Dengan kata lain, do’a yang dibaca ketika ada hembusan angin.
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا
” Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya  dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya.”[1]
Shahabat yang meriwayatkan hadits ini adalah Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu.
Hadits ini seutuhnya adalah sabda beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam,
الرِّيحُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ قَالَ سَلَمَةُ فَرَوْحُ اللَّهِ تَأْتِي بِالرَّحْمَةِ وَتَأْتِي بِالْعَذَابِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَلَا تَسُبُّوهَا وَسَلُوا اللَّهَ خَيْرَهَا وَاسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا
“Angin adalah sebagian dari rahmat Allah. Datang dengan membawa rahmat dan datang pula dengan adzab. Jika kalian melihatnya, maka janganlah kalian mencacinya dan mohonlah kebaikannya kepada Allah dan berlindunglah kepada-Nya dari keburukannya.”
Ungkapan الرِّيحُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ‘angin adalah sebagian dari rahmat Allah’, dengan kata lain, sebagian dari rahmat Allah Ta’ala untuk para hamba-Mya.
Ungkapan تَأْتِي بِالرَّحْمَةِ وَتَأْتِي بِالْعَذَابِ ‘datang dengan membawa rahmat dan datang pula dengan adzab‘, dengan kata lain, kadang-kadang menjadi rahmat jika membawa hujan di atas tanah tandus, atau berhembus di waktu panas, dan lain sebagainya. Dan kadang-kadang menjadi adzab ketika menghantam rumah-rumah, gedung-gedung, menghamburkan debu, menumbangkan pepohonan, menguraikan awan yang sangat diharapkan akan menjadi hujan, dan lain sebagainya.
Ungkapan فَلَا تَسُبُّوهَا ‘janganlah kalian mencacinya’. Beliau melarang orang melakukan yang demikian, karena semua itu adalah tanda-tanda kekuasaan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ يُرْسِلَ الرِّيَاحَ مُبَشِّرَاتٍ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah bahwa dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira ….”(Ar-Ruum:46)
Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah mengatakan, “Tidak layak bagi setiap orang mencaci angin, karena sesungguhnya dia diciptakan Allah dan sangat taat. Serta menjadi tentara di antara para tentara-Nya. Dia menjadikannya sebagai rahmat dan sebagai adzab jika menghendakinya.”
Akan tetapi, beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan kepada kita agar memohon  kebaikannya kepada Allah Ta’ala dan berlindung kepada-Nya dari keburukannya.[]
Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 417-419.  Terbitan Darul Falah, Jakarta.

[1] Muslim, (2/671), no. 975; Ibnu Majah dengan lafazh darinya (1/494). no. 1547; dari BuraidahRadhiyallahu Anhu. Apa yang ada di antara dua kurung adalah dari hadits Aisyah Radhiyallahu Anha menurut Muslim, (2/671), no. 974.
http://doandzikir.wordpress.com

0 komentar:

Poskan Komentar

top