Kelahiran Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم
Anugerah yang Harus Disyukuri

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أَمَّ بَعْدُ:
Sesungguhnya kelahiran Nabi صلى الله عليه وسلم ke dunia ini merupakan suatu nikmat yang agung. Bagaimana tidak, dengan kelahiran beliau berarti muncullah seorang Nabi yang penuh kasih sayang dan berjasa besar dalam mengeluarkan manusia dari kebodohan masa Jahiliah menuju sinar agama Islam yang keindahannya dapat kita rasakan hingga detik ini.
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ
“Sungguh Alloh telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Alloh mengutus di antara mereka seorang Rosul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Alloh, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah, dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali Imron [3]: 164)
Oleh karena itu, hendaknya bagi umat ini untuk banyak bersyukur kepada Alloh عزّوجلّ atas kelahiran Nabi صلى الله عليه وسلم yang mulia tersebut. Namun, apakah rasa syukur tersebut diartikan bahwa kita perlu berlebihan dengan hari kelahiran beliau صلى الله عليه وسلم yang mulia? Membuat dongeng-dongeng serta keyakinan-keyakinan yang tidak berdasar agama? Membuat ritual-ritual ibadah yang tidak berdasarkan bimbingan agama? Menyebarkan hadits-hadits palsu dan dusta tentangnya? Inilah yang hendaknya menjadi renungan kita bersama.
Pernahkah kita berfikir secara jernih dan jauh dari belenggu hawa nafsu tentang siapakah pencetus perayaan maulid nabi?! Apakah mereka itu Nabi صلى الله عليه وسلم, para sahabat, para tabi’in dan tabi’ut tabi’in, para imam madzhab seperti Abu Hanifah, Malik, Ahmad, dan Syafi’i?! Ataukah pencetusnya adalah Bani Ubaid al-Qoddakh yang populer dengan kesesatan?! Ini juga sebuah tanda tanya besar bagi kita semua.
Marilah kita dalam beragama dan beribadah sesuai dengan tuntunan agama yang dibangun di atas al-Qur’an, hadits shohih dengan pemahaman salafush sholih, bukan hawa nafsu atau kebiasaan mayoritas manusia, karena semua itu bukanlah barometer kebenaran yang sesungguhnya.
Marilah kita mencintai Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dengan cinta yang sesungguhnya, yaitu dengan membenarkan ucapannya, mengamalkan perintahnya, meninggalkan larangannya, membela haditsnya, beribadah sesuai dengan tuntunannya. Bukan cinta palsu yang hanya dibangun atas dasar perasaan dan pengakuan belaka.
Demi Alloh, tanyakanlah pada diri kita masing-masing, siapakah orang yang paling mencintai Nabi صلى الله عليه وسلم, apakah diri kita ataukah para sahabat dan tabi’in serta ulama-ulama salaf dahulu?! Namun, adakah di antara mereka yang merayakannya?!
Terlebih lagi, bila kita berkata jujur, kebanyakan fenomena perayaan maulid nabi pada zaman sekarang tidak lepas dari kemungkaran-kemungkaran, seperti campur baur lelaki dan wanita, musik dan nyanyian, pemborosan, sikap berlebih-lebihan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم, munculnya hadits-hadits palsu atas nama Nabi صلى الله عليه وسلم, dan lain sebagainya. Maka sudah saatnya bagi kaum muslimin untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni, bersih dari noda-noda kebid’ahan yang malah merusak keindahan agama.[]
Disalin dari Majalah al-Furqon no.99 Ed.7 Th. ke-9 1431H/2010M rubrik Tajuk oleh Redaksi Majalah al-Furqon Gresik.
Download:
Kelahiran Nabi Muhammad, Anugerah yang Harus Disyukuri
Download Word
http://soaldanjawab.wordpress.com

0 komentar:

Poskan Komentar

top