Arafah dan Mina. Perjalanan ke Arafah dan kembali ke Mina, baik naik bis atau berjalan kaki, sama-sama membutuhkan energi besar. Padahal prosesi ini tak boleh ditinggalkan dan digantikan.
Makanya jamaah yang sedang dirawat pun harus dibawa ke Arafah dengan safari wukuf. Puncak aktifitas fisik adalah saat melontar jumrah. Jutaan orang akan melontar jumrah dalam rentang waktu yang sama. Dibutuhkan fisik yang benar-benar fit untuk menjalaninya. Padahal biasanya, saat inilah kondisi fisik jamaah sudah sangat menurun. Selain latihan jalan, istirahat, dan tidur cukup, jamaah disarankan untuk makan bergizi teratur agar fisik tetep oke. Selain itu obat-obatan dan makanan suplemen bisa membantu menjaga tubuh tetap bugar.

KESEHATAN JASMANI 

Ibadah haji sebagai rukun Islam ke-5 merupakan kewajiban umat Islam dan merupakan kewajiban bagi orang-orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah yaitu mampu dalam pembiayaan, pengetahuan, kesehatan jasmani dan rohani (Al Imran 97).
Karena itu, kemampuan jasmani dan rohani merupakan salah satu syarat kelayakan untuk beribadah haji _(istithoah) _berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari penyelenggaraan ibadah haji.
Penyelenggaraan ibadah haji bertujuan untuk memberikan pembinaan, pelayanan dan perlindungan yang sebaik-baiknya bagi jamaah haji sehingga dapat menunaikan ibadahnya sesuai dengan ketentuan ajaran agama Islam.
Penyelenggaraan dilakukan melalui sistem dan manajemen yang terpadu agar pelaksanaan ibadah haji dapat berjalan aman, tertib, lancar dan nyaman sesuai tuntunan agama serta jamaah haji dapat melaksanakan ibadah haji secara mandiri sehingga diperoleh haji mabrur.
Dalam buku “Pedoman Pembinaan Kebugaran Jasmani Jamaah Haji” yang diterbitkan Pusat Kesehatan Haji, disebutkan komponen kebugaran jasmani yang penting bagi jamaah haji adalah :
1. Daya tahan jantung-paru (kardiorespirasi).
2. Kekuatan dan daya tahan otot.
3. Kelenturan.
4. Keseimbangan.
5. Daya ledak otot (power) 

Sebelum jamaah haji berangkat ke tanah suci, calon jamaah haji sebaiknya tetap melakukan aktivitas fisik di rumah setiap hari secara teratur disesuaikan dengan kondisi kesehatan. Sementara bagi jamaah haji yang bekerja tetap melakukan aktivitas fisik di tempat kerja seperti naik turun tangga, berjalan cepat antar ruangan, dan lain-lain.
Kebugaran jasmani yang baik dapat dicapai dengan menambah aktivitas fisik dengan latihan fisik sebelum, selama dan setelah beribadah haji secara baik, benar, terukur dan teratur. Jamaah haji risiko tinggi yang akan melakukan latihan fisik harus dengan pertimbangan medis yang cukup dengan prinsip aman dan memberikan manfaat yang optimal, sehingga dapat meningkatkan kondisi fisik jamaah haji.

MANFAAT LATIHAN FISIK 

Manfaat calon jamaah haji melakukan latihan fisik, Pertama, adalah untuk mengendalikan berat badan, sehingga menurunkan risiko menjadi obesitas.
Kedua, mencegah, menurunkan atau mengendalikan tekanan darah tinggi.
Ketiga, mencegah, menurunkan atau mengendalikan gula darah pada penderita diabetes. Keempat, memperkuat otot jantung dan meningkatkan kapasitas jantung. Kelima, mengurangi risiko penyakit pembuluh darah tepi. Keenam, meningkatkan kadar kolesterol HDL. Ketujuh, menurunkan kadar kolesterol LDL. Kedelapan, mencegah atau mengurangi terkena risiko osteoporosis pada wanita.Kesembilan, membantu mengendalikan stress dan mengurangi kecemasan serta depresi dan menimbulkan rasa percaya diri khususnya pada kegiatan yang dilakukan secara berkelompok. Kesepuluh, memperbaiki fleksibiltas otot dan sendi serta memperbaiki postur tubuh sehingga dapat mencegah nyeri punggung bawah. Kesebelas, meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga mengurangi risiko penyakit menular (misalnya influenza). Keduabelas, meningkatkan kemampuan tubuh untuk beradaptasi terhadap perubahan suhu dan kelembaban lingkungan (aklimatisasi).  

PRINSIP- PRINSIP LATIHAN FISIK

Dalam buku “Pedoman Pembinaan Kebugaran Jasmani Jamaah Haji” tersebut juga menyebutkan beberapa prinsip latihan fisik diantaranya adalah;
Pertama, perlu menerapkan prinsip latihan fisik yang baik, benar, terukur, dan teratur guna mencegah timbulnya dampak yang tidak diinginkan.
Kedua, latihan fisik terdiri dari pemanasan, latihan inti dan diakhiri dengan pendinginan. Pemanasan dan pendinginan berupa peregangan dan relaksasi otot serta sendi serta dilakukan secara hati-hati dan tidak berlebihan.
Ketiga, frekuensi latihan fisik dilakukan 3-5 x/minggu dengan selang 1 hari istirahat.
Keempat, latihan fisik dilakukan pada intensitas ringan-sedang dengan denyut nadi : 70 – 80 % x Denyut Nadi Maksimal (DNM) untuk jamaah haji sehat dan 60 – 70 % x Denyut Nadi Maksimal (DNM) untuk jamaah haji risti. DNM = 220 – umur
Kelima, latihan fisik dilakukan secara bertahap dan bersifat individual, namun dapat dilakukan secara mandiri dan berkelompok
Keenam, latihan fisik bagi jamaah haji risti dilakukan dibawah pengawasan tenaga kesehatan yang terlatih dalam kesehatan olahraga.
Latihan fisik dilaksanakan sebagai bagian dari kegiatan pembinaan
kesehatan jamaah haji di Puskesmas, selain dari kegiatan penyuluhan kesehatan yang berkaitan dengan pola hidup bersih dan sehat selama melaksanakan ibadah haji. Pelaksanaan latihan fisik sebaiknya dilakukan sejak jamaah haji mendaftar atau minimal 6 bulan sebelum keberangkatan, sehingga tubuh dapat melakukan adaptasi terhadap dosis latihan dan mendapatkan manfaat yang optimal sebagai modal untuk melaksanakan ibadah haji.
Selama di Arab Saudi jamaah haji diharapkan dapat melakukan pemeliharaan kebugaran jasmani dalam bentuk latihan peregangan (stretching). (NM) - http://www.wawiti-infohaji.com

0 komentar:

Poskan Komentar

top