[Pertama]. Larangan memohon disegerakan suatu hukuman di dunia. Dari AnasRadhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjenguk seseorang dari kaum Muslimin yang telah menjadi kerdil se-hingga seperti anak ayam. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya kepadanya,
هَلْ كُنْتَ تَدْعُو بِشَيْءٍ أَوْ تَسْأَلُهُ إِيَّاهُ؟ قَالَ: نَعَمْ، كُنْتُ أَقُولُ: اللَّهُمَّ مَا كُنْتَ مُعَاقِبِي بِهِ فِي الْآخِرَةِ، فَعَجِّلْهُ لِي فِي الدُّنْيَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سُبْحَانَ اللَّهِ لَا تُطِيقُهُ أَوْ لَا تَسْتَطِيعُهُ!! أَفَلَا قُلْتَ: اللَّهُمَّ  آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ، قَالَ فَدَعَا اللَّهَ لَهُ فَشَفَاهُ
“‘Apakah engkau berdoa memohon sesuatu atau memintanya kepada-Nya? Maka, dia menjawab, ‘Ya, aku telah mengatakan, ‘Ya Allah, apa yang Engkau telah tentukan hukuman bagiku (karena dosa itu) di akhirat, maka segerakanlah untukku di dunia’.’ Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Subhanallah, engkau tidak akan sanggup memikulnya atau tidak akan bisa! Tidakkah engkau katakan saja, ‘Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka.’ Beliau mendo’akannya kepada Allah dan sembuhlah dia.’” (HR. Muslim, no.2688)
[Kedua]. Larangan berlebih-lebihan dalam do’a. Dari Abdullah bin Mughaffal Radhiyallahu Anhu bahwa dia mendengar anaknya berkata, “Ya Allah, aku memohon istana putih di sebelah  kanan surga ketika aku memasukinya. Maka, dia berkata, “Wahai anakku, mintalah surga kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dan berlindunglah kepada-Mya dari api neraka, karena aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
يَكُونُ قَوْمٌ يَعْتَدُونَ فِي الدُّعَاءِ وَالطَّهُورِ
‘Kadang-kadang suatu kaum berlebih-lebihan dalam do’a atau  dalam bersuci.’”  (HR. Ahmad, (5/55), Abu Dawud, no.96; dishahihkan Al-Albani.)
[Ketiga]. Larangan berdo’a demi suatu dosa atau pemutusan silaturrahim. RasulullahShallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الِاسْتِعْجَالُ؟ قَالَ: يَقُولُ: قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي، فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ، وَيَدَعُ الدُّعَاءَ
‘”Do’a seorang hamba masih akan dikabulkan selama tidak berdo’a demi suatu dosa atau pemutusan silaturrahim dan selama tidak menggesa-gesa.’ Dikatakan, ‘Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan menggesa-gesa itu? Beliau menjawab, ‘Mengatakan, ‘Saya telah berdo’a, aku telah berdo’a, namun aku belum melihat Dia mengabulkan do’aku.’ Sehingga dia memutuskan untuk tidak berdo’a dan akhirnya meninggalkan do’a.’” (HR. Muslim, no.2735)
[Keempat]. Larangan berdo’a buruk untuk diri sendiri, anak-anak, para pembantu, dan harta. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى خَدَمِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ، لَا تُوَافِقُوا مِنْ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى سَاعَةَ نَيْلٍ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبَ لَكُمْ
“Janganlah kalian berdo’a buruk untuk diri kalian sendiri. Janganlah kalian berdo’a buruk untuk anak-anak kalian. Janganlah kalian berdo’a buruk untuk para pembantu kalian. Janganlah kalian berdo’a buruk untuk harta kekayaan kalian. Tidaklah kalian bertepatan waktu dengan saat pengabulan dari sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala sehingga Dia mengabulkan permintaan kalian itu.” (HR. Abu Dawud no. 1532 dan Muslim no. 920)
[Kelima]. Larangan berharap kematian. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
لَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ الْمَوْتَ لِضُرٍّ نَزَلَ بِهِ، فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ مُتَمَنِّيًا لِلْمَوْتِ، فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتْ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي
“Jangan sekali-kali salah seorang dari kalian mengharap-kan kematian karena suatu bahaya yang menimpa diri-nya. Jika dia harus mengharap kematian, hendaknya dia mengatakan, ‘Ya Allah, hidupkanlah aku jika kehidupan lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika wafat adalah lebih baik bagiku.’” (HR. al-Bukhari, no.6351 dan Muslim, no.2680)[]
Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 44-47, Terbitan Darul Falah, Jakarta. - http://doandzikir.wordpress.com

0 komentar:

Poskan Komentar

top