Dengan kata lain, do’a yang harus dibaca ketika terjadi petir.
سُبْحَانَ الَّذِيْ يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمِدِهِ، وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ
“Mahasuci Allah yang petir bertasbih dengan memuji-Nya dan begitu pula para malaikat, karena takut kepada-Nya.”[1]
Abdullah  bin Az-Zubair Radhiyallahu Anhuma jika mendengar petir langsung berhenti berbicara dan berucap:
x(سُبْحَانَ الَّذِيْ (يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمِدِهِ، وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيْفَتِهِ
“Mahasuci Dzat Yang disucikan (guruh dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya).” (Ar-Ra’d: 13)
Dengan kata lain, jika mendengar suara guruh dia berhenti berbicara dengan orang lain kemudian membaca ayat.
Ali, Ibnu Abbas, dan kebanyakan para ahli tafsir berkata, “Ar-Ra’d ‘Guruh‘ adalah nama malaikat yang mengendalikan awan.”
Datang    dari    Abdullah    bin    Abbas   Radhiyallahu Anhuma bahwa dia berkata,
أَتَتْ يَهُودُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلُوْهُ عَنِ الرَّعْدِ مَا هُوَ؟ قَالَ: مَلَكٌ مِنْ الْمَلَائِكَةِ مُوَكَّلٌ بِالسَّحَابِ، مَعَهُ مَخَارِيقُ مِنْ نَارٍ، يَسُوقُ بِهَا السَّحَابَ حَيْثُ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى، فَقَالُوا: فَمَا هَذَا الصَّوْتُ الَّذِي نَسْمَعُهُ؟ قَالَ: زَجْرُةُ سَّحَابِ إِلَى حَيْثُ أَمَرَهُ، قَالُوا: صَدَقْتَ
‘”Datanglah seorang Yahudi kepada Nabi Shallallaha Aiaihi wa Sallam, lalu bertanya tentang guruh itu apa sebenarnya? Beliau menjawab, ‘Malaikat di antara para malaikat yang diberi tugas mengurus awan. Dia memiliki cemeti dari cahaya yang dengannya dia mengendalikan awan sesuai kehendak Allah Ta’ala.’ Mereka bertanya, ‘Apakah sebenarnya suara yang kita dengar? Beliau menjawab, ‘Bentakan awan yang ditujukan kepada apa saja sesuai dengan perintah Allah.’ Mereka berkata, ‘Engkau benar’.”[2][]
Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 421-422.  Terbitan Darul Falah, Jakarta.

[1] Al-Muwaththa, (2/992). Al-Albani berkata, “Shahih isnadnya dan mauquf.”
[2]
 Ahmad, (1/274); At-Tirmidzi, no. 3117, dan dishahihkan Al-Albani. Lihat Ash-Shahihah, no. 1872.
http://doandzikir.wordpress.com

0 komentar:

Poskan Komentar

top