MAKKAH (KRjogja.com) - Sambil menunggu jadwal kepulangan ke Tanah Air, banyak jamaah haji memanfaatkan waktu untuk melakukan umroh sunah. Apalagi ada hadis yang menyebutkan kalau pahala tujuh kali umroh sunah sama dengan sekali haji.
"Mumpung masih di sini. Harus kita manfaatkan sebaik-baiknya," kata Wahyu Priyatmo, warga Kasongan Permai, Banyon, Sewon, Bantul.
Untuk melaksanakan umroh memang harus keluar kota Makkah untuk mengambil miqot atau tempat menjatuhkan niat umroh.
Ada tiga tempat miqot. Terdekat di Masjid Aisyiyah di Tan’im yang jaraknya sekitar 10 km dari Masjidil Haram, tepatnya di jalan utama menuju Madinah. Sedang tarif angkutan dari sekitar Masjidil Haram sampai Tan'I'm rata-rata 5 riyal. Kalau PP berarti 10 riyal. Kalau 1 riyal Rp 2.500 berarti Rp 25.000.
"Tidak apa-apa kita mengeluarkan uang 10 riyal atau Rp 25 ribu. Sebab nanti kalau sudah pulang jika ingin umroh mbayarnya sampai lima belas juta rupiah," tambah Wahyu.
Kalau ingin murah bisa naik bus Saptco. Sekali jalan 2 riyal, sehingga kalau PP hanya 4 riyal. Bus ini tersedia nonstop 24 jam dengan terminal di Jarwal, dari Masjidil Haram sisi barat sekitar 500 meter. Tepatnya Hotel Dar Tauhid ke kanan.
Hanya saja bus ini diperuntukkan untuk umum. Jadi penumpangnya dari berbagai negara. Untuk membeli tiket harus antri dulu. Apalagi ketika akan masuk bus, harus berebutan berdesak-desakan dengan orang dari berbagai negara.
"Kalau naik bus Saptco cukup ngirit, tetapi kita dari pemondokan harus ke Masjidil Haram dulu. Kalau dari Bakhutmah bisa naik bus gratis," kata Masduki Zakaria, dosen Fak Teknik UNY yang sehari rata-rata umroh sunah dua kali.
Selain di Tan'I'm juga ada tempat miqot, yaitu di Ji'ronah yang jaraknya 25 km dari Masjidil Haram. Biaya naik angkutan ke sana kemudian ke Masjidil Haram sekitar 20 riyal. Masjidil Ji'ronah dulu digunakan tempat Rasullah dan pasukannya untuk beristirahat usai perang. Air sumurnya juga diyakini bisa menyembuhkan luka, karena dulu rombongan Rasullah membersihkan lukanya dengan air tersebut dan cepat sembuh. "Sekarang sumur Ji'ronah sudah ditutup," kata penjaga Masjid Ji'ronah.
Karena lokasi ini cukup jauh, jamaah hanya sekali-kali saja ambil miqot di sini. Meski satu orang hanya sekali, karena jamaahnya banyak maka Masjid Ji'ronah tidak pernah sepi dari aktifitas jamaah umroh.
Sedang paling jauh adalah di Hudaibiyah. Di masjid ini Rasullah pernah menandatangi perjanjian dengan kaum kafir ketika akan membuka Makkah, yang diberi nama Perjanjian Hudaibiyah. Biaya naik taksi ke sini 25 riyal.
Namun kalau mau ke tempat ini jamaah bisa berkunjung dulu ke peternakan unta. Di sepanjang pinggir jalan raya menjelang Masjid Hudaibiyah banyak peternak unta. Binatang ternak tersebut untuk diambil susunya. Bahkan kalau para pengunjung membeli langsung diperahkan, setelah itu langsunh diminum. Harganya setiap botol 300 ml 5 riyal.
"saya biasanya kalau minum susu eneg, tetapi ini kok tidak ya?" kata Hj Ummul Aiman, dosen Universitas Mercu Buana Yogyakarta yang warga Kasihan Bantul.
Di samping Masjid Hudaibiyah sekarang juga masih terdapat bekas masjid asli tempat ditandatanganinya perjanjian. Kini, bekas bangunan tersebut beberapa temboknya yang tebal masih berdiri, meski tidak utuh.
Usai dari Masjid Hudaibiyah sebenarnya juga bisa berkunjung ke Museum Ka'bah, karena jaraknya berdekatan. Hanya saja untuk berkunjung ke museum tersebut harus mengajukan surat permohonan dulu dengan rekomendasi dari Maktab. Setelah itu akan dijadwalkan jam kunjungnya.
Setelah itu tentu saja jamaah harus kembali ke Masjidil Haram untuk melakukan thawaf dilanjutkan sa'I diakhiri dengan tahalul atau memotong rambut. Setelah itu selesailah umroh sunah. (Fie) http://krjogja.com

0 komentar:

Poskan Komentar

top