السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ [وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ] أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ
“Semoga kesejahteraan untukmu, wahai penghuni kubur dari orang-orang Mukmin dan Muslim. Dan sesungguhnya kami, insya Allah, akan menyusul kalian (semoga Allah merahmati orang yang rnendahului di antara kita dan mereka yang menyusul kemudian). Aku memohon ke-pada Allah untuk kann dan kalian semua keselamatan.”[1]
Shahabat   yang    meriwayatkan    hadits   ini   adalah Buraidah bin Al-HushaibRadhiyallahu Anhu.
Ungkapan أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ ‘aku memohon kepada Allah untuk kami dan kalian semua keselamatan’. Permohonan keselamatan untuk orang-orang yang masih hidup adalah jelas. Sedangkan permintaan hal yang sama untuk orang-orang yang telah meninggal dunia, maka yang dimaksud dengan permintaan seperti itu adalah sudi kiranya Allah mencegah adzab atas mereka dan meringankan hisab mereka. Termasuk bab yang demikian adalah ucapan AisyahRadhiyallahu Anha bahwa dia berkata,
كَيْفَ أَقُولُ لَهُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ، يَعْنِى فِي زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ، قَالَ: قُولِي: السَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَيَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ
“Bagaimana seharusnya kukatakan, ya Rasulullah yakni dalam ziarah kubur. Beliau menjawab, ‘Ucapkan:
السَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَيَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ
‘Semoga kesejahteraan atas kalian semua, wahai ahli kubur dari kaum Mukminin dan kaum Muslimin. Dan semoga Allah mengasihi para pendahulu dan yang terkemudian dari kami dan kalian semua. Aku memohon kepada Allah untuk kami dan kalian semua keselamatan. Sungguh kami dengan izin Allah akan berjumpa dengan kalian’.”
Sangat disukai jika orang yang berziarah itu memperbanyak do’a untuk ahli kubur, semua orang yang telah meninggal dunia dari kaum Muslimin seluruhnya. Juga sangat disukai berjalan di kuburan dengan tanpa alas kaki. Hai itu karena apa yang datang dari Basyir bin Ma’badRadhiyallahu Anhu bahwa dia berkata, “Ketika aku berjalan mendampingi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tiba-tiba beüau melihat seseorang yang berjalan di atas kubur dengan beralaskan sepasang sandal. Maka, beliau bersabda,
يَا صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ وَيْحَكَ أَلْقِ سِبْتِيَّتَيْكَ
“Wahai   pemakai  kedua   sandal,  lepaskan  kedua  sandalmu.”[2]
سِّبْتِيَّة adalah sandal yang tiada bulu di atasnya. Kata itu dengan huruf siin tanpa titik berkasrah dan huruf baa ber sukun.[]
Disalin dari Syarah Do’a & Dzikir Hishnul Muslim oleh Madji bin Abdul Wahhab Ahmad dengan Korektor Syaikh Dr. Sa’id bin Ali Wahf al-Qathtani, hal. 414-416.  Terbitan Darul Falah, Jakarta.


http://doandzikir.wordpress.com/2012/11/28/syarah-doa-ziarah-kubur/#more-3819
[1] Muslim, (2/671), no. 975; Ibnu Majah dengan lafazh darinya (1/494). no. 1547; dari BuraidahRadhiyallahu Anhu. Apa yang ada di antara dua kurung adalah dari hadits Aisyah Radhiyallahu Anha menurut Muslim, (2/671), no. 974.
[2]
 Abu Dawud, no. 3230; An-Nasa’i, (4/96); dan Ibnu Majah, no. 1568 dan dishahihkan Al-Albani. Lihat Al-Irwa’, no. 760.  

0 komentar:

Poskan Komentar

top