Persangkaan kaum Nasrani bahwa Nabi Isa telah meninggal dibantah keras oleh Allah I di dalam Al Quran. Dalam banyak ayat Allah menerangkan bahwa Nabi Isa hanya diangkat ke sisi-Nya, kemudian di akhir zaman akan dikembalikan ke bumi sebagai tanda akan datangnya hari kiamat. Meski demikian banyak kaum Nasrani yang mendebat Al Quran dengan pernyataan-pernyataan mereka berikut ini:
Kaum Nasrani berpendapat, “Bagaimana mungkin kalian berpendapat bahwasanya dia tidak mati -meskipun pada dasarnya mereka meyakini bahwasanya Tuhan tidak mati, akan tetapi mereka hanya ingin berdebat saja, sementara di dalam kitab suci kalian disebutkan dalam surat Ali 'Imran ayat 55:

إِذْ قَالَ اللهُ يَاعِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“…..: Hai Isa, sesungguhnya Aku menyampaikan kepadamu hari ajalmu, dan mengangkatmu di sisi-Ku, dan Aku menyucikanmu dari orang-orang kafir, dan menjadikan para pengikutmu berada di atas orang-orang yang tidak beriman hingga hari kiamat…”

Mereka kemudian berargumen dua hal berdasarkan al-Quran:
1. Sesungguhnya dia mati, dan yang mati tidak akan pernah kembali. Bagaimana mungkin kalian berkata bahwasanya orang yang telah mati akan kembali lagi di akhir zaman nanti?
2. Di mana pun dan kapan pun, orang-orang yang mengikuti ajaran Isa q adalah orang yang paling baik.

Sanggahan Terhadap Pendapat Pertama: sesungguhnya kalimat “mutawaffiika” dalam konteks ayat tersebut bukanlah berarti “mematikan atau membuat sesuatu menjadi mati”, akan tetapi yang dimaksud dalam kalimat tersebut adalah menahan ruhnya saja. Di sini akan diutarakan beberapa ayat al-Quran yang menjelaskan hal tersebut:
وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُم بِالَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَاجَرَحْتُم بِالنَّهَارِ

“Dan Dia-lah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu lakukan pada siang hari.”(QS. al-An’ām: 60)

Kata “yatawaffaakum billaili” dalam ayat tersebut bermakna menidurkan di malam hari. Imam al-Qurthuby berpendapat bahwasanya kematian dalam konteks ayat tersebut bukanlah kematian yang sesungguhnya, tetapi hanya menahan roh untuk sementara waktu—di malam hari—. Ibnu Abbas a berpendapat sama seperti yang diutarakan Imam al-Qurthuby tetapi dengan redaksi yang berbeda: menahan ruh kalian di saat tidur.
Surat az-Zumar ayat 42:
اللهُ يَتَوَفَّى اْلأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ اْلأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لأَيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahan jiwa (orang) yang telah dia tetapkan kematiannya dan dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir”.

Allah menahan ruh manusia pada dua waktu, Pertama: orang yang telah sampai pada ajalnya dan mati. Kedua: orang yang belum sampai pada ajalnya, maka ruhnya akan dikembalikan pada jasadnya sampai pada waktu yang telah ditentukan; yaitu kematian yang telah ditakdirkan Allah I atas segala sesuatu yang hidup.
Jika demikian, maka kalimat mutawaffiika bermakna menahan ruhmu (Isa) dan mengangkatmu di sisi-Nya, menyucikanmu dari orang-orang kafir. Dan hal ini tidak dikatakan selain kepada Isa dengan alasan Isa tidak mati, dan dia akan kembali ke dunia sebagai tanda hari akhir akan datang. Allah I berfirman untuk menguatkan hal tersebut dalam surat An Nisa’ ayat 157-159:
“Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”. Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh) ialah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar berada dalam keraguan tentang yang dibunuh. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapakah yang telah mereka bunuh, kecuali mengikuti prasangka belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi sebenarnya Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan Allah-lah yang Maha Pengasih lagi Maha Bijaksana”

Allah I juga berfirman dalam surat az-Zukhruf ayat 61,
“Dan sesungguhnya Isa benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu tentang kiamat…”
Dalam ayat ini dijelaskan bahwasanya kembalinya Isa q ke dunia adalah tanda-tanda bahwasanya kiamat semakin dekat.

Sanggahan Terhadap Pendapat Kedua: orang-orang yang mengikuti al-Masih q adalah orang yang percaya bahwasanya dia adalah seorang Nabi, utusan, manusia biasa, dan sebagai hamba Tuhan, bukan mempercayainya sebagai Tuhan yang memelihara dan Tuhan yang menguasai. Disebutkan dalam surat Maryam ayat 30-32, Isa berkata ketika Ibunya memberi isyarat kepadanya:
“Sesungguhnya aku adalah hamba Allah, Dia memberiku al-Kitab dan Dia menjadikanku seorang Nabi, dan Dia menjadikanku orang yang diberkati di mana pun aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.”

Kaum Nasrani berpendapat bahwasanya Isa q adalah yang Maha Satu yang dilahirkan tanpa ayah, bahkan titisan dan atau anak Allah. Jawabannya ada pada ayat lain yang menyatakan bahwasanya Adam q diciptakan oleh Allah dengan meniupkan ruh kepadanya. Allah I berfirman dalam surat al-Hijr ayat 29 dan surat Shaad ayat 72:
“Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan kutiupkan kepadanya ruh-Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya”.

Allah juga berfirman dalam surat Sajadah ayat 9:
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)-nya ruh-Nya… ”

Maka berdasarkan ayat ini, semua ruh kita adalah bagian dari ruh-Nya. Maka apakah kita adalah anak Tuhan? Kita tidak meragukan lagi bahwasanya Isa q adalah hamba-Nya.
Kita katakan kepada orang-orang yang kagum akan kelahiran Isa q tanpa seorang ayah:
"Sesungguhnya Nabi Adam q diciptakan tanpa ayah dan ibu, dan peristiwa tersebut tentu lebih mengejutkan lagi. Urusan Allah sangatlah luas. Tidak ada lagi hal yang mustahil bagi-Nya, karena Allah I telah menjelaskan bahwa Nabi Isa q diciptakan sebagaimana Nabi Adam q diciptakan, dan Allah melakukan apa yang Dia kehendaki. Penciptaan Isa q hampir sama dengan penciptaan Adam q. Nabi Adam q diciptakan dari tanah kemudian Allah berfirman “kun" (jadi) maka kemudian jadilah.

0 komentar:

Poskan Komentar

top