Ustadz Abdullah Taslim, M.A
Iman kepada hari Akhir/hari kemudian, yang berarti mengimani semua peristiwa yang diberitakan dalam ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terjadi setelah kematian, adalah salah satu rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap orang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan kebenaran agama-Nya.

Bahkan karena tingginya kedudukan iman kepada hari akhir, Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam banyak ayat al-Quran sering menggandengkan antara iman kepada-Nya dan iman kepada hari akhir. Hal ini dikarenakan, orang yang tidak beriman kepada hari akhir maka tidak mungkin dia beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sebab orang yang tidak beriman kepada hari akhir dia tidak akan mengerjakan amal shalih, karena seseorang tidak akan mengerjakan amal shalih, kecuali dengan mengharapkan balasan kemuliaan dan karena takut siksaan-Nya pada hari pembalasan kelak.

Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggambarkan sifat orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhir dalam firman-Nya,

“Dan mereka berkata, ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa (waktu).” (Qs. al-Jaatsiyah: 24)[1].
Kewajiban mengimani keberadaan telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Di antara perkara yang wajib diimani sehubungan dengan iman kepada hari akhir adalah keberadaan al-haudh (telaga) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai kemuliaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang pada hari Kiamat nanti orang-orang yang beriman dan mengikuti petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sewaktu di dunia akan mendatangi dan meminum air telaga yang penuh kemuliaan tersebut, semoga Allah ‘Azza wa Jalla memudahkan kita untuk meraih kemuliaan tersebut, amin.

Imam Ahmad bin Hambal berkata, “(Termasuk landasan pokok Islam adalah kewajiban) mengimani (keberadaan) telaga milik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari Kiamat, yang nanti akan didatangi oleh umat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam… sebagaimana yang disebutkan dalam banyak hadits yang shahih (dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).”[2]

Imam Abu Ja’far ath-Thahawi berkata, “al-Haudh (telaga) yang dengannya Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk diminum (airnya) oleh umat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam (pada hari Kiamat nanti) adalah hak (benar).”[3]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ketika menjelaskan perkara-perkara yang wajib diimani pada hari Kiamat, beliau berkata[4], “Pada hari Kiamat, (ada) telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akan didatangi (oleh umat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam)…barangsiapa yang meminum (air) telaga tersebut, maka dia tidak akan merasakan haus lagi selamanya.”[5]

Imam an-Nawawi mencantumkan hadits-hadits dalam Shahih Imam Muslim yang menyebutkan tentang telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bab: “Penetapan (keberadaan) telaga Nabi kita (Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam (pada hari kiamat nanti)….”[6]

Dalil-dalil yang menjelaskan keberadaan telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Hadits-hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan ini banyak sekali, bahkan mencapai derajat mutawatir (diriwayatkan dari banyak jalan sehingga tidak mungkin diingkari kebenarannya).

Imam Ibnu Katsir berkata, “Penjelasan tentang telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam – semoga Allah memudahkan kita meminum dari telaga tersebut pada hari Kiamat – (yang disebutkan) dalam hadits-hadits yang telah dikenal dan (diriwayatkan) dari banyak jalur yang kuat, meskipun ini tidak disukai oleh orang-orang ahlul bid’ah yang berkeraskepala menolak dan mengingkari keberadaan telaga ini….”[7]

Senada dengan ucapan di atas, imam Ibnu Abil ‘Izzi al-Hanafi menjelaskan, “Hadits-hadits (shahih) yang menyebutkan (keberadaan) telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencapai derajat mutawatir, diriwayatkan oleh lebih dari tiga puluh orang sahabat radhiallahu ‘anhum (dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)….”[8]

Di antara hadits-hadits tersebut adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya, setiap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki telaga (pada hari kiamat nanti), dan mereka saling membanggakan siapa di antara mereka yang paling banyak orang yang mendatangi telaganya (dari umatnya), dan sungguh aku berharap (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala), bahwa akulah yang paling banyak orang yang mendatangi (telagaku).”[9]

Juga sabda beliau dalam hadits lain, “Sesungguhnya, aku akan berada di depan kalian (ketika mendatangi telaga pada hari kiamat nanti) dan aku akan menjadi saksi bagi kalian, demi Allah, sungguh aku sedang melihat telagaku saat ini.”[10]

Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya, aku akan berada di depan kalian ketika mendatangi telaga (pada hari kiamat nanti), barangsiapa yang mendatanginya maka dia akan meminum airnya, dan barangsiapa yang meminumnya maka dia tidak akan merasakan haus lagi selamanya.”[11]

Gambaran tentang telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits yang shahih

- Barangsiapa yang meminum air telaga tersebut, maka dia tidak akan merasakan haus lagi selamanya, sebagaimana hadits yang tersebut di atas.

- Sumber air telaga tersebut adalah sungai al-Kautsar di surga yang Allah Subhanahu wa Ta’ala peruntukkan bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah kalian mengetahui apa al-Kautsar itu? Para sahabat menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahuinya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya al-Kautsar adalah sungai yang Allah Subhanahu wa Ta’ala janjikan kepadaku, padanya terdapat banyak kebaikan, dan (airnya akan mengalir ke) telagaku yang akan didatangi oleh umatku pada hari Kiamat (nanti)….’”[12]

Dalam hadits lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dialirkan pada telaga itu dua saluran air yang (bersumber) dari (sungai al-Kautsar) di surga….”[13]

- Adapun gambaran air telaga tersebut adalah sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Airnya lebih putih dari susu dan baunya lebih harum dari (minyak wangi) misk (kesturi).”[14] Dalam hadits lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan (rasanya) lebih manis dari madu.”[15]

- Gayung/timba untuk mengambil air telaga tersebut sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Gayung-gayungnya adalah seperti bintang-bintang di langit.”[16] Artinya: jumlahnya sangat banyak dan berkilauan seperti bintang-bintang di langit[17].

- Bentuk telaga tersebut adalah persegi empat sama sisi[18], sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang shahih[19].

Siapakah orang-orang yang terpilih mendatangi telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selalu mengikuti petunjuk yang beliau sampaikan, adapun orang-orang yang berpaling dari petunjuk beliau sewaktu di dunia, maka mereka akan diusir dari telaga tersebut.[20]

Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa ada orang-orang yang dihalangi dan diusir dari telaga yang penuh kemuliaan ini.[21] Karena, mereka sewaktu di dunia berpaling dari petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada pemahaman dan perbuatan bid’ah, sehingga di akhirat mereka dihalangi dari kemuliaan meminum air telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, sebagai balasan yang sesuai dengan perbuatan mereka.[22]

Imam Ibnu Abdil Barr[23] berkata, “Semua orang yang melakukan perbuatan bid’ah yang tidak diridhai Allah dalam agama ini akan diusir dari telaga Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam (pada hari Kiamat nanti), dan yang paling parah di antara mereka adalah orang-orang (ahlul bid’ah) yang menyelisihi (pemahaman) jamaah kaum muslimin, seperti orang-orang Khawarij, Syi’ah Rafidhah dan para pengikut hawa nafsu, demikian pula orang-orang yang berbuat zhalim yang melampaui batas dalam kezhaliman dan menentang kebenaran, serta orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar secara terang-terangan, semua mereka ini dikhawatirkan termasuk orang-orang yang disebutkan dalam hadits ini (yang diusir dari telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).[24]

Terlebih lagi orang-orang yang mengingkari keberadaan telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, seperti kelompok Mu’tazilah[25], mereka termasuk orang yang paling terancam diusir dari telaga ini.

Imam Ibnu Katsir berkata, “Penjelasan tentang telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam – semoga Allah memudahkan kita meminum dari telaga tersebut pada hari Kiamat – (yang disebutkan) dalam hadits-hadits yang telah dikenal dan (diriwayatkan) dari banyak jalur yang kuat, meskipun ini tidak disukai oleh orang-orang ahlul bid’ah yang berkeraskepala menolak dan mengingkari keberadaan telaga ini. Mereka inilah yang paling terancam untuk dihalangi (diusir) dari telaga tersebut (pada hari Kiamat)[26], sebagaimana ucapan salah seorang ulama salaf, “Barangsiapa yang mendustakan (mengingkari) suatu kemuliaan, maka dia tidak akan mendapatkan kemuliaan tersebut….”[27]

Imam Ibnu Abil ‘Izzi al-Hanafi berkata: “Semoga Allah membinasakan orang-orang yang mengingkari keberadaan telaga ini, dan alangkah pantasnya mereka ini untuk dihalangi dari mendatangi telaga tersebut pada hari (ketika manusia mengalami) dahaga yang sangat berat (hari Kiamat).”[28]

Penutup

Demikianlah penjelasan ringkas tentang telaga kemuliaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang kewajiban mengimaninya merupakan perkara penting yang berhubungan dengan iman kepada hari akhir dan merupakan salah satu prinsip dasar akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, yang tercantum dalam kitab-kitab akidah para imam Ahlus Sunnah.

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk dapat meraih semua kebaikan dan kemuliaan yang dijanjikan-Nya di dunia dan di akhirat kelak, sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar, Mahadekat, dan Maha Mengabulkan doa.

Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, M.A
Artikel www.manisnyaiman.com


[1] Lihat keterangan Syaikh al-‘Utsaimin dalam ”Syarhul ‘Aqiidatil Waasithiyyah” (2/528).
[2] Kitab “Ushuulus Sunnah” (hal. 3-4).
[3] Kitab “Syarhul ‘Aqiidatith Thahaawiyyah” (hal. 227).
[4] Kitab “Syarhul ‘Aqiidatil Waasithiyyah” (2/572).
[5] Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih yang akan kami sebutkan insya Allah.
[6] Kitab “Shahih Imam Muslim” (4/1791).
[7] Kitab “An-Nihayah fiil Fitani wal Malaahim” (hal. 127).
[8] Kitab “Syarhul ‘Aqiidatith Thahaawiyyah” (hal. 227).
[9] HR at-Tirmidzi (no. 2443) dan ath-Thabarani dalam “al-Mu’jamul Kabiir” (no. 6881), juga dari jalur lain (no. 7053) dari sahabat Samurah bin Jundub radhiallahu ‘anhu, hadits ini sanadnya lemah, akan tetapi diriwayatkan dari beberapa jalur yang saling menguatkan, sehingga hadits ini mencapai derajat hasan atau bahkan shahih, sebagaimana penjelasan Syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaaditsish shahiihah” (no. 1589).
[10] HSR al-Bukhari (no. 6218) dan Muslim (no. 2296) dari sahabat ‘Uqbah bin ‘Amir radhiallahu ‘anhu.
[11] HSR al-Bukhari (no. 6643) dan Muslim (no. 2290) dari sahabat Sahl bin Sa’ad as-Saa’idi radhiallahu ‘anhu.
[12] HSR Muslim (no. 400) dari sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu.
[13] HSR Muslim (no. 2300) dari sahabat Abu Dzar al-Gifaari radhiallahu ‘anhu.
[14] HSR al-Bukhari (no. 6208) dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhu.
[15] HSR Muslim (no. 2301) dari sahabat Tsauban radhiallahu ‘anhu.
[16] HSR al-Bukhari (no. 6208) dan Muslim (no. 2292) dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhu.
[17] Lihat keterangan Syaikh al-‘Utsaimin dalam ”Syarhul ‘Aqiidatil Waasithiyyah” (2/573).
[18] Lihat keterangan Syaikh Shalih Alu Syaikh dalam ”Syarhul ‘Aqiidatith Thahaawiyyah” (1/463).
[19] HSR Muslim (no. 2292) dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhu.
[20] Lihat keterangan Syaikh al-‘Utsaimin dalam ”Syarhul ‘Aqiidatil Waasithiyyah” (2/573).
[21] Riwayat Imam al-Bukhari (no. 6211) dan Muslim (no. 2304) dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu.
[22] Lihat keterangan Syaikh Shalih Alu Syaikh dalam ”Syarhul ‘Aqiidatith Thahaawiyyah” (1/468).
[23] Beliau adalah Yusuf bin Abdullah bin Muhammad bin Abdul Barr an-Namari al-Andalusi (wafat 463 H), Syaikhul Islam dan imam besar Ahlus Sunnah dari wilayah Magrib, penulis banyak kitab hadits dan fikih yang sangat bermanfaat. Biografi beliau dalam kitab “Tadzkiratul Huffaazh” (3/1128).
[24] Kitab “Syarh az-Zarqaani ‘Ala Muwaththa-il Imaami Maalik” (1/65).
[25] Lihat keterangan Syaikh Shalih Alu Syaikh dalam ”Syarhul ‘Aqiidatith Thahaawiyyah” (1/468).
[26] Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih di atas.
[27] Kitab “An-Nihayah Fiil Fitani wal Malaahim” (hal. 127).
[28] Kitab “Syarhul ‘Aqiidatith Thahaawiyyah” (hal. 229).

0 komentar:

Poskan Komentar

top