Maher al-Muaiqly - Surat Al-Anfal
Powered by mp3skull.com

Allah Ta’ala berfirman,



“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan,[24]. Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya,[25]. Dan ingatlah (hai para muhajirin), ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Medinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolonganNya dan diberi-Nya kamu rezki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.[26]”

Makna Global Ayat

Ini adalah panggilan kemuliaan ilahi ke-tiga (panggilan pertama pada ayat 15, panggilan ke-dua pada ayat 20) kepada kaum Mukmin. Pada kesempatan ini, Rabb Ta’ala berkenan memanggil mereka dengan panggilan-Nya untuk memuliakan mereka dengan perintah atau larangan-Nya kepada mereka. Hal ini, sebagai bentuk pendidikan sekaligus persiapan bagi kebahagiaan dan kemuliaan mereka di dunia dan akhirat.

Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu” ; ini semakna dengan panggilan pertama (pada ayat 20), “Ta’atlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Sedangkan firman-Nya, “Kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu” ; memberikan kesan bahwa perintah-perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya adalah sama seperti larangan-larangan-Nya, tidak luput dari suatu yang memberi kehidupan kepada kaum Mukminin* atau menambah kehidupan mereka atau menjaganya untuk mereka. Oleh karena itu, Allah dan Rasul-Nya wajib dita’ati semaksimal mungkin dalam berbuat ta’at kepada keduanya.

Firman-Nya, “Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya” ; adalah peringatan besar kepada kaum Mukminin bahwa bilamana mereka diberi kesempatan untuk berbuat baik, maka hendaknya menggunakannya sebelum kesempatan itu luput, apalagi bila ia merupakan dakwah dari Allah dan Rasul-Nya, sebab Allah Maha Mampu untuk membatasi antara manusia dan apa yang diinginkannya, antara seseorang dan hatinya** dengan membolak-balikkan hati dan mengarahkannya ke arah yang lain sehingga ia tidak menyukai kebaikan dan suka kepada keburukan.

Dan firman-Nya, “Dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan” ; artinya, orang yang mengetahui bahwa ia akan dikumpulkan kepada Allah, siapa pun ia, bagaimana mungkin akalnya bisa berpaling setelah mendengar seruan-Nya yang memerintahkan sesuatu atau larangannya terhadap sesuatu.?

Dan firman-Nya, “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kamu”***; merupakan peringatan lain yang begitu serius kepada kaum Mukminin agar jangan sekali-kali meninggalkan keta’atan kepada Allah dan Rasul-Nya, meninggalkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar yang mengakibatkan kejahatan semakin menyebar dan kerusakan merajalela, lalu karenanya Allah timpakan bencana yang merata; menimpa orang-orang yang shalih dan Thalih (kebalikan orang shalih), orang yang berbuat kebajikan dan orang yang bejad (fajir),****orang yang zhalim dan orang yang berlaku adil.

Firman-Nya, “Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”; ini memperkuat peringatan sebelumnya bahwa Allah Ta’ala bila menimpakan azab karena perbuatan dosa dan maksiat, maka azabnya amat pedih dan keras, tidak mampu jiwa menanggungnya. Karena itu, hendaklah kaum Mukminin berhati-hati terhadap hal itu dengan senantiasa melakukan keta’atan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Firman-Nya, “Dan ingatlah (hai para muhajirin), ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Medinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur”; ini adalah wejangan Rabbani bagi orang-orang Mukmin yang berinteraksi dengan dakwah Islamiyyah di hari-hari pertamanya (pertama munculnya dakwah Islamiyyah). Rabb mereka mengingatkan kondisi mereka terdahulu yang serba kekurangan dan lemah, yang takut diculik orang-orang kafir karena mereka hanya minoritas dan kaum lemah, lalu Dia menolong mereka dengan tentara-Nya sehingga mereka menjadi mulia setelah sebelumnya hidup dalam kehina-dinaan dan menjadi kaya setelah sebelumnya melarat dan tidak memiliki apa-apa (papa). Dia juga menganugerahi mereka rizki dari yang baik-baik untuk memuliakan mereka sebagai peringatan kepada mereka agar bersyukur sebab orang yang hidup dalam kondisi tersebut dan merasakannya pastilah akan mensyukuri nikmat. Syukur adalah memuji al-Mun’im (Pemberi nikmat), menyanjung-Nya, berbuat ta’at kepada-Nya, mencintai-Nya dan menyalurkan nikmat tersebut di jalan yang diridlai-Nya. Allah Maha Mengetahui bahwa mereka telah bersyukur. Semoga Allah meridlai dan membuat mereka ridla serta mendampingkan kita dengan mereka dalam kondisi sabar dan bersyukur. (Ays)

Tafsir Syaikh as-S’ady Terhadap Ayat 25

Firman-Nya, “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kamu”; yakni bahkan menimpa pelaku kezhaliman dan orang selainnya, hal ini terjadi bila kezhaliman sudah begitu nyata, namun tidak dirubah sehingga siksaan-Nya mencakup pelakunya dan orang selainnya. Cara memelihara diri dari fitnah (siksaan) ini adalah dengan mencegah kemungkaran, melibas pelaku kejahatan dan kerusakan dengan tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk berbuat maksiat dan berbuat zhalim sebisa mungkin.

Firman-Nya, “Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”; yakni bagi orang yang sengaja menantang kemarahan-Nya dan bersimpangan dengan hal yang diridlai-Nya. (Tys)

Petunjuk Ayat

Di antara petunjuk ayat-ayat di atas adalah:
1. Kewajiban untuk bersegera memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya*****dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, karena hal itu merupakan bagian dari kehidupan seorang Muslim.

2. Wajibnya menggunakan kesempatan untuk berbuat baik sebelum waktunya lewat; kapan saja seorang Mukmin mendapatkan kesempatan itu, maka ketika itu wajib baginya untuk memanfa’atkannya dengan sebaik-baiknya.

3. Wajibnya beramar ma’ruf nahi munkar untuk memelihara diri dari fitnah-fitnah yang bersifat umum, yang dapat membinasakan orang yang berbuat adil dan orang yang berlaku zhalim.

4. Wajibnya mengingat nikmat untuk mensyukurinya dengan cara berbuat ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya.

5. Wajibnya mensyukuri semua nikmat dengan memuji Allah, menyanjung-Nya, mengakui anugerah nikmat-Nya pada dirinya serta mengaplikasikannya dengan cara yang sesuai dengan apa yang diridlai-Nya. (Ays)

CATATAN:
* Dalam ayat tersebut terdapat dalil bahwa kekufuran dan kebodohan ibarat kematian yang bersifat maknawi (non fisik) bagi manusia sebab dengan keimanan dan ilmu terjadi kehidupan dan dengan lawan keduanya terjadi kematian.

** Lebih dari seorang periwayat meriwayatkan dari Nabi SAW, sabda beliau, “Allaahumma Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbii ‘Ala Diinik (Ya Allah, Wahai Yang membolak-balikkan setiap hati, mantapkanlah hatiku di atas dien-Mu) .” Dalam riwayat Muslim dinyatakan, “Allaahumma Musharrifal Quluub, Sharrif Quluubana Ila Thaa’atik (Ya Allah, Yang merubah setiap hati, rubahlan setiap hati kami kepada berbuat ta’at kepada-Mu) .”

*** Mengenai ayat ini, Ibn ‘Abbas berkata, “Allah memerintahkan kepada kaum Mukminin agar tidak mendiamkan saja kemungkaran terjadi di sekitar mereka sehingga azab tidak menimpa secara merata kepada mereka. Di dalam Shahih Muslim dari Zainab binti Jahsy bahwasanya ia bertanya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan dibinasakan padahal ada orang-orang shalih di tengah kami.?” Beliau menjawab, “Ya, bila keburukan telah demikian banyak.”

**** Imam Ahmad meriwayatkan dari Ummu Salamah, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Bila perbuatan-perbuatan maksiat di tengah umatku telah nyata, maka Allah akan menimpakan azab-Nya kepada mereka secara merata.” Ia berkata, “Lalu aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bukankah di tengah mereka itu ada orang-orang yang shalih.?’ Beliau menjawab, “Benar.” Ia berkata lagi, “Bagaimana jadinya mereka.?” Beliau bersabda, “Apa yang menimpa orang-orang menimpa mereka juga, kemudian nasib akhir mereka mendapatkan ampunan dan keridlaan dari Allah.”

***** Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Sa’id bin al-Ma’ally, dia berkata, “Pernah ketika aku sedang shalat di Masjid, lalu dipanggil oleh Rasulullah SAW namun aku tidak menjawabnya, kemudian barulah aku mendatanginya seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku barusan dari shalat di Masjid.” Lalu beliau bersabda, “Bukankah Allah Ta’ala berfirman, ‘Penuhilah pangglan Allah dan Rasul bila ia mengajakmu kepada hal yang dapat menghidupkanmu.?” …selanjutnya beliau (al-Bukhary) menyebutkan teks haditsnya.

Para ulama berkata, “Dalam kasus ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa perbuatan yang bersifat wajib atau ucapan yang bersifat wajib bila dilakukan di dalam shalat, tidak membatalkannya.”

SUMBER:
-Aysarut Tafaasiir Li Kalaamil ‘’Aliiyyil Kabiir karya Syaikh al-Jazairy (disingkat: Ays)
-Taysiirul Kariimir Rahmaan Fii Tafsiir Kalaamil Mannaan karya Syaikh Nashir as-Sa’dy (disingkat: Tys) / alsofwah

0 komentar:

Poskan Komentar

top