Pertanyaan :
Kadang, suka terfikir dalam benak saya, sesudah kita meninggal, lalu kemudian masuk surga atau neraka, benarkan kita benar-benar kekal di dalamnya dalam kondisi seperti itu? Maksudnya, terfikir oleh saya, tidakkah ada rencana Allah yang lain sesudah itu? Atau memang “sesederhana” itukah rencana Allah kepada kita? (Asep Sofyan | Depok | Pria | Peg Swasta)
Jawaban :
Seseorang harus mengetahui, bahwa akal manusia itu terbatas. Tidak semua hal bisa dinalarnya. Jangankan untuk mengetahui hakikat negeri akhirat yang jauh dari diri kita, ruh yang ada di dalam diri kita saja, akal kita tidak mampu menjangkaunya. Bahkan, akan akal kita sendiri, kita tidak mampu memahami hakikatnya. Oleh karena itu, seorang muslim yang beriman, hendaknya ia lebih mengandalkan imannya daripada akalnya dalam permasalahan ghaib.
Untuk itulah, sepatutnya seorang muslim lebih mendahulukan keimanannya dan pasrah dengan konsekuensi keimanan, karena kata Islam itu sendiri bermaknaistislam yaitu tunduk dan pasrah. Seorang mukmin wajib beriman terhadap al-Qur`an yang telah menjelaskan bahwa akhirat itu kekal abadi, baik neraka atau surga.
Alloh Ta’ala berfirman :
بَلَى مَن كَسَبَ سَيِّئَةً وَأَحَاطَتْ بِهِ خَطِيـئَتُهُ فَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ وَالَّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصَّالِحَاتِ أُولَـئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
(Bukan demikian), yang benar: barangsiapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya.” (QS al-Baqoroh : 81-82)
Ini merupakan keadilan dan rahmat Alloh Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba-hamba-Nya. Ia akan menghukumi siapa saja yang ia kehendaki dengan neraka dan surganya. Barangsiapa yang masuk ke dalam surga, negeri kebahagiaan dan kesenangan, niscaya ia akan di dalamnya untuk selama-lamanya. Dan barangsiapa yang masuk ke dalam neraka, apabila ia yang seorang kafir atau musyrik, maka dengan keadilan Alloh ia akan masuk ke neraka kekal di dalamnya, dan apabila ia seorang muslim yang bermaksiat atau berdosa, niscaya Alloh akan mengampuninya jika ia berkehendak atau menghukumnya dengan neraka selama masa waktu tertentu dengan kehendak-Nya pula, lalu Ia keluarkan dan masukkan mereka ke surga dan mereka kekal di dalamnya.
Ingatlah wahai saudaraku, Alloh itu adalah Khaliq (pencipta) yang menciptakan kita semua dan segala amal perbuatan kita, sedangkan kita ini adalah makhluq (yang diciptakan). Untuk itu, ketahuilah, Alloh Ta’ala berfirman :
لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ
Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.
Alloh itu maha adil dan maha rahmah kepada makhluq-Nya. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Masyhur Hasan Salman dalam at-Tahqîqât wan-Nashîhât as-Salafîyât ‘ala Matni al-Waraqât :
إِنَّ اللهَ إِنْ وَعَدَ لاَ يُخْلِفُ وَعْدَهُ, وَ إِنْ أَوْعَدَ فَقَدْ يُخْلِفُ وَعِيْدَهُ مِنْ بَابِ فَضْلِهِ وَكَرَمِهِ
“Sesungguhnya Alloh jika berjanji maka Ia tidak akan menyelisihi janji-Nya dan jika Ia mengancam, terkadang ia menyelisihi ancamannya karena keutamaan dan kemuliaan-Nya.”
Apakah begitu layaknya kita menyebut dan mempertanyakan kehendak Alloh dengan kalimat “sesederhana”, padahal Dialah yang Maha Pemurah lagi Maha Adil terhadap hamba-Nya. Dia lah yang berhak bertanya dan tidak berhak ditanyai, sebagaimana Ia yang menciptakan dan tidak diciptakan…
Allohu a’lam bish showab. - http://konsultasi.stai-ali.ac.id

0 komentar:

Poskan Komentar

top