Mereka mengklaim, anak-anak yang lebih sering menghabiskan waktunya menonton TV punya pembuluh arteri lebih sempit di belakang mata mereka, yang notabene merupakan salah satu pertanda risiko penyakin jantung di masa mendatang.
Studi yang dilakukan terhadap 1.492 anak usia enam dan tujuh tahun dari 34 SD di Sidney tersebut juga menemukan bahwa anak-anak yang lebih sering bermain di luar rumah minimal satu jam setiap hari memiliki pembuluh arteri lebih besar dibandingkan mereka yang hanya menghabiskan 30 menit atau kurang dengan kegiatan serupa. Berdasarkan penelitian itu, rata-rata seorang anak menghabiskan waktu empat kali lebih banyak (1,9 jam) di depan layar TV maupun komputer ketimbang melakukan aktiitas fisik (36menit).
Tim peneliti juga menemukan bahwa setiap menghabiskan satu jam di depan layar, pembuluh arteri di belakang mata akan mengecil sekitar satu per 153 ribu milimeter atau setara dengan tekanan darah 10mm hg. Sebagai informasi, tekanan darah normal adalah antara 90 hingga 120 mmhg.
Salah satu peneliti juga mengklaim, kebiasaan anak menyaksikan siara TV maupun bermain game di komputer turut mempengaruhi berkurangnya aktivitas fisik kebiasaan makan yang tidak sehat, serta kenaikan berat badan.
Akibat dalam jangka lama dan terus menerut karena dipengaruhi dua stimulus saja, yakni suara dan gambar, maka kemampuan anak berkonsentrasi sangat pendek. Anak-anak hanya sanggup berkonsentrasi antara 2 sampai 7 menit. Mereka jadi kesulitan dalam belajar yang ujung-ujungnya menimbulkan kemalasan belajar.
Selain itu, dengan menonton TV aktivitas fisik anak akan berkurang. Mereka menjadi kurang terampil. Lebih buruk lagi, mereka menjadi kekurangan waktu untuk bermain, bersosialisasi, dan berkomunikasi dengan teman-temannya. Akibatnya keterampilan emosi dan sosial anak tidak berkembang.
Lantas bagaimana caranya agar anak tak lagi hobi nonton Tv? Berikut ini tipsnya:
  1. Buatlah aturan waktu untuk menikmati TV, seperti tidak menyalakan TV kartun pada pagi hari, karena akan memengaruhi aktivitas hari Anda dan si kecil.
  2. Ubahlah kebiasaan menonton TV. Anak – anak cenderung akan mengikuti kebiasaan yang dilakukan orang tuanya, seperti jika orang tuanya memiliki kebiasaan nonton sinetron maka seorang anak akan memiliki kebiasaan seperti itu.
  3. Temukan hiburan alternatif yang dapat membuat rileks, seperti berenang, bermain puzzle, atau membaca buku bersama-sama.
  4. Jika punya anak usia remaja, ingatlah bahwa ia membutuhkan hiburan yang baik. Membelikannya sebuah buku yang sesuai dengan usianya lebih bermanfaat daripada mengizinkannya menikmati program TV berlama-lama.
  5. Jangan jadikan TV sebagai baby sitter. Anak yang ditinggal sendiri di depan TV akan memberikan pengaruh yang tidak baik, karena bisa saja anak-anak menonton acara dewasa.
  6. Stop menonton TV saat waktu makan malam tiba. Bersikap tegas lah dengan aturan ini karena nantinya Anda dan keluarga bisa menikmati makan malam bersama tanpa gangguan apapun. Selama makan malam, Anda pun bisa saling mengobrol dengan anak. Anak juga dapat lebih fokus pada makanannya dan tidak mengalihkan pandangannya ke TV.
Disadur dari Lembar Pendidikan Anak Yaa Bunayya Volume 4 No.12, Bonus Majalah Sakinah Vol.10, No 04, 15 Juli-15 Agustus 2011/ Rajab-Sya’ban 1432-http://jilbab.or.id

0 komentar:

Poskan Komentar

top