Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ دِينَارٍ حَدَّثَنَا أَبُو قَطَنٍ عَمْرُو بْنُ الْهَيْثَمِ الْقُطَعِيُّ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ الْمَاجِشُونِ عَنْ قُدَامَةَ بْنِ مُوسَى عَنْ أَبِي صَالِحٍ السَّمَّانِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي وَاجْعَلْ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلْ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ
Ibrahim bin Dinar menuturkan kepada kami. Dia berkata; Abu Qathan Amr bin al-Haitsam al-Qutha’i menuturkan kepada kami dari Abdul Aziz bin Abdullah bin Abu Salamah al-Majisyun dari Quadamah bin Musa dari Abu Shalih as-Samman dari Abu Hurairah -radhiyallahu-anhu- dia berkata; Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca doa, ‘Allahumma ash-lih lii diinii alladzi huwa ‘ishmatu amri, wa ash-lih lii dun-yaaya alladzi fiihaa ma’aasyii, wa ash-lih lii aakhiratii allatii fiihaa ma’aadii, waj’alil hayaata ziyaadatan lii fii kulli khairin, waj’alil mauta raahatan lii min kulli syarrin’ (Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku karena ia adalah pokok penjaga urusanku, dan perbaikilah perkara duniaku karena ia adalah tempat penghidupanku, dan perbaikilah akhiratku karena ia aalah tempat kembaliku. Dan jadikanlah kehidupan yang masih tersisa ini sebagai tambahan kebaikan bagiku dalam segala bentuk kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai titik peristirahatanku dari segala keburukan) (HR. Muslim)
Periwayat hadits :
  1. Ibrahim bin Dinar; Abu Ishaq at-Tamar, al-Baghdadi. Wafat tahun 232 H. Rawi Muslim. Ibnu Hajar berkomentar tentangnya, “Tsiqah.” adz-Dzahabi mengatakan, “Tsiqah, tsabt.”
  2. Abu Qathan Amr bin al-Haitsam al-Qutha’i, al-Bashri. Shighar atba’it tabi’in, wafat sekitar tahun 200 H di Bashrah. Rawi kutubus sittah selain Bukhari, Bukhari meriwayatkan darinya di dalam al-Adab al-Mufrad. Ibnu Hajar berkata, “Shaduq.” adz-Dzahabi berkata, “Shaduq tapi terpengaruh paham Qadariyah.”
  3. Abdul Aziz bin Abdullah bin Abu Salamah, Abu Abdillah al-Faqih. Termasuk kibar atba’it tabi’in, wafat tahun 164 H di Baghdad. Rawi kutubus sittah. Ibnu Hajar mengatakan, “Tsiqah.” adz-Dzahabi mengatakan, “Dia adalah seorang imam yang diagungkan.”
  4. Qudamah bin Musa, al-Makki lalu al-Madani, imam masjid Nabawi. Termasuk shighar tabi’in, wafat tahun 153 H. Rawi Bukhari secara mu’allaq, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Ibnu Hajar berkata, “Tsiqah.”
  5. Abu Shalih as-Samman, namanya Dzakwan, bapak dari Suhail bin Abu Shalih. Tabi’in menengah, wafat tahun 101 H. Rawi kutubus sittah. Ibnu Hajar mengatakan, “Tsiqah, tsabt.” adz-Dzahabi mengatakan, “Tergolong imam yang terpercaya.”
  6. Abu Hurairah ad-Dausi al-Yamani, penghafal hadits di kalangan para shahabat. Wafat tahun 57 H. Rawi kutubus sittah. Semua biografi ini diambil dari Ruwat Tahdzibain Maktabah Syamilah
Derajat hadits :
Hadits ini adalah hadits yang shahih dan termasuk menduduki martabat shahih yang tertinggi setelah hadits-hadits yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim dan setelah hadits yang disebutkan oleh Bukhari saja di dalam Shahihnya. Dishahihkan oleh Imam Muslim, kemudian juga diikuti oleh Syaikh al-Albani dalam Takhrij al-Misykat 2483 dan Shahih al-Jami’ 1263, as-Syamilah.
Faedah hadits :
Dianjurkan untuk sering-sering membaca doa tersebut karena di dalamnya telah tercakup kebaikan yang sangat banyak, meliputi kebaikan dalam hal agama, dunia, dan juga kebaikan di akhirat.
http://abumushlih.com/doa-meminta-kebaikan.html/

0 komentar:

Poskan Komentar

top