REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Saat memasuki toko komputer miliknya, Ahmed Zaqout (32 tahun) menyaksikan barang dagangannya rusak dan pecah. Kondisi itu disaksikannya sehari pascagencatan senjata yang berlaku di Jalur Gaza, Kamis (22/11). Ia dapat keluar dari rumahnya dan memeriksa toko. Delapan hari sebelumnya, ia berlindung dari gencarnya serangan udara Israel. 

Pada Rabu (21/11), Israel dan kelompok pejuang Palestina di Jalur Gaza mencapai kesepakatan gencatan senjata yang diperantarai oleh Mesir setelah konflik tersebut merenggut 164 nyawa warga Jalur Gaza. "Kerugian saya di sini tak ada artinya dengan mereka yang telah kehilangan keluarga mereka," kata Zaqout kepada Xinhua, Jumat (23/11). 

Gencatan senjata mengembalikan kehidupan di Jalur Gaza. Toko dan restoran buka dan semua jalan, yang pernah dipenuhi ambulans serta kendaraan pemadam, sekarang dipenuhi orang yang merayakan gencatan senjata tersebut. Serangan udara Israel menewaskan 164 orang Palestina, termasuk 43 anak kecil, kata Kementerian Kesehatan, yang dikelola HAMAS. Di pihak Israel, enam orang tewas akibat roket yang ditembakkan dari Jalur Gaza.

Tepat di seberang Jalan Al-Mukhtar, tempat toko Zaqout berada, satu kompleks tempat kantor sipil pemerintah Hamas musnah dihantam enam bom dari pesawat F16 Israel. Ahmed Tal'at (40 tahun) memandangi reruntuhan dan berkata, "Itu adalah tempat sipil. Kami biasa pergi ke sana untuk mengurus tanda pengenal dan sertifikat kelahiran."

Ia percaya Hamas akan bisa melanjutkan kegiatan kantornya meskipun kebanyakan tempat itu telah musnah. Di Kota Gaza, orang sibuk membersihkan jalan yang dipenuhi puing dan memperbaiki kabel yang putus selama agresi militer Israel.

Berakhirnya operasi militer Israel juga menghadirkan pemandangan yang telah hilang selama bertahun-tahun. Untuk pertama kali sejak Hamas memangku jabatan pada 2007, pendukung gerakan saingannya, Fatah, yang dipimpin oleh Presiden Pemerintah Otonomi Nasional Palestina Mahmoud Abbas, turun ke jalan untuk merayakan gencatan senjata.

Pendukung kedua kelompok yang bersaing berkumpul di lapangan Dewan Legislatif Palestina, tempat bendera kuning Fatah --yang telah dilarang dipasang oleh HAMAS-- bekibar di samping bendera hijau Hamas. "Kami mesti bersatu di satu tempat perlindungan dan seorang pemimpin," kata Khalil Al-Hayya dari Hamas. 

Sementara itu Nabil Shaath, anggota Fatah, berkata, "Kami mesti keluar dari halaman ini ke halaman persatuan." Namun, harapan bagi persatuan tetap tipis. Pada sore hari, juru bicara Hamas membantah laporan pihaknya mendukung upaya Abbas untuk meningkatkan status Palestina di PBB.
http://www.republika.co.id

0 komentar:

Poskan Komentar

top