Dahulu kala, perilaku jujur dalam bertutur kata menjadi ciri khas Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat jelas, hingga tiada duanya. Beliau hidup di antara kerumunan masyarakatnya, sebagaimana mansuia yang lain dari kaum pria dalam kaumnya. Kekayaan, badan yang keras, dan pemikiran yang rakus bukanlah ciri khas beliau dalam kehidupan dan usahanya,
Beliau hanya unggul di antara mereka dengan puncak kehormatan. Mereka menjuluki Beliau sebagai orang yang jujur lagi terpercaya (ash-Shadiq al-Amin) dan gelar ini lebih terkenal dari namanya! Beliau tidak mendekati tempat sesembahan mereka, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak larut dalam pertemuan hina, yang biasa mereka lakukan, Beliau tidak turun dari tingginya keistiqamahannya ke jurang rusaknya perkumpulan dan jeleknya perbuatan mereka. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menghargai diri dengan berpaling daris etiap hal yang membuat cacat perjalanan hidupnya, atau yang berusaha menoreh hati nuraninya. Hal ini membuahkan jujurnya pembicaraan sebagai lambang risalah yang kekal dan dikhususkan oleh AllahSubhanahu wa Ta’ala baginya, yaitu kenabian.
Kenabian adalah kepribadian yang terbentuk dari pendidikan Ilahi, berupa wahyu khusus kepada orang yang dipilih oleh Allah Subhanahu wa Ta’aladari para hamba-Nya. Kenabian dimaksudkan untuk mendidik sebagian orang dengan pelajaran yang mengangkat kedudukan mereka di atas orang-orang yang ada di lingkungannya, juga di atas kedudukan aqidah dan akhlak serta amalan masyarakatnya, agar para Nabi denagn kepribadian itu menjadi contoh bagi orang yang fitranya siap untuk meniru kehidupan mereka dan setiap sendiri dari tingkah laku mereka.
Oleh karenanya, tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai menyampaikan Islam kepada manusia, Beliau mengajak mereka agar memeluk agama baru ini, sebagai tujuan utama pengutusan. Kala itu hati manusia telah menerima kekufuran hingga kesesatan yang dominan seperti penyakit ganas berbahaya yang tidak dapat diobati dan disembuhkan oleh para dokter.
Cahaya yang dibawa oleh Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyentuh hati, menyinari pikiran yang peka, hanya saja penduduk Mekah tidak menyambut hal itu. Mereka berpaling dari cahaya Islam. Mereka berusaha dengan segala upaya dan sarana yang ada untuk menghadang dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Amr bin Hisyam bin al-Mughirah al-Makhzumi al-Qurasyi, adalah sebagai salah seorang pemimpin kafir yang membawa bendera permusuhan terhadap Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Maka dia termasuk orang-orang yang merugi, termasuk pengikut fir’aun dan bala tentaranya bahkan ia adalah fir’aunnya umat ini sebagaimana hal ini dinyatakan oleh Beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebelum kita mengenal kehidupan lelaki durhaka lagi jelek di masa kenabian, marilah kita berkenalan dengan sebagian beritanya di Mekah sebelum munculnya cahaya (Islam), sejarah dirinya dan keluarganya.
Bani Mukhzum
Suku Quraisy mengakui kedudukan Bani Makhzum di masa Jahiliyah, melimpahkan perkara kepada mereka. Hisyam Ibnul Mughirah al-Makhzumi –ayah Abu Jahal- memiliki peran dan martabat yang tinggi di Mekah, karena ia termasuk petinggi Bani Makhzum, termasuk salah seorang tokoh Quraisy di masanya. Dia amat dermawan dan suka memberi makan. Tatkala dia meninggal, seseorang berseru di Mekah, “Hadirilah penguburan jenazah tuan kalian.” Orang-orang Quraisy menjadikan kematiannya sebagai hal yang bersejarah bagi mereka, dikatakan pada tahun tersebut, “Tahun Kematian Hisyam.” Bahir bin Abdillah bin Salamah al-Khair bin Qusyair meratapi kematiannya dalam bait berikut:
Biarkan aku menyalakan lentera wahai anak onta, sesungguhnya aku melihat kematian menyelimuti Hisyam
Engkau memilihnya sedang ia tidak berbuat adil. Dia adalah sebaik-baik orang di antara lelaki menurutku
Kebaikan Bani Mughirah kalau seandainya mereka korbankan. Niscaya sama dengan seribu orang pejuan dan pemanah
al-Harits pun berkata, “Maka pusat Mekah menjadi bergetar merinding, seakan-akan bumi tidak memiliki Hisyam.”
Dalam keluarga Quraisy inilah Abu Jahal bin Hisyam tumbuh. Ia telah mewarisi sebagian dari sifat ayahnya dalam hal memberi makanan kepada orang-orang. Ia memiliki meja-meja makan yang penuh dengan roti dan daging untuk menjamu para tamu. Dia menyenangi hal itu karena ingin disebut-sebut (sum’ah) dan agar orang membicarakannya di majlis mereka. Juga untuk menarik simpati orang-orang yang hatinya lemah, demi memuaskan khayalan yang memenuhi pikirannya, menarik perhatian orang-orang kepadanya seraya menunjuknya dengan mengatakan, “Inilah tuan Quraisy dan pemimpinnya.” Saat itulah ia merasa rela dan lega.
Inilah Amr bin Hisyam
Dua orang laki-laki dari bani Sulaim mengisahkan kisah yang menjelaskan tipu daya Abu Jahal, dan kecintaannya untuk dipuji dibalik pemberiannya kepada orang-orang dalam kemegahan yang dibuat-buat, dan kepemimpinan yang dipaksakan.
Ada dua orang lelaki berkata, kami memasuki kota Mekah untuk menunaikan umrah pada masa paceklik. Maka tidak kami lihat restoran dan penjamuan serta tidak pula seseorang yang menerima tamu. Tatkala kami dalam keadaan yang demikian di Masjidil Haram, kami melihat segerombolan orang yang lewat berjalan.
Kami bertanya, “Hendak kemana mereka?”
Ada yang mengatakan kepada kami, “Menuju tempat yang banyak makanan.”
Kami pun bergabung dengan mereka, kemudian mereka memasuki kampung Bani Makhzum. Lantas kami mendapati rumah yang megah yang memiliki dua pintu besar. Terdapat seseorang yang berkulit gelap (coklat tua), brewok tipis, berwajah lancip, bermata juling, duduk di atas ranjang. Di atasnya tempat perhiasan yang hitam, di tangannya tongkat. Terdapat mangkok besar yang penuh dengan roti dan daging. Maka kami duduk dan makan, hingga aku kenyang lebih dulu daripada saudaraku. Aku berkata kepadanya, “Berapa banyak kau makan? Tidakkah kau kenyang?! Berdirilah semoga Allah tidak mengenyangkan perutmu.”
Orang yang duduk di atas kasur itu mengangkat kepalanya seraya berkata, “Makanlah, sesungguhnya makanan itu dihidangkan untuk dimakan.”
Setelah usai, kami pun keluar dari pintu rumah yang berbeda dengan pintu masuk. Ternyata kami ditunggu oleh onta yang telah siap berdiri. Kami berkata, “Untuk apa onta ini?” Maka dijawab, “Untuk makanan yang telah kalian lihat.” Mereka berkata, “Ini Amr bin Hisyam, ini Abul Hakam –yaitu Abu Jahal-.”
Abu Jahal memiliki saudara bernama al-Harits bin Hisyam. Dan al-Harits itu orang yang mulia lagi disebut-sebut kemuliaannya. Ka’ab ibnul Asyraf berkata:
“Aku dibertahu bahwasanya al-Harits bin Hisyam membangun dan mengumpulkan kemuliaan di antara manusia. Agar dia mengunjungi Madinah secara keseluruhan dan sesungguhnya Dia membangun kemuliaan di atas nasab yang lebih tinggi.”
al-Harits telah ikut serta dalam perang Badr bersama orang-orang musyrik, ia termasuk orang yang kalah. Kemudian ia ikut perang Uhud bersama orang-orang musyrik juga. Ia tetap berpegang teguh dengan kesyirikan hingga ia masuk Islam di waktu penaklukan (Fat-hu) Mekah. Ummu Hani binti Abi Thalib radiyallahu ‘anha meminta jaminan keamanan untuknya, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pengamanan terhadapnya. Setelah memeluk Islam, dia menjadi seorang yang taat. Dia keluar bersama keluarga dan hartanya menuju Syam di zaman Umarradiyallahu ‘anhu. Hal ini ditangisi oleh penduduk Mekah dan dia pun berdiri menangis, kemudian berkata, “Bukankah kita berganti-ganti rumah atau tetangga? Kami tidak ingin menukar kalian, akan tetapi perpindahan ini menuju Allah.”
Belum lama dia dan orang yang bersamanya tinggal di Syam, mereka berjihad, hingga meninggal. Allah mengakhiri hidupnya dengan kebaikan. Dahulu ia dijadikan contoh dalam hal kemuliaan, hingga penyair berkata tentang dirinya:
“Apakah kau kira bahwasanya tatkala ayahmu menghujatku dalam hal kemuliaan seperti al-Harits bin Hisyam. Paling utamanya orang Quraisy dalam hal kemuliaan dan kepribadian Baik saat ia hidup di masa Jahiliyah maupun di masa Islam.”
Ibu Harits dan Ibu saudaranya Abu Jahal, adalah Asma binti Mukharrabah. Julukannya al-Hanzhaliyyah, salah seorang dari Bani Nahsyal bin Darim bin Malik bin Hanzhalah. Karena itulah Abu Jahal dikatakan Ibnul Hanzhalah.
Dari Abu al-Hakam ke Abu Jahal
Di antara perkara populer di tempat perkumpulan Quraisy, bahwa Abu Jahal dipanggil Abu Hakam. Dia dikenal di Mekah dan di kalangan Quraisy dengan pendapatnya yang baik dan ketetapan dalam putusan pekaranya. Karena itu, dalam berbagai majelis musyawarah, tumpuan ada padanya, padahal dia masih muda. Dia masuk ke Darun Nadwah ketika berumur 30 tahun, sedangkan yang lain berumur 40 tahun atau lebih, hal itu disebabkan karena kebaikan pendapatnya.
Ibnu Qutaibah radiyallahu ‘anhu berkata, “Orang-orang Quraisy menjadikan Abu Jahal bersama para sesepuh Darun Nadwah, sedangkan kumisnya belum tumbuh.”
Walau demikian, julukan ini berbalik menjadi Abu Jahal, tatkala datang cahaya petunjuk Islam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammenjulukinya Abu Jahal dikarenakan kedengkian, permusuhan dan kebodohan terhadap kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hassan bin Tsabit radiyallahu ‘anhu berkata:
Lebih tinggi darinya, tidak pernah pula pemuda yang lebih fasih, lebih tegar dan lebih gagah dari mereka.”
Abu Jahal menjawab, dengan hati yang panas mendidih karena dengki, “Kamu telah melihatnya?! Itu ‘Abdul Muththalib dan anak-anaknya, hal inilah yang mengikat kemuliaan Quraisy selama masih hidup, semoga Allah tidak mengekalkannya.”
Kedengkian ini tetap tumbuh dan berkembang di hati Abu Jahal hingga AllahSubhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan petunjuk dan agama yang benar. Abu Jahal melakukan tipu daya yang amat licik terhadap Islam hingga ia menjadi kepala orang-orang kafir dan pengibar benderanya di Mekah. Ia terkenal dengan permusuhan di dunia.
‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Tidak ada pada Quraisy dan tidak pula pada para pemimpin mereka seorang pun, yang paling memusuhi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam daripada Abu Jahal bin Hisyam, kepala para pemimpin orang kafir.”
Semoga di halaman berikutnya kami bisa menjelaskan gambaran Fir’aun umat ini, dan kita gambarkan kenyataan mengenai kejadian-kejadian yang membuat Abu Jahal tergolong orang-orang yang terhalang, yaitu mereka yang masuk ke Neraka Jahannam dalam keadaan mengeluarkan dan menarik nafas dan merintih.
Kami Tidak Beriman Padanya Selama-lamanya
Kepribadian Abu Jahal merupakan sosok yang terkumpul di dalamnya berbagai sifat yang buruk. Hal itu membuat kepribadiannya menjadi keras, menerima berbagai macam bentuk kerendahan.
Dari seputar topik yang lalu, menjadi jelas gambaran tentang Abu Jahal, dalam kesombongan dan bualannya serta kekacauan karakternya. Kesombongan menampakkan sikap memburu ketenaran dan menjadi buah bibir serta pujian yang muluk di balik perbuatannya, itulah barometer baginya menuju kepemimpinan tertinggi, di antara para pembesar Quraisy di Ummul Qura dan sekitarnya. Dia ikut serta dalam obrolan mereka dan acara begadang di majlis, maupun tempat pertemuan sekitar Masjidil Haram hingga mereka menjadikannya anggota musyawarah, serta salah satu dewan perwakilan dalam berbagai kejadian.
Datanglah Islam, keluarga al-Mughirah adalah musuh bebuyutannya. Mereka merancang tipu muslihat, yang paling buruk perangai dan kedengkiannya adalah Abu Jahal, karena Islam menghancurkan martabat yang dielu-elukan olehnya. Maka patahlah kesombongan dan bualannya, dan lenyaplah angan-angannya. Ia terkalahkan dalam persaingan di antara kaumnya soal kemuliaan yang dimenangkan Abdi Manaf dan Bani Hisyam. Dia berkata dengan perkataan yang menggambarkan kebenciannya terhadap Islam, khususnya kedengkian terhadap Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, saat ia berdialog dengan al-Akhnas bin Syariq dan orang-orang musyrik, setelah mereka mendengarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat malam di rumahnya”
“Kami berebut pengaruh dengan Bani Abdi Manaf berkaitan dengan martabat, mereka memberi makan, maka kami pun berbuat demikian, mereka menanggung beban, kami pun melakukannya, mereka memberi, kami pun memberi. Hingga, saat kami bagaikan dua pacuan yang bertaruh. Mereka berkata, ‘Di antara kami ada Nabi yang menerima wahyu dari langit.’ Kapankah kita mengetahui hal seperti ini? Demi Allah, kami tidak beriman padanya selama-lamanya dan tidak pula membenarkannya.”
Barangkali yang menjadi sebab paling pokoknya berpalingnya dari dakwah dan penentangannya, adalah apa yang dimiliki oleh para pemimpin berhala, berupa peran dominan kala itu. Para pemimpin –khususnya orang-orang kaya- menikmati imbas kepemimpinannya, belum lagi soal kuatnya kefanatikan taqlid pada masyarakat Mekah, seperti kefanatikan suku dan kekeluargaan. Inilah yang menjadikan –musuh Allah- Abu Jahal bersikukuh dengan sikap permusuhannya, dia takut orang-orang kuat masuk Islam hingga menggeser kepemimpinannya. Akan tetapi Allah menyempurnakan Cahaya-Nya walau orang-orang musyrik membencinya.
Islam Muncul ke Permukaan dengan Adanya Hamzah
Musibah besar menimpa Abu Jahal khususnya, dan kaum Quraisy pada umumnya, tatkala Islam menarik pemuda Quraisy paling perkasa, orang yang paling sadar akan harga dirinya, pengoyak kesyirikan dan penyembahan terhadap berhala di perang Badr, penunggang kuda paling mahir di kalangan para joki, karena keberanian dan ketangkasannya memegang pedang dan mengendalikan kuda. Penunggang nan kesohor Hamzah bin Abdil Muththalib radiyallahu ‘anhu, singa Allah dan Rasuk-Nya, paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sekaligus saudara satu susuan, putra bibinya secara nasab dan kedudukan. Ibunya Halah binti Wuhaib, putri paman Aminah binti Wahab, Ibu junjungan kita Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam.
Yang menjadi sebab Hamzah radiyallahu ‘anhu masuk Islam, adalah Abu Jahal –semoga ia dihinakan oleh Allah-, ia telah mengusik keponakannya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berlebihan, dan menyepelekannya saat dia duduk di Shafa. Salma, budak Shafiyah binti Abdul Muththalib, mengabarkan pada Hamzah radiyallahu ‘anhu apa yang terjadi sesaat ia pulang dari berburu. Maka Hamzah radiyallahu ‘anhu pun terbakar emosi dan fanatik kesukuannya, ia keluar sambil menggeram hendak memberi pelajaran pada Abu Jahal. Dia mendekati Abu Jahal, hingga tatkala sudah berdiri di atas kepalanya, Hamzah memukulnya dengan tombak, dan ia pun terluka parah. Hamzah berkata, “Akankah engkau menghujatnya sedang aku memeluk agamanya? Aku mengatakan sebagaimana yang dia katakan, maka balaslah jika engkau mampu.”
Orang-orang dari kaumnya, Bani Makhzum melindungi Abu Jahal dan menolongnya. Abu Jahal berkata kepada mereka: “Biarkan Abu Ammarah –kunyah (panggilan) Hamzah-, sesungguhnya aku demi Allah, telaah mencela keponakannya dengan cercaan yang jelek.”
Demikianlah Abu Jahal, menjadi sebab tidak langsung keislaman Hamzah, yang dengan keislamannya Islam menjadi mulia, ia menjadi tameng dan kekuatan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kaum Quraisy terperangan dengan keislamannya, maka hinalah kesombongannya, musnahlah kecongkakan pembesar-pembesarnya. Kemudian tiga hari sesudahnya Umar ibnil Khaththab radiyallahu ‘anhumasuk Islam. Abu Jahal juga menjadi sebab masuknya Umar ke dalam islam. Hal ini membakar Abu Jahal dan menambah kesedihan serta kekeruhan hidupnya.
Kefanatikan dan Sikapnya Terhadap Umar
Abu Jahal –semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menghinakannya- sangat fanatik kepada adat-istiadat Jahiliyah, tidak mempedulikan apapun dalam mempertahankannya. Dia tidak bersikap lembut dan tidak pula memperhatikan kehormatan seseorang. Maka dengan kefanatikan yang buta lagi usang ini, dia jauh dari keimanan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Abu Jahal mempropagandakan pembunuhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum musyrikin, di antara mereka kerabatnya Umar ibnil Khaththab radiyallahu ‘anhu yang runtuh kejahiliyahannya karena sesaat dalam detik-detik keimanan yang merasuk ke dalam hatinya. Dia berbalik menjadi manusia yang tenang tentram, jiwanya telah merasakan manis keimanan, lantas dia memuliakan jiwanya dan jiwanya menjadi mulia karenanya. Allah telah membenarkan dakwah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, saat memuliakan Islam dan menopangnya dengan keberadaan Umar ibnil Khaththab. Akan tetapi bagaimana reaksi Abu Jahal dengan keislaman Umar?
Referensi yang terpercaya meriwayatkan, bahwa tatkala Umar masuk Islam, dia berfirkir di malam harinya mengenai siapakah yang paling memusuhi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di antara penduduk Mekah, lantas dia melihat Abu Jahal-lah orangnya.
Umar radiyallahu ‘anhu bercerita, “Aku menghadap Abu Jahal di pagi hari dengan menggedor pintunya, lantas Abu Jahal keluar seraya berkata, ‘Selamat datang, wahai putra saudariku, ada keperuan apa kiranya?’
Aku berkata, ‘Kedatanganku untuk memberitahukanmu bahwa aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad dan aku membenarkan apa yang dia bawa’.”
Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Lalu Abu Jahal menutup pintunya dengan keras di depan mukaku seraya berkata, ‘Semoga Allah menjadikanmu buruk dan apa yang kau bawa.”
Tindakan seperti ini membuat Abu Jahal mulai mereka-reka tipu daya untuk Islam. Dia tercatat memiliki sikap-sikap licin yang menunjukkan keburukan dan kebejatan hatinya, bahkan ragu akan kejantanannya. Abu Jahal berbuat kejelekan terhadap kaum muslimin tidak sebatas kaum muslimin yang berada di Mekah saja, melainkan dia menyakiti orang yang datang berkunjung ke Mekah, berniat umrah atau berdagang dan lain-lain, maka kami paparkan salah satu bentuk tindakan tersebut.
Sumber: Orang-orang yang Divonis Masuk Neraka, Pustaka Darul Ilmi, Cetakan Pertama Sya’ban 1429 H/ Agustus 2008 M

0 komentar:

Poskan Komentar

top