“Jembatan jamarat sekarang tidak seperti dulu. Beda,” ujar salah satu pimpinan rombongan jamaah calon haji dari Tasikmalaya, Jawa Barat, ini. “Sekarang lebih bagus, lebih aman, ada pagar pembatasnya, tidak saling tabrakan seperti dulu. Dulu semrawut,” cerita Eman yang pernah berhaji di masa lalu.
Setelah menyaksikan lokasi jembatan jamarat, Eman yang pernah menetap 11 tahun di Saudi itu menarik kesimpulan bahwa prosesi lempar jumroh akan berlangsung, “Insya Allah aman.”
Eman layak kagum pada jembatan jamarat itu. Jembatan untuk pejalan kaki itu luas dan bertingkat lima, selesai dibangun pada 2009 lalu sebagai pembangunan fase pertama. Pada fase kedua pembangunan di masa depan, jembatan itu akan dibangun menjadi 9 tingkat dengan kapasitas 9 juta jamaah.
Jembatan Jamarat bagi pejalan kaki yang terletak di Mina tersebut, tidak hanya tempat yang memiliki makna keagamaan signifikan, tetapi juga memainkan peran penting dalam memfasilitasi pergerakan jutaan jamaah melakukan ritual penting haji.
Jembatan Jamarat dibangun mengitari tiga pilar, yaitu ula, wustho dan aqobah. Ketiga pilar itu menandai tempat di mana — menurut ajaran Islam — Nabi Ibrahim digoda oleh setan. Nabi Ibrahim lalu melempari setan dengan bebatuan untuk melawan godaan setan yang terkutuk.
Mengikuti jejak Nabi Ibrahim, jamaah haji diminta untuk juga melemparkan batu di tiga tempat tersebut untuk mengingatkan diri dari godaan setan dalam kehidupan sehari-hari.
Dikutip dari Islamcity.com, mengelola jutaan orang di jembatan jamarat selalu menjadi tantangan bagi pemerintah Saudi. Pada tahun 2006 terjadi tragedi di jamarat, 364 orang tewas saat berdesak-desakan di pintu masuk jembatan.
Setelah musibah itu, pemerintah Saudi membuldozer jembatan lama dan meluncurkan proyek senilai USD 1,2 miliar untuk memodernisasi jembatan. Jembatan yang semula 2 tingkat, disulap 5 tingkat, yang mulai dipakai pada musim haji 2009.
Jembatan Jamarat lima tingkat didesain untuk mengakomodasi lima juta jamaah. Jembatan memiliki 10 pintu masuk dan 12 pintu keluar untuk memungkinkan pergerakan 300.000 jamaah per jam.
Jembatan juga dilengkapi teknologi pemantau guna membantu pihak berwenang mengintervensi bila terjadi insiden desak-desakan. Untuk meningkatkan keselamatan, jamaah tidak diizinkan membawa tas besar selama menjalankan ritual.
Jembatan juga dilengkapi dengan penyiram air dan AC yang dapat mengurangi suhu hingga 29 derajat Celcius. Hawa pun terasa adem. Sedangkan atap lantai lima ditutupi dengan tenda-tenda khusus selama musim haji.
Jembatan Jamarat yang megah itu memungkinkan jamaah untuk melemparkan batu kerikil dari lima tingkat jembatan ke tiga pilar ula, wustho dan aqobah.
Lantai pertama dan kedua dialokasikan untuk jamaah yang datang dari timur Mina; lantai ketiga diperuntukkan bagi mereka yang datang dari Makkah, Al-Adl dan Al-Sheshah, dan lantai keempat untuk jamaah yang datang dari utara dan juga dari Al-Muasim, timur dan barat Shebs. Lantai lima untuk mereka yang berasal dari Al Aziziyah dan kamp yang terletak di sebelah selatan Mina.
Panjang Jembatan Jamarat 950 meter dan lebar 80 meter. Masing-masing lantai jembatan bertinggi 12 meter.
Proyek jembatan jamarat ini dirancang untuk bisa diperluas hingga 12 tingkat di masa depan ketika kebutuhan muncul.
Jembatan jamarat tersebut juga mengatur tempat toko makanan, tukang cukur, dan toilet, pelayanan medis dan darurat, pasukan pertahanan sipil dan keamanan publik.
Jembatan ini juga meliputi jalan bawah tanah untuk memberi ruang yang luas untuk pejalan kaki, selain 6 pintu keluar untuk evakuasi darurat
melalui enam menara darurat menuju lantai dasar dan terowongan serta ke helipad.
Tempat lempar jumroh juga didesain khusus berbentuk oval dengan pilar menjulang tinggi, yang akan mengurangi kemacetan jamaah.
Dengan skenario konstruksi semacam itu, wajar bila Eman Suleman yakin prosesi lempar jumroh — melempar masing-masing 7 kerikil pada 3 pilar selama 3 hari — akan berlangsung,”Insya Allah aman.”

0 komentar:

Poskan Komentar

top