Fenomena sebagian orang melecehkan/merendahkan orang yang “berdagang denganNya”
Ada sebagian orang (yaitu KAUM SHUFIYYAH) yang MELECEHKAN atau MERENDAHKAN orang-orang yang “mengharap pahala/surga, dan takut neraka/adzab” dengan mengatakan “ibadahnya para pedagang” yang “menurut mereka” LEBIH RENDAH derajatnya daripada orang yang tidak mengharapkan surga, dan tidak takut neraka, yang mereka mengkategorikan kelompok ini adalah kelompok PALING SEMPURNA KEIKHLASHANNYA! Benarkah klaim mereka ini?!
Pertama-tama… Yang jadi pertanyaan adalah: Tercelakah “berdagang”/”berjual-beli” dengan Allah?!
Simak firman Allah berikut:
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ . لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan PERNIAGAAN yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.
(Faathir: 29-30)
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka BERGEMBIRALAH dengan JUAL BELI yang telah kamu lakukan itu, dan itulah KEMENANGAN yang BESAR.
(At-Tawbah: 111)
Bagaimana tanggapanmu wahai orang yang berkata dengan hawa nafsunya tanpa ada landasan hujjah sedikitpun?! Bahkan menyelisihi firmanNya yang sangat jelas memuji orang yang “berdagang denganNya”!?
Takut neraka/adzabNya dan mengharap surga/pahalaNya, tercelakah? syirik-kah? kurang-kah keikhlashannya?
Ketahuilah SEMUA ITU TIDAK TERCELA, bahkan diperintahkan Allah dan RasulNya!!
Allah telah mensifati para nabi dan juga pemimpin kaum mukminin bahwasanya mereka beribadah kepada Allah dalam kondisi takut dan berharap.
Allah berfirman:
أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا
Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya (yaitu surga) dan takut akan azab-Nya (yaitu neraka); Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.
(QS Al-Israa’ : 57)
Setelah Allah menyebutkan tentang kenikmatan-kenikmatan di surga lalu Allah memerintahkan para hambaNya untuk saling berlomba-lomba dalam memperolehnya.
وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ
dan untuk yang demikian itu hendaknya berlomba-lombalah orang yang ingin berlomba-lomba
(QS Al-Muthoffifin : 26)
Allah berfirman
سَابِقُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
BERSEGERALAH kamu, untuk meraih ampunan dari Rabbmu dan SURGA yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.
(Al-Hadid: 21)
Allah berfirman tentang DOA NABI IBRAAHIIM:
وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ . وَاغْفِرْ لأبِي إِنَّهُ كَانَ مِنَ الضَّالِّينَ . وَلا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ .
Dan Jadikanlah aku Termasuk orang-orang yang mempusakai SURGA yang penuh kenikmatan, Dan ampunilah bapakku, karena Sesungguhnya ia adalah Termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.
(QS Asy-Syu’araa : 85-87)
Allah memerintahkan RASUULULLAAH shallallaahu ‘alayhi wa sallam, dengan berfirman:
قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan SIKSAAN hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku”.
(Az-Zumar: 13)
Bahkan Allah BERFIRMAN kepada Rasuulullaah:
قُلْ مَا سَأَلْتُكُم مِّنْ أَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
Katakanlah: “Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. UPAHKU hanyalah DARI ALLAH, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”.
(Saba: 47)
Ditafsirkan IMAM IBNU KATSIIR:
إنما أطلب ثواب ذلك من عند الله
Sesungguhnya aku HANYA MEMINTA UPAH/BALASAN/PAHALA dari yang demikian (yaitu: dakwahku ini), hanya dari sisi Allah saja..
(Lihat tafsiir ibnu katsiir)
Sungguh Allah telah mensifatkan orang-orang kaafir :
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّقُوا مَا بَيْنَ أَيْدِيكُمْ وَمَا خَلْفَكُمْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Takutlah kamu akan siksa yang dihadapanmu dan siksa yang akan datang supaya kamu mendapat rahmat”, (niscaya mereka berpaling).
(Yaasiin: 45)
Allah berfirman tentang mereka (orang-orang kaafir) :
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ ۚ فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ
Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka!
(Al-Baqarah: 175)
Dalam hadits Qudsi keutamaan majelis ilmu, Rasuulullaah bersabda bahwa Allah bertanya kepada MalaikatNya (sedangkan dia Maha Tahu keadaan orang-orang yang ditanyakanNya):
قَالَ وَمَاذَا يَسْأَلُونِي
Lalu Allah bertanya, ‘Apa yang mereka minta kepada-Ku?’.
قَالُوا يَسْأَلُونَكَ جَنَّتَكَ
Para malaikat itu menjawab, ‘Mereka meminta kepada-Mu surga-Mu.’
قَالَ وَهَلْ رَأَوْا جَنَّتِي
Allah bertanya, ‘Apakah mereka telah melihat surga-Ku?’.
قَالُوا لَا أَيْ رَبِّ
Mereka menjawab, ‘Belum wahai Rabbku.’
قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا جَنَّتِي
Allah mengatakan, ‘Lalu bagaimana lagi jika mereka benar-benar telah melihat surga-Ku?’.
قَالُوا وَيَسْتَجِيرُونَكَ
Para malaikat itu berkata, ‘Mereka juga meminta perlindungan kepada-Mu.’
قَالَ وَمِمَّ يَسْتَجِيرُونَنِي
Allah bertanya, ‘Dari apakah mereka meminta perlindungan-Ku?’.
قَالُوا مِنْ نَارِكَ يَا رَبِّ
Mereka menjawab, ‘Mereka berlindung dari neraka-Mu, wahai Rabbku’.
قَالَ وَهَلْ رَأَوْا نَارِي
Maka Allah bertanya, ‘Apakah mereka pernah melihat neraka-Ku?’.
قَالُوا لَا
Mereka menjawab, ‘Belum, wahai Rabbku.’
قَالَ فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا نَارِي
Lalu Allah mengatakan, ‘Lalu bagaimanakah lagi jika mereka telah melihat neraka-Ku.’
قَالُوا وَيَسْتَغْفِرُونَكَ
Mereka mengatakan, ‘Mereka meminta ampunan kepada-Mu.’
Kemudian Allah berfirman tentang mereka:
فَيَقُولُ قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَأَعْطَيْتُهُمْ مَا سَأَلُوا وَأَجَرْتُهُمْ مِمَّا اسْتَجَارُوا
Allah berfirman, ‘Sungguh Aku telah mengampuni mereka. Dan Aku telah berikan apa yang mereka minta dan Aku lindungi mereka dari apa yang mereka minta untuk berlindung darinya.’.”
فَيَقُولُونَ رَبِّ فِيهِمْ فُلَانٌ عَبْدٌ خَطَّاءٌ إِنَّمَا مَرَّ فَجَلَسَ مَعَهُمْ
“Para malaikat itu berkata, ‘Wahai Rabbku, di antara mereka ada si fulan, seorang hamba yang telah banyak melakukan dosa, sesungguhnya dia hanya lewat kemudian duduk bersama mereka.’.”
فَيَقُولُ وَلَهُ غَفَرْتُ هُمْ الْقَوْمُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ
“Maka Allah berfirman, ‘Dan kepadanya juga Aku akan ampuni. Orang-orang itu adalah sebuah kaum yang teman duduk mereka tidak akan binasa.’.”
(HR. Muslim)
Tidakkah mereka mengambil pelajaran dari hadits diatas?!
Bahkan terdapat KEUTAMAAN orang yang mengharap pahalaNya, ketika beramal
Rasuulullaah juga bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa yang berpuasa di bulan ramadhan karena keimanan dan MENGHARAPKAN (akan pahala darinya) maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”
(HR Al-Bukhari no 38 dan Muslim no 760)
Rasuulullaah bersabda:
مَنِ اتَّبَعَ جَنَازَةَ مُسْلِمٍ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا) حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا فَلَهُ قِيْرَاطٌ، وَمَنْ شَهِدَهَا حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيْرَاطَانِ (مِنَ الأَجْرِ)، قِيْلَ: (يَا رَسُوْلَ اللهِ) وَمَا الْقِيْرَاطَانِ؟ قَالَ: مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيْمَيْنِ
“Barangsiapa yang mengikuti janazah muslim karena keimanan dan MENGHARAPKAN (pahala dari Allah) hingga disholatkan jenazah tersebut maka bagi satu qirot pahala, dan barangsiapa yang menghadiri janazah hingga dikubur maka baginya dua qirot pahala”. Maka dikatakan, “Wahai Rasulullah, apa itu dua qirot?”, Nabi berkata, “Seperti dua gunung besar”
(HR Al-Bukhari no 47)
Al-Khotthoobi berkata
احْتِسَابًا أَيْ عَزِيْمَةً وَهُوَ أَنْ يَصُوْمَهُ عَلَى مَعْنَى الرَّغْبَةِ فِي ثَوَابِهِ
“Ihtisaaban” yaitu azimah (tekad) maksudnya ia berpuasa karena berharap pahala dari Allah”
(Fathul Baari 4/115)
[diambil dari artikel ustadz firanda]
Bahkan RASUULULLAAH BERDOA (bahkan MEMERINTAHKAN kita) untuk MEMINTA SURGA kepada Allah, dan BERLINDUNG KEPADA ALLAH dari NERAKA!
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
مَن آمن بالله ورسوله، وأقام الصلاة، وصام رمضان؛ كان حقاً على الله أن يُدخلَه الجنة؛ هاجرَ في سبيل الله، أو جلس في أرضه التي وُلد فيها
Barangsiapa yang beriman kepada Allah, mendirikan shalat, dan berpuasa di bulan Ramadlan, maka wajib bagi Allah memasukkannya ke dalam surga. Ia berhijrah di jalan-Nya atau tetap tinggal di negeri tempat ia dilahirkan
Para shahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah kami boleh memberitahu orang-orang mengenai hal itu ?”
Beliau bersabda:
((إنَّ في الجنة مئةَ درجةٍ أعدَّها اللهُ للمجاهدين في سبيله، كل درجتين ما بينهما كما بين السماء والأرض، فإذا سألتُم اللهَ فسلُوهُ الفردوسَ الأعلى؛ فإنَّهُ أَوسطُ الجنةِ وأعلى الجنة، وفوقه عرشُ الرحمن، ومنه تُفجر أنهار الجنة
“Sesungguhnya di dalam surga ada seratus tingkatan yang disediakan Allah bagi orang-orang yang berjihad di jalan-Nya. Setiap dua tingkatan seperti jarak antara langit dan bumi. Apabila kalian meminta (berdoa) kepada Allah, maka MINTALAH (SURGA) FIRDAUS yang tertinggi. Sesungguhnya ia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya adalah ‘Arsy Ar-Rahman (Allah). Dari sanalah sungai-sungai surga mengalir”
(HR Bukhaariy)
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam juga bersabda:
مَا سَأَلَ رَجُلٌ مُسْلِمٌ الْجَنَّةَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَطُّ إِلَّا قَالَتْ الْجَنَّةُ اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَلَا اسْتَجَارَ مِنْ النَّارِ إِلَّا قَالَتْ النَّارُ اللَّهُمَّ أَجِرْهُ
“Tidaklah seorang muslim meminta surga tiga kali kecuali surga akan berkata; ‘Ya Allah, masukkan dia ke dalam surga ‘. Dan tidaklah dia meminta keselamatan dari neraka kecuali neraka berkata; ‘Ya Allah, selamatkan dia’”.
(HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan selainnya; hasan li ghayrihi)
Rasuulullaah pernah berdoa:
اللهم إني أسألك الجنة وأعوذ بك من النار
Allaahumma inni as-alukal jannah, wa a’uudzubika minann naar
Ya Allåh, aku MEMINTA KEPADAMU SURGA dan BERLINDUNG KEPADAMU DARI NERAKA
(HR. Ahmad, Abu Dawud; dengan sanad yang shahiih)
Beliau juga pernah berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ
allahumma inni as-alukal jannata wa maa qarraba ilayhaa min qawlin aw ‘amalin
Ya Allah, sungguh aku MEMOHON SURGA kepada-Mu dan semua yang mendekatkan diriku kepadanya dari perkataan atau perbuatan.
وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ
wa a’uudzubika minann naari wa maa qarraba ilayhaa min qawlin aw ‘amalin
Dan aku BERLINDUNG KEPADAMU DARI NERAKA dan semua yang mendekatkan diriku kepadanya dari perkataan dan perbuatan.
(HR. Ibnu Maajah, dengan sanad yang shahiih)
Tidakkah dalil-dalil diatas menyadarkan mereka yang lebih mengedepankan LOGIKA/PERASAANnya diatas WAHYU yang TERANG-BENDERANG menyelisihi pemahaman/keyakinan mereka?
Ancaman bagi mereka yang MENDAHULUKAN perkataan manusia (siapapun orang tersebut, meskipun ia Abu Bakar dan ‘Umar Radhiyallaahu ‘anhumaa), diatas perkataan Allah dan RasulNya!
Jika kita mengatakan “bahwa tingkatan TERTINGGI adalah tidak mengharap surga, dan tidak takut neraka” maka ini berarti MENYELISIHI hujjah yang terang benderang dari al Qur-aan maupun sunnah yang dipraktekkan/diajarkan Rasuulullaah.. bahkan Rasuulullaah pun MEMERINTAHKAN kita untuk seperti demikian… Apakah Allah mengajarkan sesuatu yang tidak sempurna dalam firmanNya? Apakah Rasuulullaah mencontohkan dan mengajarkan sesuatu yang tidak sempurna dalam perbuatan maupun perintahnya? Sedangkan Allah telah memerintahkan kita untuk menjadikan beliau SATU-SATUNYA TAULADAN kita?
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu
(al Ahzaab: 21)
Bahkan beliau bersabda:
أبالله تعلموني أيها الناس ؟ قد علمتم أني أتقاكم لله وأصدقكم وأبركم افعلوا ما آمركم
Demi Allah! bukankah kalian mengenalku wahai manusia!? Kalian telah mengetahui bahwa aku paling bertaqwa kepada Allaah diantara kalian, paling jujur dan paling baik… maka kerjakanlah apa yang aku perintahkan kepada kalian!
(HR. Bukhariy dan Muslim; dinukil dari Hajjatun Nabiy karya Syaikh al Albaaniy rahimahullaah)
Beliau juga bersabda:
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُكُمْ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ قَلْبًا
“Demi Allah, sesungguhnya saya adalah orang yang paling tahu terhadap Allah dan paling bertakwa di antara kalian.”
(HR Bukhariy, Muslim dan selainnya)
Beliau bersabda:
مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوا كَذَا وَكَذَا لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ وَأُصَلِّي وَأَنَامُ وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
“Bagaimanakah keadaan suatu kaum yang mengatakan demikian dan demikian, Akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan tidur, dan aku juga menikahi perempuan, dan barangsiapa yang membenci sunnahku maka ia tidak termasuk golonganku “.
(HR Bukhariy, Muslim dan selainnya)
Kemudian.. apakah atsar *yang mereka bawakan* tersebut SHAHIIH sanadnya? diriwayatkan oleh siapa? dalam kitab apa? mana rujukannya? agar dapat kita periksa sanad dari riwayatnya…
Bahkan PARA IMAM AHLUS SUNNAH, TELAH MENGINGKARI hal ini… dimana mereka berkata:
““Barang siapa beribadah kepada Allah dengan cinta saja (tanpa rasa takut atau tanpa rasa harap) maka dia seorang ZINDIQ,
barang siapa beribadah hanya dengan khouf (takut) saja maka haruri (khawarij),
barang siapa beribadah hanya dengan rasa harap saja maka dia seorang murji’ah
dan barang siapa yang beribadah dengan cinta, takut dan harap maka dia seorang mukmin.”
Ingatlah bahwa terhadap orang MUKMIN, Allah mensifatkan:
وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ
mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya
Kemudian dia berfirman:
إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا
sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.
(al Israa: 57)
Allah juga berfirman tentang orang yang beramal shalih mengharapkan surga/pahalaNya:
وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا
tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbnya serta lebih baik untuk menjadi harapan.
(Al-Kahfi: 46)
Jika firman-firmanNya dan sabda-sabda RasulNya yang diajarkan kepada hambaNya TIDAK DIANGGAP SEMPURNA (derajat tertinggi), apakah kita hendak mengatakan bahwa orang-orang belakangan tersebut lebih tahu tentang derajat disisiNya daripada Allah dan RasulNya?
Allah berfirman:
فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ ۖ فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ
maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?
(Yunus: 32)
Allah berfirman:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Maka demi RABBMU, mereka (pada hakekatnya) TIDAK BERIMAN hingga mereka MENJADIKAN KAMU HAKIM terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka TIDAK MERASA BERAT DALAM HATI MEREKA terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka MENERIMA DENGAN SETUNDUK-TUNDUKNYA.
(An-Nisaa: 65)
Allah juga berfirman:
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.
(An-Nisaa: 115)
Imam Malik råhimahullåh berkata,
“Fitnah apa yang lebih besar ketimbang engkau berpandangan bahwa engkau telah lebih dahulu melakukan amal kebaikan yang tidak dilakukan oleh Råsulullåh shållallåhu ‘alaihi wa sallam?!”
Sesungguhnya aku mendengar Allåh berfirman,
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
(yang artinya) “Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah Råsul takut akan ditimpa fitnah atau akan ditimpa adzab yang pedih.”
(QS. An-Nur: 63)”
–selesai perkataan imam maalik–
Imam Ahmad rahimahullah berkata tentang ayat diatas,
“Tahukah engkau apakah fitnah itu?! Fitnah (dalam ayat) itu adalah kesyirikan, barangkali apabila ia menolak sebagian sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam maka akan menimpa dia sesuatu, berupa kecondongan kepada kesesatan yang menyebabkan ia binasa.”
–selesai perkataan imam ahmad–
Perhatikanlah wasiat berharga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Råhimahullåh
Hati-hatilah, wahai manusia. Janganlah kalian membenci ajaran Rasulullah atau menolaknya karena hawa nafsumu atau karena membela madzhab atau gurumu atau karena kesibukanmu dengan nafsu-nafsu duniawi.
Sesungguhnya Allah tidak mewajibkan seseorang taat kepada orang lain selain kepada Rasul-Nya dan agar mengambil apa-apa yang didakwahkannya.
Sekiranya ada seseorang yang menyelisihi semua makhluk untuk mengikuti Rasul, Allah tidak akan meminta pertanggungjawaban atas tindakannya yang menyelisihi semua orang itu.
Dan seseorang ditaati selama dia mengikuti Rasul. Kalau dia memerintah kita untuk menyelisihi apa yang diperintahkan oleh Rasul, tidak perlu kita taati.
Ketahuilah semua itu…
Dengarkanlah dan taatilah, ikuti ajaran Rasul! Janganlah kalian membuat-buat bid’ah yang akan menjadikan amalanmu tertolak. Tidak ada kebaikan sama sekali dalam amalan yang tidak mengikuti tuntunan Rasul.
Wallahu A’lam.
[Majmu' Fatawa]
Maka hendaknya mereka bertaubat dari kesesatannya.. Dan merujuk kepada hujjah yang sangat terang dan jelas ini!
Wabillahit taufiq (Hanya Allah-lah yang memberi taufiq)
http://abuzuhriy.com/mengharap-surga-takut-neraka-kurang-ikhlas-atau-syirik/

1 komentar:

nano mengatakan...

Subhanallah ini adalah hujjah yang shohih sesuai sunnah... (orang awam sering tersubhat pemikiran tasawuf)

Poskan Komentar

top