MEMPERHATIKAN APA YANG DIPERBUAT
UNTUK HARI ESOK
Dalam kehidupan dunia ini akan berakhir dengan mempertanggung jawabkan semua amalan yang dilakukan di hadapan Allah. Baik buruknya kehidupan di akhirat adalah ditentukan baik dan buruknya seseorang tatkala di dunia. Karena keadaan yang demikian itulah Allah memperingatkan kepada manusia untuk memperhatikan hari esok, apa yang sudah dipersiapkan, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah berikut:
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّاقَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr (59): 18).

Penjelasan ayat:
Banyak di kalangan muslimin yang menjadikan ayat di atas sebagai dalil: hendaknya seseorang mempunyai perencanaan untuk masa depannya atau rencana jangka panjang  (untuk hari tuanya). Pengertian yang seperti ini tidak sesuai dengan yang dikehendaki oleh Rasulullah saw. Sebab yang dimaksud dengan adanya hari esok adalah “hari kiamat”, bukan hari tua atau masa depan yang akan dilalui.

Kandungan surat Al-Hasyr ayat 18
Orang beriman disuruh bertaqwa kepada Allah swt. dan hendaknya memperhatikan amalan-amalan yang telah dikerjakan untuk hari akhir. Orang beriman disuruh memperhatikan amalannya, sudahkah amalannya sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah saw. atau belum? seberapakah amalan yang telah dikerjakan untuk hari akhir nanti.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan.
  1. Allah memperingatkan kepada orang beriman bahwa kehidupan dunia itu, sementara dan akan kembali ke alam baqa’.
  2. Keselamatan seseorang d iakhirat adalah dengan sebab taqwa dan amal sholeh, untuk itu Allah memperingatkan agar seseorang memperhatikan amalannya seberapa banyak yang sudah dipersiapakan untuk hari esok.
  3. Masing-masing di antara manusia akan bertanggung jawab atas amalannya sendiri di hadapan Allah, dan tidak ada yang bisa memberikan pertolongan setelah Allah kecuali amalannya.
  4. Kebanyakan manusia lupa bahwa hidup di dunia ini untuk mencari bekal akhirat dengan cara mengikuti sunnah Rasulullah saw.
  5. Yang dimaksud dengan lafal لِغَدٍ  adalah hari kiamat, bukan masa tuanya untuk meni’mati hidup.

Dalil Naqli yang berkaitan dengan ayat di atas:
ü  Orang beriman disuruh untuk selalu ingat kepada maut.
Kematian seseorang tidak ada yang mengetahui, dan hendaknya diyakini bahwa kematian seseorang tidak bisa diajukan dan tidak bisa diundurkan. Pembenaran hal tersebut sebagaimana telah difirmankan Allah dalam Al-Qur’an berikut:
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لاَيَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَلاَيَسْتَقْدِمُوْنَ
“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (Al-’Araaf (07): 34)

ü  Orang beriman disuruh mempersiapkan diri untuk memperbanyak amal sholeh, sebagai bekal menghadap kepada Allah swt. Karena keselamatan seseorang tergantung dari baik buruknya amalan yang diperbuat selama hidupnya. Seseorang yang berat timbangan amal kebaikanya akan diridloi oleh Allah dan masuk jannah. Sebaliknya seseorang yang ringan timbangan amal kebaikannya akan dimasukkan kedalam neraka hawiyah. Firman Allah dalam Al-Qur’an menyebutkan:
فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ  فَهُوَ فيِ عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ  وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ  فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ
“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah” (Al-Qari’ah (101): 6-9).
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ  وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (Al-Zilzalah (99): 7-8).

ü  Orang beriman disuruh bersegera menunaikan kebaikan dan dilarang menunda-nunda amalan yang diyakini baik, hal ini berdalil pada sabda Rasulullah saw. berikut:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: اَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ اَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ. وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْمُهَا يَقُوْلُ: اِذَا اَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَ اِذَا اَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِن صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَّاتِكَ لِمَوْتِكَ.
Dari Ibnu ‘Umar ra. ia berkata: Rasulullah saw. memegang pundakku seraya bersabda:“Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara “. Lalu Ibnu ‘Umar berkata: “Jika engkau di waktu sore, maka janganlah engkau menunggu pagi, dan jika engkau di waktu pagi, maka janganlah menunggu sore, dan pergunakanlah waktu sehatmu untuk waktu sakitmu dan waktu hidupmu untuk waktu matimu.” (HR. Imam Bukhari).

ü  Orang beriman disuruh bertaqwa kepada Allah dimana dan kapan saja, sebagaimana disebutkan oleh Abu Dzar Jundub bin Junadah dalam riwayat berikut:
عَنْ اَبِى ذَرٍ جُنْدُبٍ بْنِ جُنَادَةَ وَ اَبِى عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذٍ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَ اَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَ خَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.
Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abi ‘Abdir Rahman Mu’adz bin Jabal ra. dari Rasulullah saw.  bersabda: “Taqwalah kamu di mana saja kamu berada dan ikutilah (perbuatan) jelek itu (dengan perbuatan) baik (yang dapat) menghapusnya dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik.”(HR. Imam Muslim).

ü  Keselamatan akhirat adalah kesemalatan abadi dan demikian juga kesengsaraannya. Untuk itu, orang beriman disuruh menjaga diri untuk kesalamatan Akhirat. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya:
وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ قُرْءَانًا عَرَبِيًّا لِّتُنذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا وَتُنذِرَ يَوْمَ الْجَمْعِ لاَرَيْبَ فِيْهِ فَرِيْقٌ فِي الْجَنَّةِ وَفَرِيْقٌ فِي السَّعِيْرِ
“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka.” (Asy-Syuraa (42): 7).

Demikianlah beberapa hal berkaitan dengan ayat 18 dari surat Al-Hasyr, yang berbeda dengan penafsiran kebanyakan orang. Karena banyak di kalangan muslimin yang mentafsirkan ayat tersebut, dengan masa tuanya dalam kehidupan seseorang, tidak terkait dengan kehidupan akhhirat. Mudah-mudahan dengan penjelasan ayat tersebut dapat merubah sikap berfikir kita dan dapat meyakini akan kepentingan keselamatan hidup di akhirat dengan mempersiapkan amal sholeh yang sebanyak-banyaknya.

0 komentar:

Poskan Komentar

top