Termasuk perkara aqidah yang wajib diimani setiap muslim adalah sbb:
22- الإيمان بما صح الدليل عليه من الغيبات كالعرش والكرسي والجنة والنار ونعيم القبر وعذابه والصراط والميزان وغيرها دون تأويل شيء من ذلك.
23- الإيمان بشفاعة النبي صلى الله عليه وسلم, وشفاعة الأنبياء والملائكة والصالحين وغيرهم يوم القيامة كما جاء تفصيله فى الأدلة الصحيحة.
24- رؤية المؤمنين لربهم يوم القيامة فى الجنة وفى المحشر حق ومن أنكرها أو أولها فهو زائغ ضال وهي لن تقع لأحد فى الدنيا
22. Beriman kepada apa yang disebutkan oleh dalil yang sahih tentang hal-hal gaib, seperti ‘Arsy, Kursi, Surga,Neraka, nikmat kubur dan azabnya, Shirat, Mizan dan lainnya tanpa mena’wil sedikit pun daripadanya.
23. Beriman kepada syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, syafaat para nabi, malaikat, orang-orang saleh, dan selain mereka pada hari kiamat sebagaimana disebutkan secara tafsil (rinci) dalam dalil-dalil yang sahih.
24. Melihatnya kaum mukmin kepada Tuhan mereka pada hari kiamat di surga dan di padang mahsyar adalah benar. Barang siapa yang mengingkarinya atau mena’wilnya, maka dia menyimpang dan tersesat, dan hal itu (melihat Allah) tidak dapat terjadi bagi seorang pun di dunia. (Mujmal Ushul Ahlissunah karya Dr. Nashir al-‘Aql)

Penjelasan:

No. 22: Arsyi artinya singgasana Allah. Ia memiliki tiang-tiang yang dipikul oleh para malaikat. Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika semua manusia sudah mati, akulah orang yang pertama kali sadar. Namun ternyata Musa telah berpegangan dengan salah satu tiang ‘Arsy. Aku tidak tahu, apakah ia sadar sebelumku atau telah cukup dengan pingsan ketika berada di bukit Thur.” (muttafaq ‘alaih)
Para malaikat yang memikul ‘Arsy adalah para malaikat yang besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:
أُذِنَ لِيْ أَنْ أُحَدِّثَ عَنْ مَلَكٍ مِنْ مَلَائِكَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ حَمَلَةِ الْعَرْشِ ، إِنَّ مَا بَيْنَ [شَحْمَةِ] أُذُنِهِ إِلىَ عَاتِقِهِ مَسِيْرَةَ سَبْعَمِائَةِ عَامٍ
Telah diizinkan kepadaku untuk menceritakan salah satu di antara malaikat Allah pemikul ‘Arsy, bahwa antara lentik telinganya dengan pundaknya sejauh perjalanan 700 tahun.” (HR. Abu Dawud dan lain-lain, Ash Shahihah: 151)
Arsyi adalah makhluk Allah yang paling besar dan paling tinggi. Ia ibarat kubah bagi alam semesta dan atapnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala bersemayam di atas ‘Arsyi-Nya (QS. Thaha: 5). ‘Arsyi Allah berada di atas air (QS. Huud: 7).
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Antara langit dunia dengan langit berikutnya jaraknya 500 tahun, antara masing-masing langit jaraknya 500 tahun, antara langit yang ketujuh dengan kursi jaraknya 500 tahun, antara kursi dengan samudra (air) jaraknya 500 tahun dan ‘arsy di atas samudra (air), sedangkan Allah di atas ‘arsy, tidak samar bagi-Nya sedikitpun dari amalmu.” (HR. Ibnu Mahdiy dari Hammad bin Salamah dari ‘Ashim dari Zirr dari Abdullah, juga diriwayatkan oleh Al Mas’uudiy dari ‘Aashim dari Abu Waa’il dari Ibnu Mas’uud. Riwayat ini isnadnya adalah hasan, diriwayatkan pula oleh Ibnu Khuzaimah, Adz Dzahabiy dan Baihaqi.)
Sedangkan kursi, maka menurut Ibnu Abbas, ia adalah tempat Allah meletakkan kaki-Nya. Tentang kursi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَاالْكُرْسِيُّ فِى الْعَرْشِ اِلَّا كَحَلْقَةٍ مِنْ حَدِيْدٍ اُلْقِيَتْ بَيْنَ ظَهْرَيْ فَلَاةٍ مِنَ اْلاَرْضِ
Kursiy dibanding ‘Arsyi tidak lain seperti gelang besi yang diletakkan di padang pasir yang luas di bumi.” (Shahih, HR. Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al ‘Arsy)
Imam ath-Thahawi berkata, “(Meskipun demikian) Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak butuh kepada ‘Arsy dan apa yang ada di bawahnya. Dia meliputi segala sesuatu dan berada di atasnya, dan tidak ada satu pun makhluk yang dapat meliput-Nya.”
Ia juga menjelaskan, “Bahwa Allah menciptakan ‘Arsy dan bersemayam di atasnya, bukanlah karena Allah membutuhkan ‘Arsy, tetapi Allah mempunyai hikmah tersendiri dalam hal itu.”
Adapun tentang surga dan neraka telah dibahas sebelumnya. Sedangkan tentang azab kubur dan nikmat kubur, cukuplah dalilnya tentang perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya untuk berlindung dari azab kubur ketika berdoa sebelum salam. Demikian juga berdasarkan hadis al-Barra’ bin ‘Azib tentang kisah fitnah kubur. Terhadap orang mukmin ada suara dari langit yang mengatakan, “Benarlah hamba-Ku, berikanlah permadani dan pakaian dari surga, dan bukakanlah pintu ke surga. Maka datanglah kepadanya angin dan wanginya, serta diluaskan kuburnya sejauh pandangan mata.” Sedangkan kepada orang kafir ada suara dari langit yang mengatakan, “Dustalah hamba-Ku, berikanlah permadani dari neraka, dan bukakanlah pintu ke neraka, lalu datanglah rasa panasnya dan angin panasnya. Kuburnya pun dipersempit hingga tulang rusuknya tidak beraturan.”(sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dll. Hadis ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)

Faedah:

Apakah azab kubur atau kenikmatannya mengena kepada ruh atau badannya?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Madzhab kaum salaf dan imamnya adalah bahwa azab kubur dan kenikmatannya dapat mengena kepada ruh mayit dan badannya, dan bahwa ruh tetap merasakan kenikmatan atau memperoleh siksaan setelah berpisah dari badan, dan bahwa terkadang bersatu dengan badan sehingga ia merasakan nikmat atau azab bersama badan.”
Sedangkan tentang shirat dan mizan sudah dibahas sebelumnya. Kita mengimani semua itu tanpa menakwilnya.
No. 23: Syafaat artinya permintaan kebaikan untuk orang lain. Syafaat ada 8 macam, di antara syafaat itu ada yang khusus bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ada pula yang tidak hanya khusus bagi Beliau, yakni yang lain pun dapat memberikan syafaat.
Pertama, syafaat ‘uzhma (maqaam mahmud), yaitu syafaat yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keputusan di antara hamba-hamba-Nya setelah mereka berdiam lama di padang mahsyar.
Kedua, syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar penghuni surga segera dimasukkan ke surga setelah mereka selesai dihisab.
Ketiga, syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk pamannya Abu Thalib agar diringankan siksanya.
Ketiga syafaat ini hanya khusus bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Keempat, syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ahli tauhid yang mesti masuk neraka agar mereka tidak memasukinya.
Kelima, syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka yang telah masuk neraka dari kalangan ahli tauhid agar dikeluarkan daripadanya.
Keenam, syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar sebagian penghuni surga ditinggikan derajatnya.
Ketujuh, syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka yang seimbang antara kebaikan dan keburukannya agar mereka masuk surga. Mereka ini menurut sebagian ulama adalah ash-habul a’raaf.
Kedelapan, syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk sebagian kaum mukmin agar mereka masuk surga tanpa dihisab dan diazab.
Kelima syafaat ini bisa dilakukan pula oleh para nabi, para malaikat, para shiddiqin, dan para syuhada.
Syafaat tidaklah terwujud kecuali dengan dua syarat:
  1. Izin dari Allah kepada pemberi syafaat, QS. Al Baqarah: 255 dan Yunus: 3.
  2. Ridha Allah kepada orang yang diberi syafaat, QS. Al Anbiyaa’: 28
Kedua syarat ini disebutkan pula di surat An Najm: 26.
Dalil bahwa selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  ada pula yang diberi izin memberi syafaat adalah hadis berikut:
فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ شَفَعَتِ الْمَلاَئِكَةُ وَشَفَعَ النَّبِيُّونَ وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُونَ وَلَمْ يَبْقَ إِلاَّ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ فَيَقْبِضُ قَبْضَةً مِنَ النَّارِ فَيُخْرِجُ مِنْهَا قَوْمًا لَمْ يَعْمَلُوا خَيْرًا قَطُّ .
Allah berfirman Azza wa Jalla, “Para malaikat memberi syafaat, para nabi memberi syafaat, dan kaum mukmin memberi syafaat dan tinggallah Allah Yang Maha Penyayang. Dia pun menggenggam sebuah genggaman dari neraka, lalu dikeluarkan daripadanya beberapa orang yang belum mengerjakan kebaikan sedikit pun.” (HR. Muslim)
No. 24: Dalil bahwa kaum mukmin dapat melihat Allah pada hari kiamat adalah firman Allah Ta’ala, “Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri.—Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (QS. Al Qiyamah: 22-23)
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwa orang-orang di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami dapat melihat Tuhan kami pada hari kiamat?” Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya.”
Adapun orang-orang kafir dihalangi dari melihat Allah (QS. Al Muthaffifin: 15).
Tidak hanya di surga, kaum mukmin juga melihat Allah di padang mahsyar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:
Apakah kalian kesulitan melihat bulan ketika malam purnama?” “Tidak,” jawab para sahabat. Rasulullah bertanya lagi: “Apakah kalian kesulitan melihat matahari ketika tidak ada mendung?” Para sahabat menjawab, “Tidak wahai Rasulullah.” Nabi bersabda: “Sesungguhnya kalian akan melihat-Nya. Ketika Allah mengumpulkan manusia, Dia berfirman, “Barang siapa yang menyembah sesuatu, maka temuilah.” Maka siapa yang menyembah matahari, ia mengikuti matahari, siapa yang menyembah bulan, ia mengikuti bulan, siapa yang menyembah thaghut, ia mengikuti thaghut, dan tersisalah dari umat ini orang penolongnya atau justru orang-orang munafiknya –Ibrahim (perawi hadis) ragu kepastian redaksinya-. Lantas Allah menemui mereka dan berkata, “Aku Tuhan kalian.” Lantas mereka menjawab, “Ini adalah tempat tinggal kami sehingga Tuhan kami mendatangi kami, jika Tuhan kami menemui kami, niscaya kami mengenalnya.” Allah kemudian menemui mereka dengan rupa yang mereka kenal, Allah lalu berfirman: “Aku Tuhan kalian.” Lantas mereka katakan, “Engkau memang Tuhan kami.” Mereka pun mengikuti-Nya. Titian (jembatan) lantas dipasang antara dua tepi jahanam, aku dan umatkulah yang pertama-tama menyeberangimnya…dst.” (HR. Bukhari)
Dalam riwayat Bukhari juga disebutkan, “Maka Allah Yang Maha Perkasa datang kepada mereka dan berkata, “Aku-lah Tuhan kalian.” Mereka berkata, “Engkau Tuhan kami.” Ketika itu, tidak ada yang berbicara selain para nabi. Allah berfirman, “Adakah kalian mengetahui tanda yang dapat mengenali-Nya?” Mereka menjawab, “Betis.” Maka Allah menyingkap betis-Nya, lalu bersujudlah setiap mukmin, dan tinggallah orang yang sujud kepada Allah karena riya’ dan sum’ah. Ia pergi agar dapat sujud namun punggungnya kembali dalam satu lipatan.” Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Ketika ia ingin sujud, maka ia terjatuh di atas tengkuknya.
Demikianlah Allah memperlihatkan kemunafikan mereka.
Oleh: Marwan bin Musa
Artikel www.Yufidia.com
Maraji’: Mujmal Ushul Ahlissunnah wal Jamaa’ah fil ‘Aqiidah (Dr. Nashir Al ‘Aql), Syarh Ath Thahaawiyyah (Imam Ath Thahaawiy), Ta’liq Mukhtashar ‘ala kitab Lum’atil I’tiqad (Syaikh Ibnu ‘Utsaimin), Syarh ‘Aqidah Wasithiyyah (Syaikh Shalih Al fauzan), Syarah ‘Aqidah Ahlussunnah (Ust. Yazid) dll.

0 komentar:

Poskan Komentar

top