Ini adalah kisah keteguhan ulama’ salaf dan kedalaman ilmu mereka, dimana setiap tindakannya senantiasa didasari ilmu, sehingga tidak ragu dan bimbang dalam mengambil setiap keputusan. Ini juga kisah keterusterangan mereka diatas kebenaran, tidak takut kepada siapapun selain Allah ta’ala.
 
Dikisahkan, bahwa suatu ketika Hisyam bin ‘Abdul Malik, salah seorang khalifah Umawiyah, tiba ke Tanah Suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Tatkala telah masuk ke Makkah, khalifah berkata, “Datangkan kepadaku salah seorang Sahabat!” Dijawab, “Wahai amirul mu’minin, mereka semua telah tiada.” Khalifah berkata lagi, “Dari kalangan Tabi’in!?” Maka, didatangkanlah Thawus al-Yamani. Ketika beliau telah masuk untuk bertatap muka dengan khalifah, beliau melepas sandalnya di tepian permadani, dan tidak memberi salam dengan menyebut amirul mu’minin (pemimpin kaum beriman), akan tetapi beliau berkata, “Assalamu ‘alaika, wahai Hisyam!” Beliau juga tidak menyebut gelarnya dan duduk begitu saja di depan khalifah, lalu berkata, “Apa kabar, hai Hisyam!”

Maka, mendidihlah kemurkaan Hisyam, dan nyaris saja ia menyuruh orang untuk membunuh Thawus. Hisyam berkata kepada Thawus, “Apa yang meyebabkanmu berbuat begitu?!” Beliau balik bertanya, “Memangnya, apa yang telah aku lakukan?” Maka, Hisyam pun semakin marah dan mendongkol. “Engkau melepas sandalmu di tepian permadaniku, engkau tidak mencium tanganku, engkau tidak mengucapkan salam kepadaku dengan menyebut amirul mu’minin, engkau tidak menyebut gelarku, engkau duduk di depanku tanpa meminta izin, dan engkau berkata; ‘Apa kabar, hai Hisyam?’”

Thawus menjawab, “Tentang perkataanmu: ‘Engkau melepas sandalmu di tepian permadaniku’, maka aku melepasnya di hadapan Tuhan semesta alam setiap hari lima kali, namun Dia tidak menghukumku dan tidak pula marah kepadaku. Tentang perkataanmu: ‘Engkau tidak mencium tanganku’, maka aku mendengar ‘Ali bin Abi Thalib berkata, “Tidak boleh seorang laki-laki mencium tangan seseorang, kecuali istrinya karena syahwat atau anaknya karena kasih sayang.” Tentang perkataanmu: ‘Engkau tidak mengucapkan salam kepadaku dengan menyebut amirul mu’minin’, sebenarnya tidak semua orang ridha dengan kepemimpinanmu, maka aku pun tidak mau berbohong. Tentang perkataanmu: ‘Engkau tidak menyebut gelarku’, maka sesungguhnya Allah menyebut langsung nama wali-wali-Nya. Allah berfirman: “Wahai Dawud, wahai Yahya, wahai ‘Isa.” Namun Allah justru menyebut gelar musuh-musuhnya, maka Dia berfirman: “Celakalah kedua tangan Abu Lahab.” Tentang perkataanmu: ‘Engkau duduk di depanku’, maka sungguh aku mendengar ‘Ali bin Abi Thalib berkata, “Bila engkau ingin melihat salah seorang (calon) penghuni neraka, maka lihatlah seseorang yang duduk dan di sekitarnya ada sekelompok orang yang berdiri.”

Maka, Hisyam pun berkata, “Nasehatilah aku.”

Thawus berkata, “Aku mendengar ‘Ali bin Abi Thalib berkata: ‘Sesungguhnya di dalam neraka Jahannam terdapat ular-ular (yang bergelung) bagaikan tempayan-tempayan raksasa, juga kalajengking-kalajengking yang (besarnya) bagaikan bighal (kuda-keledai). Mereka akan menggigit dan menyengat setiap penguasa yang tidak adil memimpin rakyatnya.”

Thawus kemudian bangkit berdiri, dan keluar.

(*) Diceritakan oleh al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi dalam Ma Rawahul Asathin Fi ‘Adamil Maji’ Ilas Salathin, hal. 62-63. Thawus yang diceritakan disini adalah Thawus bin Kaysan Abu 'Abdirrahman al-Yamani al-Janadi, salah seorang murid Ibnu 'Abbas yang terkemuka. Beliau keturunan Persia, tepatnya dari keturunan pasukan Persia yang dikirim Kishra ke Yaman. Dikenal sebagai tokoh yang sangat menjauhi penguasa di zamannya. Beliau wafat tahun 105 H, atau sekitar itu.

0 komentar:

Poskan Komentar

top