(Soal-Jawab: Majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XVI)
 
Pertanyaan:
Apakah shalat Isyrâq (shalat sunnah sesudah shalat Subuh sebanyak dua raka’at) itu disyariatkan? Apakah benar apabila melakukan shalat itu pahalanya sama dengan melakukan haji dan umrah? Terima kasih atas jawabannya.
08523534xxxx.
Jawaban:
Banyak pertanyaan seputar masalah Shalat Isyrâq dan pensyariatannya. Penamaan Shalat Isyrâq atau Syurûq atau Thulû’, karena pelaksanaannya berkaitan dengan waktu matahari terbit (mulai memancarkan sinarnya) dan dilaksanakan saat awal waktu dhuha. (Lihat kitab Tuhfatul Ahwadzi, 3/157 dan Bughyatul Mutathawwi’, hlm. 79).
Shalat ini disyariatkan dan memiliki pahala sama dengan pahala haji dan umrah sebagaimana diceritakan oleh Anas bin Mâlik radhiyallâhu 'anhu dari Rasûlullâh shallallâhu 'alaihi wa sallam, beliau shallallâhu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ 
ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ
Barangsiapa yang shalat Subuh berjamaah, kemudian ia duduk –dalam riwayat lain: ia menetap di masjid– 
untuk berzikir kepada Allâh sampai matahari terbit, kemudian ia shalat dua raka’at, 
maka ia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna.
(HR at-Tirmidzi, 2/481 no.586 dan dinilai sebagai hadits hasan oleh Syaikh al-Albâni 
dalam Silsilah al-Ahâdîtsish Shahîhah, 9/189 no.3403, dan Misykatul Mashâbîh, 1/212 no.971, 
dan Shahîhut Targhîb wat Tarhîb, 1/111 no.464).
Hadits ini juga dikuatkan dengan adanya hadits:
:عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ
،مَنْ صَلَّى صَلاةَ الصُّبْحِ فِي مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ يَثْبُتُ فِيهِ حَتَّى يُصَلِّيَ سُبْحَةَ الضُّحَى"
"كَانَ كَأَجْرِ حَاجٍّ، أَوْ مُعْتَمِرٍ تَامًّا حَجَّتُهُ وَعُمْرَتُهُ
Dari Abu Umamah radhiyallâhu 'anhu, ia berkata: Rasûlullâh radhiyallâhu 'anhu bersabda, “Barangsiapa mengerjakan shalat Shubuh di masjid secara berjamaah, lalu dia tetap berada di dalam masjid sampai melaksanakan shalat sunnah (di waktu) Dhuha, maka (pahala) amalannya itu seperti pahala orang yang menunaikan ibadah haji atau umrah secara sempurna”. 
(HR Thabrani, 8/154 no.7663. 
Hadits ini dinyatakan sebagai hadits hasan li ghairihi oleh Syaikh al-Albâni rahimahullâh 
dalam Shahîhut Targhîb wat Tarhîb, 1/112 no.469).
Hadits Anas bin Mâlik radhiyallâhu 'anhu di atas menunjukkan besarnya keutamaan duduk menetap di tempat shalat setelah shalat Shubuh berjamaah sembari berdzikir kepada Allâh Ta'âla sampai matahari terbit, kemudian melakukan shalat dua rakaat (Lihat kitab Tuhfatul Ahwadzi, 3/157 dan at-Targhib wat-Tarhib, 1/111 - Shahîhut Targhîb wat Tarhîb).
Shalat ini dilaksanakan sesaat matahari telah terbit dan agak naik setinggi satu tombak (lihat kitab Tuhfatul Ahwadzi, 3/158), atau berkisar 12 hingga 15 menit setelah matahari terbit, sebagaimana dijelaskan Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimin rahimahullâh dalam asy-Syarhul-Mumti’, 2/61.
Wallâhu A’lam. - http://majalah-assunnah.com

0 komentar:

Poskan Komentar

top