Arab Saudi Memang Panas, Teknologi Bikin SejukLiputan6.com, Mekkah: Di musim panas, suhu siang hari di Arab Saudi bisa mencapai 50 derajat Celcius. Sangat panas, apalagi untuk ukuran jamaah asal Indonesia.

Tapi, perkembangan teknologi membuat ketidaknyamanan itu bisa diatasi, baik di Masjidil Haram, Mekkah, maupun Masjid Nabawi, Madinah. Sistem pengaturan suhu ini diperkenalkan sejak era Raja Fahd bin Abdulaziz.

Hasil analisis menunjukkan, 45 persen panas di bangunan masjid justru berasal dari tubuh para jamaah yang membeludak. Setiap tubuh manusia saja menghasilkan 1 kilojul panas setara dengan lampu berdaya 100 watt. Faktor cuaca hanya menyumbang 33 persen. Sementara, 22 persennya berasal dari peralatan elektronik dan lampu di masjid.

Sistem pengatur suhu terbagi dalam beberapa elemen penting. Stasiun pusat, yakni bangunan bagi mesin-mesin yang mampu mendinginkan ribuan galon air yang bersirkulasi tiap detik. Kemudian udara dialirkan melalui pipa baja ke bagian bawah lantai marmer dan pilar-pilar masjid.

Untuk sistem pendingin Masjid Nabawi, air dingin diproduksi di sebuah bangunan khusus di kaki bukit, sekitar tujuh kilometer dari masjid. Di sini terdapat tujuh mesin pendingin raksasa dari besi baja kualitas tinggi yang bisa menahan level tekanan panas dan suhu tinggi.

Mesin ini mendinginkan kembali air dari masjid dengan proses evaporasi dan kompresi. Masing-masing mesin bisa memproduksi 230 liter air dingin per detik.

Air dingin yang menghadirkan rasa sejuk bagi jamaah dialirkan kembali ke basemen mesjid melalui pipa penyalur. Hasilnya, para jamaah merasakan kenyamanan saat beribadah meski di bawah terik matahari sekali pun.

0 komentar:

Poskan Komentar

top