Seorang Ibu muda mengeluh tentang kelakuan anaknya yang terkadang lepas kontrol.  Tak hanya sekali, tapi sering terjadi apalagi di depan banyak orang. 

Contohnya, saat berbelanja di mall, tiba-tiba si anak menangis histeris tanpa jelas atau mengaduk-aduk barang yang sedang dipajang.  Gemas?  Marah?  Memang tidak mudah.  Perlunya mengetahui cara mendidik anak usia dini agar anak bisa bersosialisasi dan tumbuh kembang dengan baik.

Fase Pertumbuhan Anak

Fase pertumbuhan Anak usia dini memiliki tahapan yang berbeda-beda. Setidaknya, mengikuti perkembangan umurnya.  Tapi kemampuan dan kecepatan seorang anak untuk memahami dan tumbuh tidaklah sama. 

Cara mendidik anak usia dini ini harus terus diterapkan di setiap fase pertumbuhannya agar bisa terlihat potensi maupun kekurangan dari anak. Cara mendidik anak usia dini berdasarkan fase pertumbuhan anak, antara lain:

1. Anak Usia  0-1 Tahun
Saat baru dilahirkan, peran Ibu dalam mengasuh merupakan salah satu cara mendidik anak usia dini.  Mengajarkan bayi untuk dapat minum susu, baik dari ASI maupun dari botol, merupakan pola didikan yang alami.

Anak akan terbiasa untuk minum secara teratur dari botol.  Begitu pula saat mulai masuk ke proses tengkurap, berguling bahkan duduk dan berdiri, cara mendidik anak usia dini ini lebih banyak membutuhkan stimulus dan dorongan dari orang tua dan lingkungannya. 

2. Anak Usia  2-3 Tahun
Nah, saat anak usia ini mereka umumnya sudah bisa bertanya ini dan itu.  Cara mendidik anak usia dini fase ini dalah dengan membantu mereka lebih mengenal lagi lingkungan di sekitarnya. 

Mempekenalkan benda yang boleh dipegang dan yang berbahaya merupakan salah satu cara mendidik anak usia dini ini.  Perlunya kesabaran dan ketelatenan bagi orang tua dalam menjawab pertanyaan dan mengarahkan mereka dalam sesuatu hal yang baru.

3. Anak Usia  3-6 Tahun
Untuk umur 3 sampai 6 tahun adalah masa-masa dimana anak sudah mulai diperkenalkan dengan pendidikan formal dasar.  Mulai dari Play Group atau taman bermain, lalu Taman Kanak-kanak dan kemudian menjelang masuk Sekolah Dasar (SD).

Cara mendidik anak usia dini fase ini lebih mengarah kepada belajar dengan teknik “How to” atau bagaimana, jika, apabila, apa, siapa, dimana dan lainnya.  Fase ini mereka lebih banyak belajar dengan aktivitas yang lebih banyak.  Belajar sambil bermain adalah salah satu cara mendidik anak usia dini ini.

Harus Diketahui Oleh Orangtua

-Jangan Membentak Anak

-Jangan Memukul Anak

-Jangan Mendikte Anak

Lalu, bagaimanakah cara merancang masa depan si buah hati? Sebagian orangtua menyiapkan biaya pendidikan terbaik untuk anak. Orangtua kadang malah mengekang anak dengan terus-terusan menyuruhnya belajar. Ingat, dunia anak adalah dunia permainan dan imajinasi. Bebaskan mereka dan berilah kepercayaan agar suatu saat anak tumbuh menjadi pribadi yang berkualitas.

Untuk itu orang tua haruslah mulai sejak dini merancang pendidikan untuk anak mereka. Pada anak usia dini, mereka hanya mengenal kata bermain. Untuk itu orang tua haruslah memiliki kepandaian dan tingkat kreatifitas yang tinggi untuk meramu materi pelajaran yang hendak diberikan kepada anak mereka.

Mereka haruslah menemukan teknik tertentu dalam hal ini. Dengan teknik tertentu ini, maka anak tidak akan terasa bahwa mereka sedang belajar. Mereka tetap merasa bahwa mereka dalam keadaan bermain bukan belajar.

Di masa usia anak nol tahun pun sudah dapat diberikan banyak hal untuk pelajaran mereka. Dalam Islam, hal pertama yang harus ditanamkan sejak dini adalah masalah aqidah. Anak haruslah dibentuk untuk memiliki aqidah atau kepercayaan yang kuat dan kokoh mengenai siapa pencipta mereka, Rasul, malaikat serta surga dan neraka.

Orang tua harus benar-benar memberikan perhatian yang cukup besar terhadap hal ini sehingga memang nantinya anak akan memiliki aqidah yang kuat dan kokoh. Dengan aqidah yang kuat dan kokoh ini, akan menjadi landasan bagi mereka untuk menerima segala aturan yang ada di dalam Islam. Dengan aqidah yang kokoh ini juga akan membuat mereka mau melaksanakan segala aturan tersebut tanpa harus mempertanyakan atau menimbang-nimbang segala perkara yang ada di dalamnya.

Konsultasi anak akan menjadi sangatlah penting. Hal ini dilakukan agar orang tua mendapatkan gambaran yang jelas tentang apa yang sebaiknya mereka lakukan dan apa yang tidak boleh mereka lakukan.

Tentulah, setiap orang tua sudah memiliki gambaran tentang pola pendidikan yang akan mereka terapkan kepada anak-anak mereka. Semua ini dilandaskan pada pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki oleh setiap orang tua.

Namun dengan konsultasi anak ini, setiap orang tua akan lebih mendapatkan gambaran nyata tentang pola pendidikan anak yang benar dan  dapat diterapkan. Mereka pun dapat pula untuk mengkombinasikan antara apa yang telah mereka rancang dengan apa yang ada dalam hasil konsultasi mereka.

Perhatikan Pola Asuh Anak

Selain itu, terdapat pula faktor di mana perbedaan tersebut ditimbulkan karena pola asuh orang tua pada waktu mereka masih balita. Contohnya: orang tua yang sewaktu kecilnya dididik dengan keras maka ia akan mendidik anaknya dengan keras pula. Orang tua yang sewaktu kecilnya dididik dengan manja maka ia akan mendidik anaknya dengan manja pula.

Namun, ada pula orang tua yang mendidik anak dengan cara yang berbeda dengan apa yang orang tua peroleh pada waktu kecilnya. Biasanya diakibatkan karena adanya trauma, kecewa dan tidak setuju atas apa yang dilakukan oleh orang tuanya, yang kemudian tidak ingin anaknya mengalami nasib yang sama.

Kepribadian orang tua akan mempengaruhi psikologis balita. Orang tualah yang menentukan pola interaksi orang tua dan anak, bahkan anak dan kawan-kawannya, anak dan lingkungannya. Perlu diingat bahwa anak memiliki sifat dan karakter yang berbeda dengan anak yang lain.

Oleh karena itu, orang tua harus menyesuaikan pola asuh yang seperti apa yang harus diterapkan kepada anak. Membangun dan menciptakan suasana yang damai dan aman adalah hal yang baik untuk membangun emosi, kecerdasan dan psikologis anak.

Perbedaan pola asuh antara satu kebudayaan dengan budaya yang lain akan menyebabkan perbedaan karakter dari anak-anak. Lihat saja bagaimana karakter bangsa Jepang yang tidak kenal lelah dan selalu bekerja keras, dibandingkan dengan karakter para pemimpin kita sekarang yang mengutamakan kehidupan yang serba enak tanpa melihat kerja keras rakyat kecil. Walaupun itu dicapai dengan cara yang menyimpang.

Mengasuh anak pada bidang keyakinan adalah suatu hal yang harus didahulukan oleh semua orang tua. Karena dengan pondasi keyakinan atau agama yang kuat akan sangat membantu anak-anak dalam membentuk kepribadian mereka. Seorang anak yang tidak mengenal halal dan haram akan senantiasa kebingungan dalam memenuhi keinginannya, sehingga berdampak negatif pada masa remaja dan dewasanya.

Kenalkanlah pada balita sejak dini tentang apa-apa yang dianjurkan dalam agama, dan apa saja yang dilarang dan dijauhi oleh keyakinan agamanya. Dengan pembiasaan ini maka anak akan terbiasa untuk mencari apa yang dihalalkan oleh agamanya, dan menjauhi larangan dalam agamanya.

Memang kehidupan yang serba bebas saat ini membuat was-was para orang tua tentang balita mereka di masa dewasanya. Melonjaknya tingkat kenakalan anak dan remaja akhir-akhir ini merupakan alarm bagi orang tua. Agar dapat lebih serius dalam membina dan mengasuh mereka di kehidupan keluarga.

Bagaimana sebenarnya mendidik anak secara islami itu ? Berikut beberapa tips mendidik anak secara Islam yang dapat Anda coba dan laksanakan. Beberapa tips yang dimaksud antara lain :

-Bersikap lembut kepada anak-anak sejak dini. Bukankan Islam itu agama yang lembut? Rasulullah pun mencontohkan kelembutan dalam Islam, sehingga dakwahnya mengena di hati orang-orang. Namun, di samping lembut, seharusnya kita juga harus tegas. Jangan sampai disalah artikan bahwa bersikap lembut sebagai bentuk sikap pengalah, selalu mengikuti keinginan anak. Padahal anak-anak dimanapun juga sama yaitu selalu mencari suasana dan kondisi yang paling menyenangkan, tak peduli apakah itu benar atau salah. Nah, disinilah diperlukan sikap tegas dari orang tua, sehingga anak-anak betah dalam suasana dan kondisi yang benar, dan akan merasa gerah ketika berada dalam suasana atau kondisi yang salah.

-Menjadi contoh yang baik untuk anak-anak kita. Segala macam hal yang membuat anak-anak kita baik adalah berasal dari orang tua yang baik, contoh yang baik, misalnya shalat tepat waktu. Lalu, jelaskan mengapa kita harus shalat? Mengapa lebih utama shalat tepat waktu? Rukun iman dan rukun islam itu sebenarnya bermakna sangat dalam. Hal-hal fundamental seperti ini merupakan bekal yang penting untuk anak-anak, agar mengetahui yang salah dan benar sejak dini, memiliki sikap toleran yang tinggi terhadap sesama.

-Membiasakan anak dengan perilaku yang Islami, dari hal yang sekecil-kecilnya. Misalnya, makan dan minum dengan tangan kanan, tidak berdiri atau sambil jalan, tidak menyandar, dan jangan lupa membaca doa. Jika pulang atau pergi dari rumah kita biasakan anak kita mengucapkan salam.

-Mengajarkan anak kita rajin menabung. Kenapa harus rajin menabung ? Ada dua hal atau manfaat langsung dari kebiasaan menabung yaitu mendidik anak agar tidak boros. Sehingga ketika dipercaya memiliki uang, tidak akan dihabiskan untuk jajan dan memenuhi hasrat syahwat atau keinginannya. Selain itu, pelajaran menabung berarti mengajari kepada anak sikap hidup hemat dan mengajarkan bahwa segala sesuatu itu harus dipersiapkan dengan matang.

-Mengajarkan anak kita suka berterima kasih atas sekecil apapun kebaikan yang orang berikan kepada kita. Pandai berterima kasih merupakan sikap mental yang baik, yang harus diajarkan sejak dini kepada anak-anak, sehingga sekecil apapun kenikmatan yang diberikan pada akhirnya akan terbiasa dengan senantiasa mengucapkan terima kasih.

-Mengajarkan anak kita untuk sopan kepada yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda.Ini juga merupakan sikap dasar yang perlu dikembangkan, agar anak terbiasa selalu menghormati kepada orang lain.

-Ajaklah anak kita untuk belajar di TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) yang terdekat dari rumah sehingga anak kita bisa belajar saling berinteraksi antar sesama teman mereka.

-Ajak anak kita jalan-jalan atau tafakkur alam, melihat pemandangan alam, pantai, gunung, dan lain-lain, lalu kita ajarkan kepada mereka tentang sebuah kekuasaan Allah yang telah menciptakan alam semesta. Artinya, kita sedini mungkin mengenalkan bahwa Allah itu ada, Allah itu Tuhan kita.

-Kenalkan  bagaimana gambaran surga kepada anak kita agar dia termotivasi untuk melakukan amal kebaikan di mana pun dia berada.

-Ajak anak Anda ke panti asuhan dan sebagainya. Buatlah ia bersyukur karena memiliki orang tua yang masih utuh. Pancing emosinya untuk empati kepada sesama, juga untuk saling member kepada sesama.

http://mutiaraqurani.com

0 komentar:

Poskan Komentar

top