Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا

“Agar Dia (Allah) menguji siapakah diantara kamu yang lebih baik amalnya”. (Qs. Huud : 7)

Disini, Allah Ta’ala tidak menyebutkan, “yang lebih banyak amalnya”. Tetapi Allah menyebut, “yang lebih baik amalnya”. Dan tidaklah amal itu didasari dengan ketulusan karena Allah ‘Azza wa Jalla (ikhlas) dan sesuai syari’at Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Jika ada salah satu syarat dari dua syarat diatas yang tidak terpenuhi, maka suatu amal akan sia-sia dan tidak memberikan manfaat. (Tafsir Ibnu katsir).

Faedah dari ayat dan tafsir diatas adalah:

1. Diterimanya amal ibadah harus memenuhi dua syarat, ikhlas dan sesuai dengan petunjuk/sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

2. Ibadah tidak cukup dengan niat (prasangka) baik saja  yakni dibangun berdasarkan dalil. Hukum asal ibadah terlarang/haram sebelum adanya dalil yang memerintahkan. Contoh mudahnya, seseorang yang melaksanakan shalat subuh 4 raka’at. Maka ini amalannya tidak diterima dan menjadi malapetaka baginya, karena ia telah membuat syari’at baru. Padahal kita ketahui bahwa shalat itu adalah amalan yang baik dan disyari’atkan. Maka setiap muslim harus memperhatikan hal ini dalam menjalankan suatu ibadah.

3. Larangan berbuat bid’ah dalam Agama.

4. Allah menciptakan langit dan bumi agar dimanfaatkan oleh hamba-hamba-Nya yang mereka diciptakan hanyalah untuk beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Firman Allah Ta’ala:
“Dan Aku (Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah/beribadah kepada-Ku”. (Qs.Adz-Dzariyat:56).

“Dan orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembah- nya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba- hamba-Ku.”(Qs. Az Zumar:17).

Dalam ayat yang lain Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (Qs. An Nahl:36).

5. Allah tidak menciptakan langit dan bumi dengan sia-sia. Yang demikian seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang diantara keduanya secara sia-sia”. (Qs. Shaad:27).

Dalam ayat yang lain Allah berfirman:
"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Al Mu'minun:115).

6. Larangan beribadah/beramal untuk tujuan duniawi. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud:15-16)

7. Kehidupan dunia adalah ujian, Kaya dan miskin hakikatnya adalah ujian.
Allah Ta’ala berfirman:
“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Qs.Al Hadiid:20).

“Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya)." (Qs. An Naml:40)

Dan faedah-faedah lainnya yang belum kami ketahui. Wallahu a’lam

0 komentar:

Poskan Komentar

top