(Dikutip dari Adl-Dhiyâul Lâmi‘ Minal Khuthâbil Jawâmi“, 
karya Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimîn, 6/264-269.)
 Wahai kaum Muslimin,

Marilah kita bertakwa kepada Allâh Ta’ala dan menghafal wasiat Nabi
 Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam kepada Ibnu Abbâs radhiyallâhu'anhu (anak paman beliau). ‘Abdullâh bin Abbâsradhiyallâhu'anhu berkata, “Suatu hari aku berada (membonceng) di belakang RasulullâhShallallâhu 'Alaihi Wasallam. Beliau bersabda kepadaku,
Wahai bocah, aku akan mengajarimu beberapa kalimat;
 
Jagalah Allâh, niscaya Allâh Ta’ala akan menjagamu;
Jagalah Allâh, pasti kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu. 
Kenalilah Allâh di saat lapang, niscaya Dia akan mengenalimu ketika sempit.

Jika kamu memohon, maka memohonlah kepada Allâh. 
Jika kamu meminta pertolongan, maka mintalah kepada Allâh. 

Ketahuilah bahwa sekiranya semua makhluk berkumpul 
untuk memberikan suatu manfaat kepadamu,
niscaya mereka tidak akan bisa memberikan kamu manfaat 
kecuali apabila hal itu telah ditakdirkan kepadamu.

Dan sekiranya mereka berkumpul untuk mendatangkan suatu bahaya kepadamu, 
niscaya mereka tidak kuasa mendatangkan bahaya itu kepadamu, 
kecuali apabila hal itu telah ditakdirkan untukmu. 

Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering. 
Maka, apa saja yang ditakdirkan menimpamu, pasti tidak akan luput darimu 
dan apa saja yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu. 

Ketahuilah, sesungguhnya bersama kesabaran ada kemenangan 
dan bersama musibah ada jalan keluar dan setelah kesulitan ada kemudahan.[1]

Wasiat yang agung ini hendaklah dihafal dan diamalkan oleh seorang Muslim, karena dengan mengamalkannya akan mendatangkan kebahagiaan dan keselamatan.
Wasiat yang pertama, adalah menjaga Allâh Ta’ala, sebagaimana sabda Beliau, “Jagalah Allâh”, maksudnya adalah menjaga agama dan ketentuan-ketentuannya, dengan cara menjaga ketaatan dan menegakkan hukum-hukumnya. 

Jika hukum-hukum tersebut berupa kewajiban, dia tidak melanggarnya dan jika hukum-hukum itu berupa hal-hal yang diharamkan, dia meninggalkan dan menjauhinya. Maka, siapa yang menjaga Allâh Ta’ala, Allâh Ta’ala akan menjaganya, menjaga agama, keluarga dan hartanya.

Menegakkan ketaatan kepada Allâh Ta’ala adalah salah satu sebab agama seorang hamba akan terjaga hingga meninggal dunia, juga merupakan sebab keluarga seorang hamba terjaga saat mereka hidup dan setelah meninggal dunia. Sehingga, hal-hal yang tidak dikehendaki pun tidak terjadi pada mereka. Sebagaimana firman Allâh Ta’ala:

“... sedang ayahnya adalah seorang yang shaleh ....”
(Qs al-Kahfi/18:82)
Keduanya dijaga oleh Allâh Ta’ala karena ayahnya. Dan menjaga hukum-hukum Allâh Ta’ala menjadi sebab seorang hamba terjaga. 
Allâh Ta’ala berfirman:

"Barangsiapa bertakwa kepada Allâh niscaya Dia 
akan mengadakan baginya jalan keluar 
dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya."
(Qs ath-Thalâq/65:2-3)
Berapa banyak seseorang yang diberkahi hartanya dan diselamatkan dari berbagai macam musibah karena dia menjaga hukum-hukum Allâh Ta’ala.

Wasiat kedua, menjaga Allâh Ta’ala menyebabkan datangnya hidayah, sebagaimana sabda Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam :
“Jagalah Allâh, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu.”
Ini juga termasuk di antara faedah menjaga hukum-hukum Allâh Ta’ala bagi seorang hamba. Dia akan mendapati Allâh Ta’ala di hadapannya, memberinya hidayah kepada kebaikan dan memudahkan semua urusannya. Sehingga, semua urusannya menjadi mudah.

Wasiat ketiga, adalah menjaga Allâh Ta’ala di saat lapang. Sebagaimana sabda NabiShallallâhu 'Alaihi Wasallam :
Kenalilah Allâh di saat lapang, kelak Allâh akan mengenalimu di saat sempit.
Biasanya seseorang yang berada di saat lapang merasa gembira dan lupa dengan hukum-hukum Allâh Ta’ala. Ini yang biasanya terjadi pada kebanyakan orang. Sebagaimana sabda Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam :

"Dua nikmat yang sering menipu kebanyakan orang, 
yaitu kesehatan dan waktu luang."
(HR al-Bukhâri)
Adapun orang-orang yang diberi taufik oleh Allâh Ta’ala, mereka mengetahui bahwa keadaan seseorang tidak selamanya lapang. Setiap manusia pasti merasakan kesempitan baik kesempitan itu berupa kematian, meninggalkan harta, keluarga dan anak. Di saat lapang, mereka mengerjakan sesuatu yang kelak bisa mereka mintai pertolongan kepada Allâh Ta’ala di waktu sempit. Mereka mengenal Allâh Ta’ala dengan mengerjakan berbagai ketaatan.

Jadi, siapa yang mengenal Allâh Ta’ala di saat lapang, maka Allâh Ta’ala akan mengenalnya di saat sempit, dan kesempitan itu bisa berupa kekurangan, sakit, ataupun ketakutan. Dan kesempitan yang paling berat bagi seorang hamba adalah kematian.
 

Dalam keadaan ini, dia lebih membutuhkan kasih sayang Allâh Ta’ala dan rahmat-Nya. Pada keadaan ini, terkumpul dua kesempitan, pertama, sakitnya meninggal dunia, meninggalkan keluarga, anak dan harta benda. Dan kedua, sakitnya sempitnya rasa sakit yang dia alami pada waktu itu, beratnya ujian dan mempertahankan iman. Sesungguhnya setan sangat bersemangat untuk menggelincirkan hamba pada saat ini. Karena, itu adalah saat yang menentukan kebahagian dan kecelakaan seseorang.

Terkadang ditawarkan kepada seorang hamba agama Yahudi, Nasrani, atau lainnya dan pada saat itu sebagai fitnah baginya. Jika dia telah mengenal Allâh Ta’ala di saat lapang, maka Allâh Ta’ala akan mengenalnya di saat sempit. Allâh Ta’ala akan memberikan keteguhan kepadanya dan memberikan husnul khatimah (akhir hidup yang baik) baginya. Ya Allâh, jadikanlah akhir hidup kami husnul khâtimah.

Wasiat yang keempat dan kelima, memohon dan meminta pertolongan hanya kepada Allâh Ta’ala, sebagaimana sabda Beliau,
Apabila kamu memohon, memohonlah kepada Allâh, dan apabila kamu meminta pertolongan, minta pertolonganlah kepada Allâh.
Barang siapa yang ingin dipenuhi hajatnya, hendaknya dia meminta kepada Allâh Ta’ala. Dalam hadits disebutkan,
Mintalah karunia dari Allâh Ta’ala. Sesungguhnya Allâh senang dimintai doa.

Rasulullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam membaiat sejumlah para Sahabat agar mereka tidak meminta-minta kepada manusia sedikitpun. Di antara mereka ada yang cemetinya atau tali untanya jatuh dan dia tidak minta seorangpun mengambilnya.

KHUTBAH KEDUA

Setelah menyampaikan wasiatnya, selanjutnya Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam menjelaskan bahwa seluruh manusia tidak akan mampu memberikan manfaat dan madharat kecuali apabila telah ditakdirkan oleh Allâh Ta’ala dan semua yang telah ditakdirkan oleh Allâh Ta’ala pasti akan terjadi karena semua urusan telah selesai.

Beliau
 Shallallâhu 'Alaihi Wasallam juga memberikan wasiat bahwa setelah kesabaran ada kemenangan. Siapa yang sabar, dia akan menang dan memperoleh harapannya. Sesungguhnya setelah musibah itu ada jalan keluar. Apabila musibah menimpa kita dan kita merasakan kesempitan, maka ingatlah Allâh Ta’ala dan tunggulah jalan keluarnya. Sesungguhnya pertolongan Allâh Ta’ala itu dekat. Dan setelah kesulitan itu ada kemudahan.

Wahai kaum Muslimin, inilah wasiat Nabi
 Shallallâhu 'Alaihi Wasallam kepada anak pamannya. Marilah kita hafal dan kita laksanakan agar kita mendapat keberuntungan.

Allâh Ta’ala berfirman:

"Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, 
yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, 
yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar 
dan yang memelihara hukum-hukum Allâh, 
dan gembirakanlah orang-orang Mukmin itu."
(Qs at-Taubah/9-112)
(Sumber: Majalah As-Sunnah Edisi 10/Thn. XIII/Muharram 1431H/Januari 2010M)

0 komentar:

Poskan Komentar

top