Di langit bulan bertengger di puncak purnama, benderang tanpa belaian awan. Azan Subuh bergema, saat Media Center Haji (MCH) Madinah mulai memasuki kawasan berhawa sejuk. Tim rehat sejenak, dan salat di sebuah mesjid yang tak jauh dari pos check point yang dijaga asykar (tentara) dan polisi.

Taif, menjadi tujuan reportase setelah melewati setengah jam perjalanan. Sebuah kota yang amat populer di Arab Saudi, sebagai kawasan perkebunan dan pariwisata. Di punggung gunung, menghampar berbagai fasilitas turisme, lahan-lahan pertanian, sayur, buah-buahan, dan aneka kembang, yang berbaris bagai bentangan permadani.
Menurut pantauan, ada sekitar empat check point yang harus dilewati untuk menembus jalur Mekah-Taif. "Alhamdulillah, dari empat pos itu, tak satu pun polisi yang menghentikan mobil MCH. Biasanya pemeriksaan dokumen sangat ketat, mungkin semua tergantung amal," kata Kepala Seksi MCH Madinah Syaiful Huda Jepara, berseloroh, saat melewati pos terakhir. Padahal, lampu dan sirene mobil aparat yang siaga itu, menyala dan meraung-raung.
"Kurma, semangka, anggur, stroberi, delima, anggrek, mawar, ambar, melati, misik, dan madu, ada di sini," ujar Bagus Kurniawan, wartawan senior Detik.com, mengomentari lapak warga yang berdagang di pinggir jalan. Beragam bunga-bungaan itu, digunakan sebagai bahan minyak wangi yang banyak diekspor ke luar negeri.
Inilah yang membuat Taif menjadi salah satu magnet Arab Saudi. Tak pelak, bila musim panas tiba, para pejabat kerajaan di Riyadh, memindahkan 'kantor' mereka ke kota ini, sekaligus mengajak serta sanak keluarganya.
Seperti dikutip situs Al-Hada, Jumat (2/11), Taif berada di ketinggian 6.000 kaki atau sekitar 1.828 meter, sehingga berhawa dingin. Saat musim panas pun, suhu di Taif hanya berkisar sekitar 26-32 derajat Celcius. Ini berbeda dengan daerah-daerah lain di negara kaya minyak tersebut, yang bersuhu rata-rata 40- 45 derajat Celcius.
Pada musim dingin, Taif sangat dingin dan berangin, dengan suhu mencapai 4 derajat Celcius. Wisatawan yang datang pun dianjurkan mengenakan pakaian tebal agar tak sakit dan kedinginan.
Lukmanul Hakim, warga negara Indonesia (WNI) yang sudah sepuluh tahun tinggal di Mekah, menjelaskan, Taif selalu ramai dikunjungi penduduk Saudi yang belibur menghabiskan akhir pekan. "Waktu paling ramai adalah saat musim panas. Mereka akan datang bersama keluarga atau kerabat untuk bersantai-santai dan menikmati udara sejuk," ujarnya.
Keindahan yang Menantang

Sebelum menjadi negara, Arab Saudi terdiri atas dua wilayah, yakni Hijaz dan Najed (Riyadh serta daerah-daerah Teluk Persia dan sekitarnya). Nah, Taif merupakan bagian dari Hijaz, bersama Jedah, Mekah, Madinah, dan lain-lain.
Untuk mencapai Taif, tutur pria asli Madura ini, bisa dengan taksi, mobil sewaan atau angkutan umum non-bus lainnya. "Hanya saja, supir harus selalu diingatkan agar berhati-hati. Karena, jalan menuju dataran tinggi ini berliku-kiku dan curam, terutama pada malam hari. Inilah keindahan yang menantang," ucapnya.
Lukman menyebutkan, beberapa waktu lalu, jalan menuju Taif sempat menjadi jalur maut yang menelan banyak korban. "Saat itu belum ada pembatas jalan, sehingga beberapa mobil pribadi terpeleset dan jatuh ke jurang. Sekarang Pemerintah Arab Saudi melalui perusahaan Bin Ladin Group telah membangun pengaman beton di sepanjang tanjakan," ujarnya.
Menurut Lukman, kendaraan harus melewati sekitar 93 tikungan tajam. Meski trek yang dilalui sulit, turis bisa menikmati pemandangan yang terhampar sepanjang perjalanan.
"Taif tak hanya menjadi lokasi liburan, tetapi juga tempat untuk berkebun, bertani, dan berkemah. Ada banyak lahan di kawasan ini. Pejabat dan anak-anak muda penggemar motor gede seperti Harley Davidson, juga banyak berkunjung ke sini," katanya.
Selain pedagang sayur dan buah-buahan, terutama delima dan anggur yang menjadi komoditas andalan, jelas Lukman, di Taif juga banyak toko elektronik, emas, dan karpet dengan harga standar. "Namun, jika ingin mendapat harga yang murah, keluarkan seluruh kemampuan menawar Anda," ujarnya.
Liburan di Taif, menurut Lukman, pelancong tak hanya disuguhkan pemandangan indah khas pegunungan. "Para turis juga bisa menikmati tempat-tempat wisata buatan, seperti Taman Al-Rudaf, Al-Shafa, dan Cagar Alam," ucapnya.
Taman Al-Rudaf berada di selatan Taif. Ini adalah wilayah yang kaya batu granit yang dilengkapi kebun binatang mini. "Kalau Al-Shafa, adalah sebuah desa yang menjadi sentral produk pertanian Arab Saudi. Ada banyak lahan perkebunan dan pertanian. Di sini, para turisnya juga bisa menikmati asyiknya menunggang unta," katanya.
Bagi, pecinta lingkungan, Cagar Alam adalah lokasi yang cocok. Pepohonan rimbun memenuhi tempat ini yang semakin mengundang hawa dingin. "Cagar Alam juga menjadi tempat terbaik untuk menyaksikan matahari terbenam (sunset) di Taif," ujarnya.
Situs Al-Hada menyebutkan, beragam keunggulan Taif kerap dijadikan sejumlah penerbangan di Jazirah Arab sebagai alat promosi. Karena itu, The Garden of Hijaz, menjadi julukan yang layak disandang kota yang penuh pesona ini.
Tak hanya menyuguhkan keindahan alam, Kota Taif juga menjadi saksi sejarah (sirah) perjuangan Nabi Muhammad SAW. Akhir pekan lalu, Suara Karya yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Madinah, Arab Saudi, mendapat kesempatan menapak jejak jihad Rasul di kawasan berhawa sejuk itu.
Selain menjadi wilayah perkebunan dan wisata, Taif juga menjadi lokasi miqat (tempat berihram jemaah haji dan umrah), yaitu kawasan Wadi Sair Kabir. Di pusat kota, terdapat Mesjid Abbas, peninggalan Abdullah bin Abbas RA yang ahli tafsir, dan perawi hadis. Juga Mesjid Ku'un di Syari' (Jalan) Masnah, di sinilah Nabi SAW pernah dizalimi oleh kaum musyrik setempat.
Bangunan itu hanya berupa gedung batu berbentuk kotak, berukuran sekitar 4 x 4 meter persegi dengan tinggi kurang dua meter. Ada dua versi sejarah tentang mesjid kecil yang kini dipagari kawat dan pembatas bertuliskan peringatan kepada umat Muslim agar tak meminta berkah di tempat itu. Pengumuman tersebut dipajang dalam berbagai bahasa.
Pertama, adalah yang banyak dipercaya masyarakat Muslim asal India. Menurut mereka, lokasi mesjid merupakan salah satu tempat pertemuan Nabi Adam dan Hawa. "Banyak orang-orang yang datang ke sini, terutama dari Asia Selatan, untuk berdoa dan meminta berkah.
Karena itu, Pemerintah Arab Saudi kemudian melarang, karena khawatir menjadi kegiatan syirik (menyekutukan Allah SWT-Red)," kata Lukmanul Hakim, warga negara Indonesia yang sudah sepuluh tahun bermukim di Mekah.
Tahun Dukacita

Taif juga menyisakan jejak kejayaan Kekaisaran Turki Utsmani (Ottoman Emperor), seperti 'mesjid tak bernama' yang berarsitektur Istanbul. Juga ada bekas kebun anggur tempat Nabi beristirahat saat dikejar-kejar dan dilempari batu oleh kaum kafir.
Areal pertanian yang kini menjadi tempat percetakan batu bata itu, dulu seorang pemuda Nasrani bernama Addas pernah memberikan minum untuk Rasul. Addas selanjutnya menjadi orang pertama di bagian barat Taif yang memeluk Islam.
Selain magnet natural, aspek sejarah menjadi pesona lain kota yang sangat populer di Arab Saudi itu. Menurut Ensiklopedi Haji dan Umrah, pada awal dakwah, atau tiga tahun sebelum hijrah, Rasul bergerak ke Taif untuk mengajak Kabilah Tsaqif ke jalan Allah.
Ekspedisi ini dilakukan tak lama setelah istri Nabi, Siti Khadijah, wafat pada 619 M, dan pelindung utama yang juga paman Rasul, Abu Thalib, meninggal dunia pada 620 M.
Sehingga, masa itu disebut Tahun Duka Cita. Meninggalnya Abu Thalib dan Siti Khadijah yang sangat disegani kaum kafir Quraisy, membuat mereka semakin berani melawan dan memerangi Nabi.
"Alhamudulillah, saat tiba di mesjid bersejarah itu, kita sempat melihat koleksi buku di perpustakaan. Kemudian, berziarah ke makam Abdullah bin Abbas RA, yang berada di samping mesjid coklat dengan arsitektur mirip benteng itu. Tamasya religi ini mampu menghapus lelah setelah menunaikan ibadah haji," ujar Gunarso, petugas asal Semarang, yang ikut dalam rombongan. (Yudhiarma) http://www.suarakarya-online.com

0 komentar:

Poskan Komentar

top