Bagaimana meraihnya & menjadi orang yang mulia di Akhirat karenanya..

Al-Imam Abu Muhammad al-Barbahari berkata: "(Termasuk landasan pokok Islam adalah kewajiban) mengimani syafa'at Ra
sulullah  bagi orang-orang yang berbuat dosa dan salah (dari kaum muslimin) pada hari kiamat, juga di atas ash-shiraath (jembatan yang dibentangkan di ata
s permukaan neraka Jahannam), dan (dengan syafa'at) Rasulullah  mengeluarkan mereka (dengan izin Allah)
dari dalam neraka Jahannam. Masing-masing Nabi memiliki syafa'at, demikian pula para shiddiq, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shaleh…" [Syarhus Sunnah hal. 73].
Imam Abu Ja'far ath-Thahawi berkata: "Syafa'at yang Allah simpan untuk kaum muslimin (di akhirat nanti)
adalah benar, sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits-hadits Rasulullah " [Syarh Aqidah ath-Thahawiyyah hal. 229]
DEFINISI SYAFA’AT
Secara bahasa asy-Syaf’u berarti genap, lawan dari al-Witru. Adapun secara istilah syari’at, Syafa’at adalah menjadi penengah bagi orang lain untuk mengusahakan kebaikan atau mencegah keburukan. [Syarhul Aqiidatil Waasithiyyah: 2/168]
AL-QUR-AN BERBICARA SYAFA’AT
“Siapakah (maksudnya; tiada seorangpun) yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya" (QS al-Baqarah: 255).
Imam al-Qurthubi berkata: "Ayat (yang mulia) ini menetapkan bahwa Allah mengizinkan siapa yang dikehendaki-Nya untuk (memberikan) syafa'at, mereka adalah para Nabi, para ulama, orang-orang yang berjihad (di jalan-Nya), para Malaikat, dan orang-orang selain mereka yang dimuliakan dan diutamakan oleh Allah. Kemudian mereka tidak bisa memberikan syafa'at kecuali kepada orang yang diridhai Allah, sebagaimana firman-Nya:
"Dan mereka tidak (bisa) memberi syafa'at melainkan kepada orang yang diridhai Allah" (QS al-Anbiyaa': 28)
Demikian pula firman Allah dalam ayat-ayat berikut:
"Pada hari itu (hari kemudian) tidak berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) orang yang diberi izin oleh Allah Maha Pemurah, dan Dia telah meridhai perkataannya" (QS Thaahaa: 109).
"Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa'at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah ialah) orang yang mempersaksikan (kalimat tauhid) dengan benar dan mereka menyakini(nya)" (QS az-Zukhruf:86).
"Dan betapa banyak Malaikat di langit, syafa'at mereka sedikitpun tidak berguna kecuali setelah Allah mengizinkannya bagi orang yang dikehendaki dan diridhai-Nya" (QS an-Najm: 26).
Semua ayat di atas menetapkan adanya syafa'at pada hari kiamat dengan syarat-syarat tertentu, yang akan kami paparkan.
HADITS-HADITS TENTANG SYAFA’AT
Pertama: Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam  bersabda: "Setiap Nabi  mempunyai doa yang mesti dikabulkan (oleh Allah ), maka mereka semua menyegerakan doa mereka tersebut  (di dunia), dan aku menyimpan doaku sebagai syafa'at bagi umatku pada hari kiamat nanti, maka syafa'at itu insya Allah akan diraih oleh orang yang meninggal dunia dari umatku dalam keadaan dia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu" [Shahih Muslim no. 199]
Kedua: Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam  bersabda: "Orang yang paling berbahagia dengan (mendapatkan) syafa'atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan (kalimat) Laa ilaaha illallahu (tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah) dengan ikhlas dari hati atau jiwanya" [Shahih Bukhari no. 99]  
Ketiga: Dari Abu Sa'id al-Khudri , dalam sebuah hadits qudsi yang panjang, Allah  berfirman: "Para Malaikat telah memberi syafa'at, para Nabi  (juga) telah memberi syafa'at, dan orang-orang yang beriman (juga) telah memberi syafa'at, maka tidak tersisa kecuali Zat Yang Maha Penyayang (Allah )…" [Shahih Muslim no. 183]
Keempat: Dari Abdullah bin 'Abbas  beliau berkata: Sungguh aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam   bersabda: "Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lalu jenazahnya dishalatkan oleh 40 orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, kecuali Allah akan menerima/mengabulkan syafa'at mereka terhadapnya" [Shahih Muslim no. 948]
BEBERAPA MACAM SYAFA’AT DI AKHIRAT KELAK
Pertama: Syafa'at al-'Uzhma (syafa'at yang paling agung), inilah al-Maqaamul Mahmuud (kedudukan yang terpuji) yang Allah janjikan kepada Rasulullah.
Syafa'at ini adalah syafa'at beliau kepada seluruh umat manusia ketika mereka dikumpulkan di padang mahsyar untuk menunggu keputusan Allah, pada waktu itu manusia merasakan kesusahan dan penderitaan yang sangat besar, sehingga mereka mendatangi para Nabi: Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, 'Isa bin Maryam, agar meminta syafa'at kepada Allah bagi mereka, tapi semua para Nabi tersebut mengajukan keberatan, lalu mereka meminta kepada Rasulullah dan beliaulah yang diizinkan oleh Allah untuk memberikan syafa'at tersebut (lih. Shahih Bukhari: 7002 dan  Shahih Muslim: 193)
Kedua: Syafa'at Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam  kepada penghuni surga untuk masuk ke dalam surga, karena ketika penduduk surga telah melewati ash-shiraath (jembatan yang dibentangkan di atas permukaan neraka Jahanam), mereka mendapati pintu surga tertutup, maka mereka meminta kepada para Nabi di atas untuk meminta kepada Allah agar membuka pintu surga, tapi mereka tidak mampu, sehingga Rasulullah yang meminta syafa'at kepada Allah untuk membukakan pintu-pintu surga bagi penghuninya (lih. Shahih Muslim no. 195)
Ketiga: Syafa'at kepada orang-orang beriman yang telah dimasukkan ke dalam neraka karena dosa-dosa mereka, kemudian dengan syafa'at tersebut mereka dikeluarkan dari neraka (lih. Fathul Madjiid hal. 251)
Keempat: Syafa'at bagi penduduk surga untuk meninggikan derajat mereka dan menambah keutamaan mereka (lih. al-Qoulul Mufiid: 1/335, Imam Ibnu ‘Utsaimin)
SYARAT-SYARAT DITERIMANYA SYAFA’AT & SIAPA YANG BERHAK MEMBERIKANNYA
Semua syafa'at adalah milik Allah  semata, maka syafa'at yang diterima di sisi-Nya hanyalah syafa'at yang memenuhi syarat-syarat yang ditentukan-Nya. Allah berfirman:
“Katakanlah: ‘Semua syafa’at itu milik Allah.’” [QS. az-Zumar: 44]
Syarat-syarat diterimanya syafa’at tersebut adalah (Tafsir Ibnu Katsir: 4/72):
Pertama: Ridha Allah terhadap orang yang akan memberi syafa'at. Dalam hal ini mereka adalah Rasululla Shalallahu ‘alaihi wassalam   dan para Nabi lainnya, serta para Malaikat dan orang-orang yang shaleh dari kaum mukminin, demikian juga anak-anak kaum muslimin yang meninggal dunia sebelum baligh (dewasa), dua atau tiga orang, dapat memberi syafa'at kepada orang tuanya (sebagaimana dalam hadits shahih riwayat an-Nasaa-i no. 1876).
Kedua: Ridha Allah terhadap orang yang akan diberi syafa'at terhadap orang yang akan diberi syafa'at.
Ketiga: Izin Allah dalam pemberian syafa'at tersebut. Dan izin dari-Nya adalah setelah ridha-Nya kepada orang yang akan memberi syafa'at dan orang yang akan diberi syafa'at.
Ketiga syarat ini disimpulkan oleh para ulama dari dalil-dalil yang telah disebutkan.
SYAFA’AT YANG BATHIL
Syafa’at yang batil, yaitu syafa’at yang dinafikan dalam al-Qur’an karena tidak memenuhi syarat-syarat di atas, inilah syafa’at yang dijadikan sandaran oleh orang-orang musyrik kepada sembahan-sembahan mereka, di mana mereka menyembah sembahan-sembahan tersebut dan menyangka sembahan-sembahan tersebut bisa memberi syafa’at untuk mereka di sisi Allah. Allah berfirman:
“Dan mereka menyembah kepada selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan, dan mereka berkata: "Sembahan-sembahan itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah". Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di langit dan tidak (pula) di bumi"? Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (itu)” (QS Yunus:18).
Akan tetapi syafa’at ini tertolak dan tidak bermanfaat sama sekali, sebagaimana firman-Nya:
“Maka tidak berguna bagi mereka syafa'at dari orang-orang yang memberikan syafa'at" (QS al-Muddatstsir: 48).
AGAR KITA MENDAPAT SYAFA’AT
Imam Ibnul Qayyim berkata: "Renungkanlah sabda Nabi kepada Abu Hurairah (dalam hadits sebelumnya); bagaimana Nabi menjadikan sebab utama untuk mendapatkan syafa’at beliau adalah memurnikan tauhid (penghambaan diri kepada Allah semata), yang ini sangat berseberangan dengan persangkaan orang-orang musyrik bahwa syafa’at itu diraih dengan menjadikan pelindung-pelindung (selain Allah) sebagai pemberi syafa’at, menyembah dan berloyal kepada mereka. Maka Nabi membantah persangkaan dusta orang-orang musyrik tersebut dan beliau menyampaikan bahwa sebab (untuk meraih) syafa’at adalah (dengan) memurnikan tauhid, dan ketika itulah Allah mengizinkan kepada pemberi syafa’at untuk memberikan syafa’at…Dan sungguh Allah tidak akan meridhai ucapan dan perbuatan (manusia) kecuali (yang dilandasi) tauhid kepada-Nya dan ittibaa’ (mengikuti petunjuk dan sunnah) Rasulullah…” [Madaarijus Saalikiin: 1/341]
Disamping itu, dalam hadits-hadist yang shahih Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam  menyebutkan beberapa amalan shaleh yang menjadi sebab untuk meraih syafa'at di akhirat nanti , di antaranya:
(1). Membaca al-Qur'an dengan merenungi kandungan maknanya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam  bersabda: "Bacalah al-Qur'an, karena sesungguhnya bacaan al-Qur'an itu akan datang pada hari kiamat untuk memberi syafa'at bagi orang-orang yang membacanya (sewaktu di dunia)" [Muslim: 804]
(2). Memperbanyak sujud (shalat-shalat sunnah setelah melaksanakan shalat-shalat yang wajib). Ketika ada seorang pelayan berkata kepada RasulullahShalallahu ‘alaihi wassalam  : Keperluanku adalah agar engkau (wahai Rasulullah) memberi syafa'at bagiku pada hari kiamat. Maka Rasulullah  bersabda: "Bantulah aku (untuk keperluanmu itu) dengan memperbanyak sujud (shalat-shalat sunnah)" [ash-Shahiihah: 2102]
(3). Membaca shalawat kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam  dan meminta al-wasiilah untuk beliau (seperti yang diucapkan pada doa setelah mendengar azan selesai dikumandangkan). Dalam hadist yang shahih Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam  bersabda: "…Barangsiapa yang meminta al-wasiilah untukku maka halal baginya (mendapatkan) syafa'atku" [Muslim: 384]
(4). Tinggal di kota Madinah (kota Nabi), bersabar atas kesusahannya dan meninggal dunia di sana. Ini disebutkan dalam beberapa hadits shahih (di antaranya dalam Shahih Muslim no. 1374)
(5). Jenazah yang dishalatkan oleh empat puluh orang ahli tauhid. Dari Abdullah bin 'Abbas beliau berkata: Sungguh aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam  bersabda: "Tidaklah seorang muslim meninggal dunia lalu jenazahnya dishalatkan oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, kecuali Allah akan menerima/ mengabulkan syafa'at mereka terhadapnya" [Shahih Muslim no. 948]
http://alhujjah.com

0 komentar:

Poskan Komentar

top