Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Demi waktu. Sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal salih, serta saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati untuk menetapi kesabaran.” (QS. al-’Ashr: 1-3)
Surat yang agung ini mengandung mutiara hikmah:
  1. Waktu merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi umat manusia, bahkan waktu itu termasuk nikmat paling agung yang Allah karuniakan kepada mereka (lihat Syarh Kitab Tsalatsat al-Ushul Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh, hal. 6)
  2. Dengan menyempurnakan iman, amal salih, dakwah, dan sabar maka seorang hamba akan selamat dari kerugian dan berhasil meraih keberuntungan yang sangat besar (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman Syaikh as-Sa’di [2/1303])
  3. Wajib bagi kita untuk mempelajari empat perkara, yaitu: ilmu, amal, dakwah, dan sabar. Adapun ilmu yang paling pokok untuk dimengerti adalah: mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya dan mengenal agama Islam dengan dalil-dalilnya (lihat Majmu’ah at-Tauhid, hal. 17)
  4. Orang yang selamat dari kerugian di dunia maupun di akherat adalah orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir (lihat Tafsir Juz ‘AmmaSyaikh Ibnu Utsaimin, hal. 230-231).
  5. Orang yang selamat dari kerugian di dunia maupun di akherat adalah orang-orang yang beramal salih. Sedangkan amalan tidak dikatakan sebagai amal salih kecuali apabila terpenuhi padanya dua buah syarat: ikhlas karena Allah dan mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau seandainya amalannya mengikuti tuntunan namun tidak ikhlas maka tidak diterima. Demikian juga kalau ikhlas tapi tidak mengikuti tuntunan juga tidak diterima (lihat Tafsir Juz ‘Amma, hal. 232-233).
  6. Benarnya akidah menentukan diterima atau tidaknya amalan (lihat Abraz al-Fawa’id min al-Arba’ al-Qawa’id Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali, hal. 27). Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata, “Akidah yang benar merupakan pondasi tegaknya agama dan syarat sah diterimanya amalan. Hal itu sebagaimana yang difirmankan oleh Allah (yang artinya), “Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. al-Kahfi: 110). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu: Seandainya kamu berbuat syirik niscaya akan lenyap seluruh amalmu, dan kamu pasti termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. az-Zumar: 65). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Sembahlah Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya. Ingatlah, untuk Allah agama/ketaatn yang tulus/murni itu.” (QS. az-Zumar: 2-3). Maka ayat-ayat yang mulia ini serta ayat-ayat lain yang semakna -dan itu banyak jumlahnya- menunjukkan bahwa amalan tidak akan diterima kecuali apabila bersih dari syirik. Oleh sebab itulah maka fokus perhatian para rasul -semoga salawat dan keselamatan dicurahkan Allah kepada mereka- menjadikan perbaikan akidah sebagai prioritas utama dakwahnya…” (at-Tauhid li ash-Shaff al-Awwal al-’Aali, hal. 9-10)
  7. Iman itu mencakup ucapan, amalan, dan keyakinan. Itu artinya amal merupakan bagian dari iman. Di dalam surat ini Allah mengiringkan amal setelah iman demi menunjukkan betapa penting dan mulianya amalan (lihat Syarh Kitab Tsalatsat al-Ushul, hal. 7)
  8. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang membuahkan amalan. Kalau seorang hamba memiliki ilmu namun tidak mengamalkannya maka dia telah mengikuti jalannya orang-orang yang dimurkai -al-maghdhubi ‘alaihim-. Adapun apabila dia beramal namun tanpa landasan ilmu maka dia telah mengikuti jalannya orang-orang yang sesat -adh-dhaallin-. Apabila ilmu dan amal itu berjalan beriringan pada diri seorang hamba maka dia telah berjalan di atas jalannya orang-orang yang diberi karunia oleh Allah; yaitu jalannya para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih (lihat Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul, hal. 21)
  9. Dakwah -mengajak- kepada kebenaran merupakan bagian dari beramal dengan ilmu yang dimiliki. Dan orang yang paling mulia adalah orang yang sangat memperhatikan urusan dakwah -yaitu mengajak- orang untuk berilmu dan beramal. Kemuliaan itu mereka dapatkan karena mereka telah mewarisi tugas para rasul yaitu mendakwahkan ilmu dan amal yang dengan sebab dakwah mereka itulah Allah berkenan mencurahkan petunjuk kepada hamba-hamba-Nya (lihat Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul, hal. 22)
  10. Orang yang selamat dari kerugian di dunia maupun di akherat adalah orang-orang yang saling menasehati dalam kebenaran. Sedangkan maksud dari saling menasehati dalam kebenaran itu adalah saling menasehati untuk mewujudkan iman dan amal shalih. Artinya mereka satu sama lain saling mengingatkan dan memotivasi untuk mengamalkannya (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman [2/1303])
  11. Setiap muslim maupun muslimah wajib berdakwah mengajak manusia kepada ajaran agama Allah ini sesuai dengan kemampuan dan bekal ilmu yang dia miliki (lihat Syarh Tsalatsat al-Ushul Syaikh Ibnu Baz, hal. 4)
  12. Untuk berdakwah mengajak kepada kebenaran harus dibekali dengan ilmu. Karena seorang tidak bisa mengajak kepada kebenaran kecuali setelah mengenal kebenaran itu terlebih dulu (lihat Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul, hal. 14-15, lihat juga QS. Yusuf ayat 108).
  13. Kebenaran paling utama dan paling wajib didakwahkan terlebih dulu kepada manusia adalah ajakan untuk bertauhid. Yang hal itu mencakup tauhid dalam hal rububiyah, uluhiyah, maupun asma’ wa shifat-Nya (lihat Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul, hal. 15). Tauhid rububiyah yaitu meyakini Allah sebagai satu-satunya pencipta, pengatur dan penguasa alam ini. Tauhid uluhiyah yaitu mengesakan Allah dalam hal ibadah. Tauhid asma wa shifat yaitu meyakini nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagaimana disebutkan dalam al-Kitab dan as-Sunnah tanpa menolak dan tanpa menyerupakan dengan makhluk-Nya.
  14. Sabar merupakan salah satu pilar tegaknya dakwah. Karena seorang da’i pasti akan menghadapi manusia dengan berbagai corak pemahaman dan kecondongan, yang mereka itu berasal dari beraneka ragam tingkatan masyarakat. Ada di antara mereka yang dengan mudah menerima dakwahnya, dan tidak sedikit pula yang berpaling dan menolaknya, atau bahkan kemudian menyakiti dirinya (lihat Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul, hal. 23)
  15. Keselamatan dan keberuntungan hidup ini hanya akan diperoleh dengan kesabaran dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, kesabaran dalam menahan diri agar tidak terjerumus dalam maksiat/kedurhakaan kepada Allah, dan juga kesabaran dalam menyikapi takdir musibah yang terasa menyakitkan (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman[2/1303])
  16. Sabar yang dipuji adalah yang dilandasi dengan keikhlasan, bukan karena mencari sanjungan atau kedudukan di mata orang. Allah ta’ala berfirman (yang artinya),“Orang-orang yang bersabar karena mengharapkan wajah Rabb mereka.” (QS. ar-Ra’d: 22) (lihat Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul, hal. 18)
  17. Salah satu bentuk kesabaran yang akan mendatangkan keselamatan bagi umat adalah bersabar dalam menghadapi pemimpin yang zalim. Dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berpesan, “Tunaikanlah hak-hak mereka -pemerintah- dan mintalah kepada Allah hak-hak kalian.” (HR. Bukhari dan Muslim). Bahkan perkara ini, yaitu bersatu di bawah naungan pemerintah, tidak memerangi para pemimpin -yang zalim tersebut-, dan tidak mengobarkan peperangan dalam kondisi kacau merupakan salah satu pokok ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sebagaimana yang ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala (lihat al-Amru bil Ma’ruf wa an-Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 32) Sumber:  http://abumushlih.com

0 komentar:

Poskan Komentar

top