Gempa bumi Yogyakarta Mei 2006 adalah peristiwa gempa bumi tektonik kuat yang mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 27 Mei 2006 hari Sabtu kurang lebih pukul 05.55 WIB selama 57 detik. Gempa bumi tersebut berkekuatan 5,9 pada skala Richter. United States Geological Survey melaporkan bahwa gempa terjadi sebesar 6,2 pada skala Richter.[1]
Gempa susulan terjadi beberapa kali seperti pada pukul 06:10 WIB, 08:15 WIB dan 11:22 WIB. Gempa bumi tersebut mengakibatkan banyak rumah dan gedung perkantoran yang rubuh, rusaknya instalasi listrik dan komunikasi. Bahkan 7 hari sesudah gempa, banyak lokasi di Bantul yang belum teraliri listrik. Gempa bumi juga mengakibatkan Bandara Adi Sutjipto ditutup sehubungan dengan gangguan komunikasi, kerusakan bangunan dan keretakan pada landas pacu, sehingga untuk sementara transportasi udara dialihkan ke Bandara Achmad Yani Semarang dan Bandara Adisumarmo Solo.

Pada waktu itu penulis sedang mengikuti Kajian Al Qur’an & Hadits di rumah Ibu Hj Zuber Kohari, Jl.Sisingamangaraja (utara Pasar Telo) Yogyakarta. Kajian Qur’an tersebut rutin diselenggarakan setiap Sabtu pagi dari pukul 05.30 s/d pukul 06.30 WIB sudah berjalan cukup lama dan biasanya diisi oleh ustadz-ustadz dari Ponpes Taruna Al Qur’an.
 Dan pagi itu saat kejadian, saya bersama jamaah lainnya yang berjumlah sekitar 200 orang sedang tekun mendengarkan kajian yang disampaikan oleh Ustadz Umar Budihargo Lc. Tiba-tiba terjadi goncangan yang sangat kuat dan terlihat beberapa jamaah terlempar dari tempat duduknya (lesehan). Sontak kita berlari keluar dengan  ketakutan yang luar biasa sambil meneriakkan takbir dan tahmid. Dijalan terlihat beberapa pengendara sepeda motor terhempas dijalan akibat goncangan gempa yang begitu besar. Jalan aspal mengeluarkan asap mengepul menambah mirisnya hati saya yang duduk dipinggir jalan bersama ibu dan istri saya serta jamaah-jamaah lainnya. Setelah agak reda kita memutuskan untuk pulang kerumah di Mangkuyudan, kira 3 km dari tempat pengajian. Anak-anak dan saudara-saudara yang lain sudah berada diluar rumah, alhamdulillah mereka selamat semua.Kami tidak berani masuk rumah karena tidak bisa  mengetahui dengan jelas kondisi didalam.
 Dan selang beberapa saat kemudian dari arah timur di jalan Mangkuyudan banyak orang berlarian, pengendara motor yang berboncengan 2-3 orang serta mobil-mobil yang penuh sesak melintas, dan mereka pada berteriak “tsunami....tsunami.......air sudah sampai di jalan Parangtritis”. Masya Allah, penulis dan keluarga serta beberapa orang tetangga segera naik ke mobil Phanter (berisi sekitar 15 orang) langsung mengikuti arus kendaraan menuju kearah utara. Sampai di Plengkung Gading (pintu gerbang kraton sebelah selatan) kami berhenti, turun dan berlari menaiki Plengkung yang cukup tinggi dan luas, sambil terus memanjatkan doa.
Astaghfirullah,  ternyata “tsunami” tersebut hanya isu dan berkembang dari mulut kemulut. Segera kami kembali kerumah untuk melihat kondisi rumah, dan alhamdulillah rumah kami tidak rata dengan tanah tetapi ada beberapa bagian tembok yang retak bahkan ambruk.  
Korban yang meninggal akibat gempa di Jogja sekitar 5.716 orang sedang yang luka-luka 37.927 orang, dan dikampung Mangkuyudan beberapa orang meninggal dan luka-luka.
Malam harinya kami sekeluarga dan hampir seluruh warga Jogja, Bantul dan sekitarnya tidak berani tidur didalam rumah. Diluar rumah yang dingin, gerimis dan tanpa lampu penerangan kita semua tidur dan berjaga.

Musibah adalah suatu keniscayaan yang melanda semua manusia, baik secara perorangan maupun kelompok. Perasaan takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, sampai kekurangan buah-buahan yang dibutuhkan, selalu menyertai mereka yang terkena musibah.
''Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.'' (QS Al-Baqarah (2): 155-157).
Maka, bagaimana kita harus menyikapi musibah yang memang diluar kemampuan manusia untuk mengelolanya?
Pertama  : kita maknai bahwa peristiwa ini semua adalah semata-mata ujian dari sang maha kuasa atas seluruh alam semesta ini, dan ketika kita bisa melaluinya maka Allah akan menaikkan derajat keimanan kita.
Seperti sabda Rasulullah SAW, ''Siapa yang akan diberi limpahan kebaikan dari Allah, maka diberi ujian terlebih dahulu.'' (HR Bukhari Muslim).
Yang kedua : Semua ujian haruslah kita hadapi dengan kesabaran,karena kesabaran adalah sebuah tanda lulusnya sebuah ujian, seperti pada sebuah hadis : ''Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman seluruh perkaranya menjadi baik. Ketika ditimpa musibah dia bersabar, itu membawa kebaikan baginya. Dan ketika mendapatkan nikmat dia bersyukur dan itu membawa kebaikan baginya.'' (Al-Hadis).
Yang ketiga : Bahwa seberat apapun ujian yang berupa musibah alam raya ini, kita yakin Allah pasti sudah proprosional dalam mengujinya dan tidak akan melebihi dari kesanggupan dalam menjalaninya bagi  orang yang tertimpa.
''Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.'' (QS Al-Baqarah (2): 286.
Keempat   : Apapun bentuk musibah yang di derita oleh seorang muslim,baik itu berupa kesususahan, penderitaan maupun penyakit, Allah akan menghapus sebagian kesalahan dan dosa, dengan demikian derajat para korban bencana akan mulia, bagi yang meninggal dunia dia akan mati syahid dan bagi yang masih hidup tentunya dengan kesabaran atas penderitaan itu Allah akan hapus sebagian kesalahan dan dosa dosanya.
Semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa kita dan selalu memberikan hidayah . Amin.

0 komentar:

Poskan Komentar

top