Kamis, 4 Oktober 2012
Daerah Kerja (Daker) Jedah, sudah mempersiapkan rencana alternatif untuk mengantisipasi kepadatan jemaah yang mendarat pada gelombang kedua di Bandara King Abdul Azis (KAA) Jedah, Arab Saudi.

Sekretaris Daker Jedah Nur Alya Fitra, di Jedah, Rabu (3/10), mengatakan, pada gelombang kedua atau mulai 6 Oktober, jumlah jemaah yang mendarat di terminal haji King Abdul Azis akan sangat padat. "Jika pada gelombang pertama hanya sekitar 10 kloter yang mendarat di Jedah, maka pada gelombang kedua nanti sekitar 17-19 kloter yang akan mendarat," kata Fitra.
Jika terjadi kelambatan, maka dalam satu hari bisa 21 kloter yang mendarat. Dia menggambarkan, jika kini hanya satu pintu terminal haji yang digunakan, maka pada gelombang kedua nanti, akan mencapai tiga pintu. "Mungkin dalam satu pintu bisa dua kloter yang keluar," kata Fitra.
Ia juga mengingatkan, pada gelombang kedua nanti, yang datang melalui Jedah dari seluruh penjuru dunia. Saat ini hanya jemaah haji Indonesia yang mendarat, dan satu dua kloter dari Malaysia, Thailand dan negara Balkan.
Indonesia adalah negara yang memiliki anggota jemaah haji terbesar, yakni 211.000 pada tahun ini, sehingga harus mengatur agar semua bisa berangkat dengan nyaman ke Tanah Suci.
Pemerintah RI mengatur keberangkatan dalam dua gelombang. Pertama, jamaah haji ditempatkan di Madinah untuk mengikuti shalat fardu arbain selama delapan hari. Dan gelombang kedua, ke Mekah untuk umrah, lalu wukuf kemudian ke Madinah.
Jemaah haji dari negara lain, tidak mengenal gelombang pertama. Sebagian besar mereka datang menjelang wukuf, sehingga King Abdul Azis dan terminal hajinya akan menjadi bandara tersibuk di dunia.
Daker Jedah merasa perlu membuat rencana alternatif jika prosedur standar pelayanan di bandara tidak berjalan semestinya. Pada gelombang kedua nanti, jamaah akan mengenakan kain ihram di bandara sebelum diberangkatkan ke Mekah.
"Dampaknya dibutuhkan waktu untuk mempersiapkan jamaah sesegera mungkin agar tidak terjadi penumpukan, koper jamaah bisa segera disiapkan sesuai keloter dan bus tidak menunggu lama," kata Fitra.
Teknis pelaksanaan rencana alternatif itu akan dibahas dengan pimpinan unit kerja dalan satu-dua hari ini agar pelaksanaannya dapat berjalan lancar dan tidak kagok di lapangan. Hingga Selasa, pukul 20.00 waktu Arab Saudi (WAS), sudah 111 kloter dengan total 41.084 anggota jamaah yang mendarat di Jedah, dan terakhir adalah kloter 37 dari Solo.
Sementara itu, Toto Amat Rejo (64) asal Sukoharjo, Solo, yang menderita sakit bawaan gagal ginjal akhirnya meninggal di Rumah Sakit King Fahh Madinah. "Toto meninggal pada tanggal 1 Oktober pukul 04.00 waktu Saudi," kata Kasie Pelayanan Kesehatan Jedah, di Jedah, kemarin.
Toto sempat dirawat di RS King Fadh Jeddah lalu kondisinya dinilai membaik dan sudah mendapat surat rekomendasi untuk diberangkatkan ke Madinah. Toto adalah penumpang kloter pertama Solo, dengan pesawat Garuda GA-6001.
Kasi Pelayanan Kesehatan Ananto Prasetya, di Jedah, mengatakan kemungkinan Toto mengalami dehidrasi dan demam selama dalam delapan jam perjalanan. Toto dibawa dari Jedah ke Madinah menggunakan ambulance dengan didampingi dokter Asdar Masniari Lubis. Dia adalah anggota jemaah kesembilan yang meninggal dunia. (Yudhiarma)
http://www.suarakarya-online.com

0 komentar:

Poskan Komentar

top